Pulang ke Kaliorang: Rumah, Rindu, dan Ritual

NM. Adnyani

Di rumah adik, di daerah trans Baru, nama jalannya jalan Terkini

Kecamatan Kaliorang, Kutai Timur – Kalimantan Timur

Perjalanan ke Kaliorang awal April ini tidak dimulai dengan kesiapan, melainkan dengan keraguan. Tanggal 1 April 2025, aku bangun terlambat, masih menggantung antara jadi berangkat atau tidak. Isu keamanan perjalanan dengan travel membuatku cemas, dan kondisi tubuh yang belum sepenuhnya fit membuat suamiku melarangku membawa kendaraan sendiri. Tapi anak-anak—dengan semangat mereka yang polos dan jujur—membuatku luluh. Mereka begitu bersemangat untuk pulang kampung, dan semangat itu menular.

Akhirnya, meski tanpa rencana yang matang, kami berangkat. Semua barang bawaan sudah disiapkan sebelumnya. Tepat pukul 12 siang, kami melaju, menyusuri jalan panjang menuju Kaliorang. Kali ini, dua kucing kesayangan kami, Koyen dan Krim, juga ikut dalam perjalanan. Dalam waktu lima jam tanpa henti, kami tiba. Jalanan sepi, dan mungkin itu yang mempercepat laju kami. Ini adalah kali kedua aku menyetir sendiri ke Kaliorang—perjalanan yang menuntut keberanian, namun juga membawa ketenangan.

Seperti biasa, aku membawa oleh-oleh: boneka-boneka untuk anak-anak di kampung, sepiring telur, bahan sayuran, dan empek-empek ikan tenggiri khas Bontang. Pulang ke kampung selalu terasa belum lengkap tanpa membawa sesuatu untuk dibagikan. Mungkin karena bagiku, memberi adalah bagian dari upaya menjaga hubungan—dengan keluarga, dengan kampung halaman, juga dengan diri sendiri.

Selama di Kaliorang, hari-hariku kuisi dengan mengunjungi rumah kakak, adik, paman, dan ipar. Di antara pertemuan itu, aku juga menyiapkan sesajen di rumah dan mengikuti rutinitas yang kini menjadi bagian dari identitasku—melakukan homa setiap sore bersama Ibu. Api yang kami nyalakan di altar bukan sekadar nyala fisik, tapi juga simbol cahaya batin, harapan, dan penghormatan.

Mereka lagi sangkep, para kelian banjar masyarakat bocil

Bagi anak-anakku, Kaliorang adalah dunia kecil yang penuh warna. Saat sepupu-sepupu mereka datang dan menginap, rumah berubah menjadi ruang riuh penuh tawa dan cerita. Namun menariknya, setiap pertemuan selalu diawali dengan keheningan yang canggung—tidak ada sapa, hanya diam dan pandang-pandangan malu-malu. Tapi satu atau dua jam kemudian, suasana mencair. Mereka bermain, tertawa, dan berbagi cerita hingga larut malam, seperti tidak pernah berpisah.

Salah satu momen paling berkesan bagi mereka adalah kegiatan Bhajan setiap hari Kamis di Ashram. Di sana, mereka menyanyikan lagu-lagu pujian untuk Guru dan Dewi, mengikuti alunan musik spiritual yang membawa kedamaian. Dalam rangkaian Bhajan itu, selalu ada meditasi cahaya—sebuah jeda hening yang menyatukan batin dalam keheningan kolektif. Ditutup dengan permohonan vibhuti, kegiatan ini menjadi pengalaman spiritual yang sangat berharga. Komunitas Bhajan seperti ini hanya ada di Kaliorang—sebuah oase rohani di tengah Kalimantan Timur.

Kaliorang bukan hanya tempat. Ia adalah ruang dalam diriku yang selalu mengingatkan akan akar, akan api, akan cinta yang tidak banyak bicara tapi terus menyala. Di sana, pulang bukan soal kembali ke lokasi, tapi soal kembali pada diri sendiri.

Dan dalam setiap perjalanan pulang, aku belajar lagi arti sederhana dari kehidupan: rumah yang menerima tanpa syarat, rindu yang menyambut diam-diam, dan ritual yang menjaga nyala jiwa tetap hidup.

Terima kasih telah menyempatkan waktu membaca catatan perjalananku ke Kaliorang—sebuah perjalanan yang mungkin sederhana, tapi menyimpan banyak makna bagi jiwa. Mungkin kamu juga punya kampung halaman yang memanggilmu diam-diam, atau punya kenangan akan ritual dan kebersamaan yang menghangatkan hati. Tulisan ini adalah undangan untuk kita semua: untuk pulang, ke tempat yang menenangkan, ke orang-orang yang mencintai kita, dan ke sisi batin yang sering kita abaikan di tengah hiruk pikuk dunia.

Jika kamu punya cerita pulangmu sendiri, aku akan senang sekali jika kamu membaginya. Karena setiap cerita tentang pulang, pada akhirnya adalah cerita tentang menjadi manusia.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Diterbitkan oleh Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai