Andalan

RPP BLENDED LEARNING PENDIDIKAN AGAMA HINDU

Andalan

KARYA SISWA JILID 3 : BERMAIN PERAN

sebagai pendidik, saya berusaha mengeksplorasi bakat anak – anak didik saya agar mereka memiliki atau memunculkan karakter mereka, kreatifitas mereka dan yang terpenting mereka akan terlatih menghadapi berbagai situasi dalam hidup mereka.

bermain peran adalah melatih kecerdasan emosi kita. manusia itu sangat kompleks, sehingga model dan metode yang digunakan dalam mencapai tujuan pembelajaran juga beragam

berikut saya lampirkan beberapa drama yang kami kerjakan bersama

  1. Tilopa dan Naropa

naskah : https://adnyaninatha.com/2015/11/19/tilopa-dan-naropa/

Bagian 1 : Tilopa dan Naropa Bagian 1

Bagian 2 : Tilopa dan Naropa Bagian 2

Bagian 3 : Tilopa dan Naropa Bagian 2

 

2. Gayatri Sadhana

naskah : https://adnyaninatha.com/2016/05/23/cinta-yang-mencerahkan-gayatri-sadhana-laku-spiritual-bagi-orang-modern/

Bagian 1 : https://youtu.be/BixwD1VlEMU

Bagian 2 : https://youtu.be/9B51Fu96U3Q

Bagian 3 : https://youtu.be/KM1IXe6F7vM

 

semoga bermanfaat

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

KESADARAN TUMBUH BERTAHAP

Meditasi pertama adalah untuk memisahkan dirimu dari badan atau tubuh. Lalu perlahan-lahan ketika engkau sudah terbiasa, sudah mahir mengamati badanmu, mulailah mengamati pikiranmu (thoughts) yang terus menerus berlangsung di dalam bathin (mind). Tapi pertama-tama amatilah badan, karena badan sifatya kasar, lebih mudah untuk diamati, tidak membutuhkan terlalu banyak kesadaran. Begitu engkau mahir mengamati tubuh, lalu mulai dengan mengamati bathin (pikiran/mental).

Apa pun yang bisa diamati menjadi terpisah dari dirimu. Apa pun yang dapat engkau saksikan, engkau bukanlah itu. Engkau adalah kesadaran yang menyaksikan. Yang disaksikan adalah objek, engkau adalah sang subyek. Sang badan dan juga bathin (pikiran/mental) tetap jauh ketika enggkau menjadi sebagai penyaksi. Sesegera itu engkau ada disitu dikeadaan itu, tanpa badan, tanpa pikiran, sebagai suatu kesadaran yang murni, suatu kemurnian, suatu kepolosan, bagai sebuah cermin.

Dalam kepolosan ini, untuk pertama kalinya engkau mengetahui siapa dirimu. Dalam kemurnian ini, untuk pertama kalinya segala sesuatu ini menjadi hidup,kehidupan. Untuk pertama kalinya engkau benar-benar ada. Sebelum hal ini terjadi, engkau benar-benar tertidur dan bermimpi, sekarang adalah dirimu yang sejati, sebenar-benarnya dirimu. Dan ketika engkau adalah sebenar-benarnya engkau, dirimu yang sejati, tidak lagi ada kematian. Dan engkau tahu engkau akan menyaksikan kematian (badan)mu juga.

Seseorang yang telah mampu menyaksikan kehidupan juga akan mampu menyaksikan kematian. Karena kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Kematian adalah puncak dari kehidupan. Puncak utama yang tertinggi dari kehidupan. Kehidupan mencapai puncaknya di kematian. Karena engkau ketakutan, engkau melewatkan puncak itu. Jika engkau tidak ketakutan, kematian akan menjadi puncak orgasme tertinggi dari kehidupan.

%d blogger menyukai ini: