Arsip Kategori: Pendidikan agama Hindu

Sejarah India

Berikut adalah catatan Sejarah India, semoga dapat bermanfaat untuk Referensi belajar ataupun mengajar

History of India History of India – Economic Power

History of India – Education – from glory to slavery

History of India – Maritime Supremacy

History of India – Science & Mathematical Discoveries

Memaknai Kembali Dasa Sila Sutasoma

NASKAH MIMBAR AGAMA HINDU

PENGISI ACARA                               : PEMBIMBING MASYARAKAT HINDU KANWIL KEMENTERIAN AGAMA

  PROVINSI KALIMANTAN  TIMUR

HARI/TANGGAL                                : 3 JANUARI 2013

JUDUL                                    : DHASA SHILA SUTASOMA

WAKTU                                                : 15.30 – 16.00

DIBAWAKAN OLEH          : NI MADE ADNYANI, S.Ag

Mengapa ingin mengangkat tema Sutasoma?

Kitab Sutasoma adalah salah satu kitab warisan leluhur Bangsa Indonesia.Diammbildari gabungan katanya, sutasoma berasal dari kata suta dan soma.Suta berarti putra dan soma berarti bulan.Putra bulan/ putrayang menyejukkan seperti rembulan dengan cahaya yang teduh, cahaya yang menerangi kegelapan. Kitab sutasoma ini adalah karya sang Empu (sang pengayom) bernama Tantular. Kemungkinan nama ini penuh dengan makna, bukan sekedar nama seorang anak manusia. Tan-Tular, tak tertular.Artinya seseorang yang tidak mudah tertular atau tak mudah untuk dipengaruhi.Memiliki pengetahuan tentang jati dirinya.

Kitab sutasoma ini menggunakan bahasa jawa Kuno yang merupakan kumpulan nasehat yang diberikan oleh sang Empu kepada Gajah Mada dan kepada kita semua. Gajah mada bukanlah sekedar sebuah nama seorang maha patih, melainkan gelar bagi seseorang yang sedang mabuk, gajah dan mada. Gajah yang mabuk.Dapat kita bayangkan bagaimana kekuatan seekor gajah yang sedang mabuk? Ia dapat menghabisi dan mencabut pohon besar dan mengacaukan hutan  yang menjadi tempat tinggalnya.

Semboyan yang paling popular dari maha karya Empu Tantular ini adalah “Bhineka Tunggal Ika” yang mestinya tidak dapat dipisahkan dengan kalimat berikutnya yaitu “Tan Hana Dharma Mangrwa”.Bhineka tunggal Ika berasal dari bahasa jawa kuno yaitu Bhin + eka +tunggal + ika.Bhin berarti berbeda, eka, tunggal dan ika semuanya berarti satu.Satu kata diulang sebanyak 3 kali. Berbeda – beda tetapi esensinya satu. Appearing is many, essence is one

Negara kita yang multi kultur (multi agama, ras, suku) tetap disatukan oleh Bhineka tunggal ika. Itulah mengapa founding father, Bapak Bangsa kita menggunakan sandi sutasoma ini sebagai semboyan Negara.

Dalam perjalanan bangsa ini, banyak terjadi konflik yang berbau SARA, jiwa sutasom kita memudar.Jati diri bangsa Indonesia yang mencintai perbedaan mulai memudar.Karena itu, kita perlu memaknainya kembali, apalagi ini adalah awal tahun 2013. Selama setahun kedepan kita akan membekali diri dengan semangat bhineka tunggal ika. Jiwa kita akan terbakar dan melebur dengan jiwa Empu Tantular.

 

 

Apa itu Dasa Sila?

Dasa adalah sepuluh dan sila adalah sikap/ etika/ perilaku

Dasa sila adalah sepuluh pedoman perilaku, guideline.Pedoman bukanlah aturan. Karena aturan bersifat baku dan kaku sehingga banyak yang mengakalinya. Sebagai contohnya adalah mencuci pakaian, kita tidak perlu membuat aturaan baku untuk mencuci pakaian dengan “apa dan bagaimana”. Pedoman hanya menuliskan pakaianmu harus bersih.Apa dan bagaimana kau akan membersihkan pakaianmu silahkan berinovasi, gunakan teknologi ataupun detergen terbaik yang engkau bisa gunakan.

