KARYA SISWA JILID 3 : BERMAIN PERAN

sebagai pendidik, saya berusaha mengeksplorasi bakat anak – anak didik saya agar mereka memiliki atau memunculkan karakter mereka, kreatifitas mereka dan yang terpenting mereka akan terlatih menghadapi berbagai situasi dalam hidup mereka.

bermain peran adalah melatih kecerdasan emosi kita. manusia itu sangat kompleks, sehingga model dan metode yang digunakan dalam mencapai tujuan pembelajaran juga beragam

berikut saya lampirkan beberapa drama yang kami kerjakan bersama

  1. Tilopa dan Naropa

naskah : https://adnyaninatha.com/2015/11/19/tilopa-dan-naropa/

Bagian 1 : Tilopa dan Naropa Bagian 1

Bagian 2 : Tilopa dan Naropa Bagian 2

Bagian 3 : Tilopa dan Naropa Bagian 2

 

2. Gayatri Sadhana

naskah : https://adnyaninatha.com/2016/05/23/cinta-yang-mencerahkan-gayatri-sadhana-laku-spiritual-bagi-orang-modern/

Bagian 1 : https://youtu.be/BixwD1VlEMU

Bagian 2 : https://youtu.be/9B51Fu96U3Q

Bagian 3 : https://youtu.be/KM1IXe6F7vM

 

semoga bermanfaat

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

Iklan
Dipublikasi di Materi Pelajaran, Media Pembelajaran, My Life Note, Pasraman Widya Bhuana, Pendidikan agama Hindu | Tag , , , | Meninggalkan komentar

NYEPI & TAHUN BARU SAKA 1940: MEMBANGUN PERSAUDARAAN MELALUI KREATIVITAS Sebuah Refleksi Pawai Ogoh-Ogoh dan Budaya Nusantara Tahun 2018

 IMG_9074.JPG

Sumber gambar: FG_MA

We must live together as brothers or perish together as fool, Kita harus hidup bersama sebagai saudara atau binasa bersama sebagai orang bodoh. Demikian Martin Lutter King mengungkapkan. Ungkapan ini memberi makna pentingnya hidup bersama sebagai saudara agar kita tidak tercerai berai dan binasa bersama. Persaudaraan kita mesti dibangun diatas landasan kasih sayang dan bukan pada landasan kepentingan. Persaudaraan yang didasari kasih sayang membawa persaudaraan menjadi penuh warna keindahan dan keunikan. Sementara persaudaraan yang dibangun diatas landasan kepentingan akan memunculkan perpecahan, dan kekecewaan. Ketika tiada kepentingan maka tiada pula persaudaraan.

Persaudaraan tidak dapat dibangun diatas kata-kata dan konsep. Persaudaraan mesti diwujudnyatakan. Umat Hindu Kota Bontang bergerak dan merancang sebuah agenda ritun tahunan berupa Pawai Ogoh-ogoh dan Budaya Nusantara. Sebagai masyarakat pendatang umat Hindu ingin hadir sebagai anugrah yang mampu menjadi pelopor persatuan umat manusia.

IMG_9089.JPG

Sumber gambar: FG_MA

Pawai Ogoh-ogoh dan Budaya nusantara yang dilaksanakan pada hari Minggu, 11 Maret 2018 ini bertujuan melestarikan Budaya Nusantara yang ada di Kota Bontang, membangun sinergi atar komunitas, menciptakan rasa persaudaraan, dan meningkatkan kreatifitas. Beberapa komunitas yang terlibat diantaranya Bontang Ontel Community, JBI (motor custom), Paguyuban Wahyu Budoyo, Paguyuban Kesenian Arema, Paguyuban Bojonegoro, Kuda Lumping Ryo Manggolo Putro, Paguyuban Warga Kediri, Turonggo Galih Saputro, Putra Birawa, Ika Pakarti, Paguyuban Wargi Sunda, Duta Peduli Sampah dan di tutup dengan arak-arakan Ogoh-ogoh dan Bleganjur Umat Hindu Bontang.  Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Walikota Bontang, Bapak Basri Rase yang kemudian dirangkai dengan deklarasi “Anti Hoax”. Dalam sambutannya Wawali berbangga atas tolerasi dan silodaritas yang dibangun oleh umat Hindu Kota Bontang dan komunitas budaya lainnya. Dalam situasi politik seperti saat ini upaya memperkuat persatuan dan tolerasi sangat penting. Deklarasi Hoax bertujuan mengajak para peserta pawai untuk terus waspada terhadap berita-berita yang tidak benar dan menggiring pada perpecahan.

