NM. Adnyani

Pada Hari Ngembak Geni ini, saya berkesempatan menyampaikan dharma wacana. Namun sesungguhnya, apa yang saya sampaikan bukan hanya untuk umat yang hadir, tetapi juga menjadi pengingat bagi diri saya sendiri. Saya mengajak kita semua untuk merenungkan satu hal sederhana, tetapi sangat mendasar dalam ajaran Hindu, ada tiga hal yang tidak boleh kita tinggalkan dalam hidup ini, yaitu Tapa, Yajña, dan Dhana.
Ketiganya bukan sekadar praktik keagamaan, melainkan jalan hidup. Dalam Bhagavad Gita Adhyaya XVII, dijelaskan bahwa setiap praktik spiritual selalu terikat oleh kualitas, yaitu sattwika, rajasika, dan tamasika.
Saya teringat pada sloka Bhagavad Gita XVII.11
aphalākāṅkṣibhir yajño vidhi-diṣṭo ya ijyate
yaṣṭavyam eveti manaḥ samādhāya sa sāttvikaḥ
Yajña yang dilakukan sesuai aturan, tanpa mengharapkan hasil, dan dengan keyakinan bahwa itu memang kewajiban, adalah yajña yang bersifat sattwika.
Kemudian tentang dana dalam Bhagavad Gita XVII.20
dātavyam iti yad dānaṁ dīyate ’nupakāriṇe
deśe kāle ca pātre ca tad dānaṁ sāttvikaṁ smṛtam
Dana yang diberikan dengan keyakinan sebagai kewajiban, kepada yang layak, pada waktu dan tempat yang tepat, tanpa mengharapkan balasan, disebut dana yang sattwika.
Dan juga tentang tapa dalam Bhagavad Gita XVII.14
deva-dvija-guru-prājña-
pūjanaṁ śaucam ārjavam
brahmacaryam ahiṁsā ca
śārīraṁ tapa ucyate
Menghormati Tuhan, orang suci, guru, dan orang bijaksana, menjaga kesucian, kejujuran, pengendalian diri, dan tanpa kekerasan—itulah tapa jasmani.
Sloka-sloka ini mengingatkan saya bahwa yang terpenting bukan sekadar melakukan, tetapi bagaimana kualitas dari setiap tindakan itu.
Kita bertapa, tetapi apakah dengan kesadaran?
Kita ber-yajña, tetapi apakah dengan ketulusan?
Kita berdana, tetapi apakah tanpa pamrih?
Kemudian saya mengajak umat untuk melihat kembali rangkaian Hari Suci Nyepi. Saat Tawur Kesanga, kita telah melaksanakan yajña, khususnya bhuta yajña. Kita memberi kepada alam, menjaga keseimbangan, dan membangun keharmonisan dengan semesta. Bertepatan dengan Tilem Kasanga, kita melaksanakan dewa yajña, sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Artinya, sebelum Nyepi, kita sudah belajar memberi.
Kemudian kita memasuki Hari Nyepi. Di sinilah kita melaksanakan tapa, melalui Catur Brata Penyepian. Kita belajar mengendalikan diri, menahan keinginan, dan menenangkan pikiran. Nyepi bukan sekadar tidak melakukan aktivitas, tetapi adalah proses kembali ke dalam diri.
Saya juga menyampaikan bahwa dalam Bhagavad Gita IV.28 disebutkan berbagai bentuk yajña:
dravyayajñās tapoyajñā
yogayajñās tathāpare
svādhyāyajñāna-yajñāś ca
yatayaḥ saṁśita-vratāḥ
Ada yang melakukan yajña dengan persembahan materi, ada yang dengan tapa, ada dengan yoga, ada dengan belajar dan pengetahuan—semua dilakukan oleh mereka yang berdisiplin spiritual.
Lalu tibalah kita pada hari Ngembak Geni, setelah kita melaksanakan yajña dan tapa, maka hari ini adalah saatnya kita melaksanakan dana (dhana). Inilah yang sering kali terlewatkan. Ngembak Geni tidak hanya tentang saling bermaafan atau berkumpul bersama keluarga. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk memberi kepada sesama. Memberi tidak selalu dalam bentuk materi. Kita bisa:
- memberi maaf dengan tulus
- memberi perhatian
- memberi kasih sayang
- memberi bantuan
- memberi waktu dan kehadiran
Karena dana yang sejati adalah dana yang lahir dari hati yang jernih.
Jika dirangkai, maka Hari Raya Nyepi sebenarnya mengajarkan kita siklus yang sangat indah, yaitu
Tawur melakukan Yajña; Nyepi Melakukan Tapa; dan Ngembak Geni melakukan Dhana
Pada akhirnya, kita perlu melakukan refleksi sederhana:
Apakah tapa yang kita lakukan sudah sattwika?
Apakah yajña kita sudah penuh kesadaran?
Apakah dana kita sudah tulus tanpa pamrih?
Hari ini, kita bersama belajar bahwa setelah kita menyepi, kita tidak boleh kembali menjadi pribadi yang sama. Kita harus menjadi pribadi yang lebih sadar, lebih tulus, dan lebih ringan dalam memberi.
Karena pada akhirnya, apa yang kita miliki bisa habis, tetapi yang kita berikan akan tetap hidup dalam dharma.