Apa saja Dasa sila sutasoma itu?

Berikut 10 pedoman perilaku dalam kakawin sutasoma:

Dasa sila ini di bagi kedalm 4 kalimat kunci yaitu Demokrasi untuk sila 1, keadilan untuk sila ke-2, kemakmuran dan kesejahteraan untuk silake 3 dan ke 4, keagamaan untuk sila ke 5 – 9 dan kemanusiaan untuk sila ke 10.

  1. Aja Sira Anlarani Hati Nin Won
    Jangan Menyakiti Perasaan Orang (dan jangan mengacaukan pikiran orang lain)
  2. Ajaamidanda Tan Sabenere
    janganlah menjatuhkan hukuman yang tidak adil
  3. Ajaamalat Duwe Nin Wadwa Nira
    Janganlah menjarah harta rakyatmu
  4. Aja Tan Asih In daridra
    Janganlah menunda kebaikan terhadap mereka yang kurang beruntung
  5. Luluta Rin Pandita
    Mengabdilah pada mereka yang sadar
  6. Aja Sira Katunkul Ing Kagunan, Amujya Nabhaktya
    Janganlah menjadi sombong, walau banyak orang menghormatimu
  7. Aja Memateni Yen Tan Sabenere
    Janganlah menjatuhkan hukuman mati, kecuali menjadi tuntutan keadilan
  8. Uttama Si Yen Sira Akalisa Rin Pati,
    Adalah yang terbaik, jika kau tidak takut mati,
  9. Sampuraha Rin Tiwas
    dan bersabar dalam keadaan susah
  10. Anulaha Saama Daana Ajaapilih Jana
    (adalah yang terbaik) Jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih

Bagaimana Memaknainya Kembali?

  1. 1.      Aja Sira Anlarani Hati Nin Won

Jangan menyakiti perasaan orang

Tidak menyakiti perasaan orang sekaligus tidak mengacaukan pikiran orang lain adalah pedoman pertama yang dibut oleh sang Empu. Ini adalah prinsip ahimsa dalam khasanah nusantara. Ahimsa tidak saja berarti non killing, tetapi juga tidak menyakiti perasaan dan mengacaukan pikiran orang lain. Dalam kehidupan sehari hari butir ini dapat bermakna :

  1. Tidak menipu pelanggan bagi para pedagang dan pengusaha
  2. Tidak membodohi rakyat bagi para politisi dan wakil rakyat
  3. Tidak menyesatkan umat bagi para pendeta
  4. Tidak bekerja sembarangan bagi kaum pekerja
  5. Tidak menjual pendidikan bagi para pendidik
  6. Tidak mengorbankan kuliah bagi para pelajar dan mahasiswa demi kepentingan partai politik

Daftar tersebut dapat diperpanjang, sesuai dengan profesi yang kita lakoni dalam kehidupan sehari – hari.

 

 

 

 

  1. 2.      Ajaamindanda tan sabenere

Jangan menjatuhkan hukuman yang tidak adil.

Butir ini menyangkut tentang keadilan, hokum atau danda.Hukuman diberikan setelah seseorang diberi peringatan terlebih dahulu tentang tindakan yang salah dan sudah diberi kesempatan untuk memperbaiki diri tetapi tetap tidak berubah.

Asas keadilan pada butir ini menuntut kita untuk bersikap adil terhadap nurani kita, terhadap diri sendiri, terhadap suara hati kita.

  1. 3.      Ajaamalat Duwe Nin Wadwa Nira

Janganlah menjarah harta rakyatmu

Diri kita, kita semua adalah pemimpin.Pemimpin untuk diri kita sendiri.Memimpin diri agar terhindar dari sifat rakus/lobha. Membangun kesejahteraan dan kemakmuran duniawi tidak dapat dilakukan dengan menjarah harta milik orang lain.