Ogoh-ogoh diperkirakan dikenal sejak jaman Dalem Balingkang. Dimana pada saat itu ogoh-ogoh digunakan dalam upacara Pitra Yajna, upacara penghormatan kepada leluhur. Sumber lain juga menyebutkan bahwa ogoh-ogoh tersebut terinspirasi dari Tradisi Ngusaba Ndong-Nding di Desa Selat Karangasem. Perkiraan lain juga muncul dan menyebutkan Barong Landung yang merupakan perwujudan dari Raja Jaya Pangus dan Putri Kang Cing Wei (pasangan suami istri yang berwajah buruk dan menyeramkan yang pernah berkuasa di Bali) merupakan cikal-bakal dari munculnya ogoh-ogoh yang kita kenal saat ini.

Ogoh – ogoh biasanya berbentuk patung yang besar dan menyeramkan dan di buat dari bahan yang ringan seperti gabus atau stereofoam. Pembuatan ogoh-ogoh inilah mempererat persatuan antar pemuda serta menciptakan kreatifitas. Ogoh-Ogoh memiliki peranan sebagai penetralisir kekuatan-kekuatan negative atau kekuatan Bhuta (kekuatan Alam) termasuk sifat-sifat negative pada diri manusia. Ogoh-ogoh diarak keliling desa untuk mengingatkan masyarakat bahwa negativitas seperti penyakit masyarakat mesti dihindari bersama-sama.

Kegiatan yang di prakarsai oleh PHDI Kota Bontang melalui organisasi Pemuda Hindu (Peradah Kota Bontang) ini adalah kegiatan swadaya masyarakat. Keterlibatan setiap komunitas didorong oleh rasa persaudaraan dan kecintaan terhadap budaya serta ajang menunjukkan kreatifitas. Agenda rutin ini juga dalam rangka memperingati perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1940 yang jatuh pada Sabtu, 17 Maret 2018. Dimana Nyepi di sebut sebagai Silent Day. Hari yang sepi. Masyarakat Hindu menyepi. Mereka melaksanakan catur Brata Penyepian yaitu Tidak Bekerja, Tidak Bepergian, Tidak menyalakan Api/Lampu, dan tidak menikmati hiburan sebagai mana biasanya. Satu hari dalam setahun, masyarakat Hindu nusantara melakukan refleksi, perenungan dan instrokpeksi diri. Nyepi juga di sebut sebagai hari untuk mempraktikkan kotemplasi dan meditasi. Dimana pada hari ini resolusi baru diciptakan dalam keadaan Deep Silent. Dalam keadaan sepi dan sunyi yang mendalam.

Mengapa resolusi mesti diciptakan dalam keadaan sepi dan sunyi? Sebagaimana Lao Tzu mengatakan bahwa Silent is a source of great Strength. Sunyi/sepi adalah sebuah sumber kekuatan yang besar. Di dalam sepi dan sunyi inilah seluruh konflik melebur, seluruh konflik di temukan solusinya. Dalam sunyi, segala perbedaan menghilang. Lao Tzu mengajak kita untuk melakukan inner transformation (Transformasi di dalam diri). Lao tzu memahami bahwa dua hal yang tidak pernah bertemu di dalam diri kita adalah kata-kata dan perbuatan.  Tetapi kata-kata dan perbuatan dapat bertemu dalam keadaan silent. Kebisingan di dalam diri pecah dan menyatu dalam kesunyian. Selamat menyambut Tahun Baru Saka 1940 kepada umat Hindu seluruh Nusantara.

Salam Rahayu….

Bontang, 11 Maret 2018_MA

 

Dipublikasi di My Life Note | Meninggalkan komentar

Di awali Dengan Ketidaktahuan dan Di Akhiri Dengan Ketidakpastian

Siang itu Jumat, 9 maret 2018. Setelah pulang dari kantor, aku bergegas menuju kota Samarinda. Setiap Jumat aku memang wirawiri bontang-samarinda dan sebaliknya.