Negara harus menarik pajak masyarakat dengan cara yang adil dan tidak membebani. Sebagaimana Canakya mengajarkan kepada kita melalui keteladanan matahari. Melalui Asta Bratha, Canakya mencontohkan bagaimana matahari menyerap air laut tanpa air laut merasa kesulitan, kesusahan ataupun kekurangan. Air laut menguap tanpa di rasakan oleh laut.Setelah menjadi awan lalu turunlah hujan dan hujan dinikmati oleh seluruh isi bumi, tanaman, hewan dan manusia.

Sementara realita kehidupan, banyak oknum pemerintah memanfaatkan “lahan basah” sebagai pengelola Negara untuk memperkaya diri sendiri.

  1. 4.      Aja tan asih in daridra

Jangan menunda kebaikan (kasih) pada yang kurang beruntung

Daridra bukanlah berarti miskin.Daridra berarti “kurang beruntung”.Seorang miskin jelas kurang beruntung, dia seorang daridra.Namun orang kaya yang tidak sehatpun kurang beruntung.

Sungguh sangat beruntung kita hidup hari ini dalam keadaan sehat, lengkap dan penuh limpahan kasih Hyang Widhi. Oleh karenanya kitatidak lupa berbagi kebahagiaan, keceriaan ataupun kebaikan kepada ia yang kurang beruntung.

  1. 5.      Luluta rin Pandita

Mengabdilah pada Mereka yang Sadar

Pandita tidak diterjemahkan sebagai seseorang yang bergelar pendeta.Ataupun seorang cendikiawan.Ia adalah seseorang yang telah menemukan panda atau dirinya. Tunduklah pada mereka yang telah “sadar”, Ia yang telah menemukan dirinya/jati dirinya.

Contoh dan ikutilah mereka yang telah sadar akan jati dirinya sebagai manusia. Jati dirinya sebagai anak bangsa, jati dirinya sebagai manusia Indonesia.

Rangkullah setiap orang, jangan bersifat apriori terhadap siapapun, karena seorang bandit seperti Ratnakar pun bisa berubah menjadi seorang Valmiki, seorang pujangga besar yang menyusun Ramayana

Seorang pandita tidaklah selalu seorang sulinggih.Seorang penyair yang punya kepeduliansosial tinggi adalah seorang pandita, pendidik yang “waras”, usahawan yang bermoral juga adalah seorang pandita.

  1. Aja Sira Katunkul Ing Kagunan, Amujya Nabhaktya
    Janganlah menjadi sombong, walau banyak orang menghormatimu

Angkuh, Iri,Dengki dan Sombong (AIDS) adalah penyakit mental yang sangat ganas menyerang manusia. Ia bekerja sangat lambat namun pasti. Seseorang yang AIDS pada mental, masih dapat disebuhkan hanya jika ia mau dan berupaya untuk sadar.

Para wakil rakyat kita yang sangat “gila” terhadap kedudukan, ia lupa untuk merakyat. Ketika sebelum dipilih ia akan sangat merakyat, namun ketik terpilih, ia sangat eklusif. Hanya beberapa orang saja yang dapat menemuinya.Pengabdiannya pada rakyat yang memilihnya, terlupakan oleh penyakit AIDSnya.

 

  1. Aja Memateni Yen Tan Sabenere
    Janganla h menjatuhkan hukuman mati, kecuali menjadi tuntutan keadilan

Yang berhak memberikan hukuman mati adalah pengadilan dan Negara.Itupun demi kedilan itu sendiri.Lembaga lain apalagi perseorangan, tidak dapat memberikan hukuman mati.

  1. Uttama Si Yen Sira Akalisa Rin Pati,
    Adalah yang terbaik, jika kau tidak takut mati,

Tantular juga mengingatkan kita tentang kematian, bahwa takada yang kekal di dunia ini.Kematian adalah suatu keniscayaan.Kelahiran kita adalah sesuatu yang sudah terjadi, namun kematian adalah sesuatu “yang akan terjadi”.Karena itu, kita mesti mempersiapkan diri dalam menghadapinya. Persiapan itu bukanlah untuk memiliki senjata yang lengkap dan canggih untuk melawan Dewa kematian saat Roh kita dijemput,  tetapi untuk melawan rasa takut. Rasa takut kita tidak akan menunda datangnya kematian itu sendiri. Karena itu Tantular mengatakan sangat utama jika kita tidak takut mati.