Sebelumnya aku sering kali ngeri membayangkan bagaimana aku bolak balik di kedua Kota ini sejak aku memutuskan untuk melanjutkan studi S2ku. Kini terasa dekat. Sebelumnya aku biasa berangkat subuh jam 4 atau paling telat berangkat jam 7 Pagi. Kini aku bisa berangkat Setelah pulang kerja 11.30 an. Keberanian ku kini bertumbuh. Banyak informasi Baru, pengetahuan Baru, Dosen Baru, teman Baru… semuanya unik dan membuat pola berpikirku berubah.

Hari itu aku bersemangat akan mengikuti perkuliahan filsafat. Salah satu mata kuliah favorit sejak studi S1 dulu. Filsafat itu seolah membawa ku berpikir bebas… dan memberi jawaban-jawaban “radikal” atas pertanyaan ku yang rasional maupun irasional. Aku menyukai ungkapan-ungkapan filsafat yang membutuhkan perenungan, yang terdengar aneh namun mengandung kebenaran.

Para Dosen filsafat juga cenderung sepuh, bahagia, teduh dan menyenangkan. Mereka berpikir mendalam. Rata-rata Beliau adalah Para Professor. Rasanya aku tidak ingin ketinggalan mata kuliah ini. Hingga aku rela bolak-balik bontang – samarinda.

Hari itu ketika aku sudah di dalam Kelas dan mendengarkan penjelasan Dosen ku, Dosen meminta kami untuk merenungkan sebuah kalimat “Diawali Dengan Ketidaktahuan dan diakhiri Dengan ketidakpastian”

Dengan memberi banyak contoh, saya pribadi mulai memahami dan menerima kebenaran kalimat itu.

Pernyataan ini seolah-olah, merobohkan keangkuhan kecerdasan. Keangkuhan rasionalitas. Apapun yang engkau capai adalah pencapaian dari keterbatasan: keterbatasan tenaga, keterbatasan Pikiran, keterbatasan Waktu dan lain Sebagainya. Dengan segala keterbatasan itu kita memperoleh kebenaran yang juga terbatas. Kebenaran yang tidak pasti.

Sebagai contoh, seseorang menyusun skripsi, tesis, desertasi Dengan susah payah… Dengan banyak pengorbanan, namun pada akhirnya kebenarannya hanya terbatas pada istrument penelitian yang digunakan. Bisa jadi kebenaran yang ditemukan hanya bertahan pada Waktu tertentu. Tidak untuk selamanya.

Dengan memahami Ini Bukan berarti kita tidak perlu menyusun skripsi, tesis, desertasi Dengan serius, namun ini mengajarkan kita bahwa Waktu terus berjalan dan perubahan akan selalu mengikuti Sang Waktu. Kita akan mengisi Waktu dan hari-Hari kita Dengan “Cinta”. Cinta pada kebenaran. Hal ini membutuhkan latihan, membutuhkan kesabaran dan keuletan dalam menemukan makna cinta dari sesuatu yang tidak pasti.

Meski sudah mengetahui bahwa hasil akhir dari skripsi, tesis Dan desertasi adalah ketidakpastian kita akan mendapat “lesson”nya. Kita akan menemukan cinta dalam prosesnya.

Kita mesti memenggal ego dan arogansi ketika kita sedang dalam proses bimbingan untuk menyusun skripsi, tesis dan desertasi itu. Meskipun kita mengetahui bahwa Segala sesuatunya serba tidak pasti. Yang pasti hanyalah ketika kita berbuat. Ketika kita berbuat yang terbaik, Maka pasti akan Ada hasil. Lebih Baik berbuat dari pada tidak sama sekali.

Saya kemudian menjadi paham mengapa mata kuliah filsafat diajarkan pada setiap disiplin Ilmu. Filsafat dapat mengimbangi keangkuhan rasionalitas. Filsafat adalah “Mother of knowledge”. IBu dari Ilmu pengetahuan. Sebagai ibu, filsafat akan membimbing kita pada “kasih” pada penemuan “cinta”

Mari merenungi diri… tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan esensial dari hidup kita. Siapakah Aku? Mengapa aku Disini? Apa misi hidup ku? Dan seterusnya dan Sebagainya.

Terimakasih Prof. Amir dan DR. S. Devung

I Love Filsafat

Bontang, 10/03/2018-MA

Salam Rahayu

Dipublikasi di My Life Note | Meninggalkan komentar