Dalam kitab upanisad diuraikan bagaimana kita dapat melawan rasa takut terhadap kematian.Mrtyum jaya mantram adalah mantram yang paling ampuh untuk mengikis rasa takut dalam menghadapi kematian.Mrtyu berarti mati dan jaya berarti menang.Mrtyu jaya berarti menang melawan kematian. Hal ini bukan berarti kita tidak akan mati dan hidup abadi. Badan kita akan mati tapi jiwa kita tak pernah mati.

Tetapi kemudian, jangan mencari mati. Kematian tak perlu dicari, ia akan datang manakala “kontrak” dengan badan ini sudah habis.

Mari kita mencoba meyakinkan keluarga kita bahwa setiap saat maut akan menjemput. Dan itu adalah kepastiannya. Bekerjalah utuk kepentingan orang lain, bukan sekedar kepentingan diri sendiri. Demikian mengisi kehidupan.Tidak takut mati tidak kemudian kita tak berbuat sesuatu apapun.

 

  1. Sampuraha Rin Tiwas
    dan bersabar dalam keadaan susah

Persis seperti musim, suka dan dukha silih berganti, ini adalah dua sisi yang tak dapat dipisahkan.Selama kita hidup dan berbadan. Suka dan dukha akan datang silih berganti. Janganlah menyalahkan siapa – siapa atas kesusahan yang kita alami.Bersabarlah dalam keadaan susah, bersabarbukan berarti duduk diam dan tidak melakukan apa-apa serta bermalas-malasan. Bersabar adalah intropeksi diri dan kemudian tetap semangat

 

  1. Anulaha Saama Daana Ajaapilih Jana
    (adalah yang terbaik) Jika kau berjiwa besar dan memberi tanpa pilih kasih

Setiap dari kita harus memiliki jiwa yang besar untuk menghadapi hal-hal kecil maupun besar.Pendidik harus memiliki jiwa yang besar dan luas terhadap anak2 didiknya.Ia mesti tidak mudah tersinggung juga tidak pilih kasih.

Tidak pilih kasih berarti tidak mengasihi ataupun membantu berdasarkan klan, suku, agama dan lainnya. Tidak pilih kasih berarti memilih berdasarkan kemampuan, kualitas, kelayakan, dan kompetensinya.

 

 

Kebenaran Besar Vs Kebenaran Kecil

Disuatu padepokan di Tiongkok pernah hidup seorang Guru  yang sangat dihormati karena tegas & jujur.

Suatu hari, dua murid menghadap Guru. Mereka bertengkar hebat & nyaris beradu fisik. Keduanya berdebat tentang hitungan 3×7.

Murid pandai mengatakan hasilnya 21,
Murid bodoh bersikukuh mengatakan hasilnya 27.

Murid bodoh menantang murid pandai untuk meminta Guru
sebagai Jurinya untuk mengetahui siapa yg benar di antara mereka, sambil si bodoh mengatakan :

“Jika saya yg benar 3 x 7 = 27 maka engkau harus mau di cambuk 10 kali oleh Guru !”

tetapi kalau kamu yg benar
( 3 x 7 = 21 ) maka saya
bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri.

Demikian si bodoh menantang dgn sangat yakin akan pendapatnya..

“Katakan Guru, mana yang benar ?” tanya murid bodoh.

Ternyata Guru memvonis cambuk 10x Murid yg PANDAI (yang menjawab 21).

Si murid pandai protes .
Sang GURU menjawab,
“Hukuman ini Bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk
“KETIDAK ARIFAN”-mu
yang mau-maunya berdebat dgn orang bodoh yang tidak tau kalo 3 x 7 adalah 21!!”

Guru melanjutkan :
lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi ARIF daripada
harus melihat 1 nyawa terbuang sia-sia !

Pesan Moral,.
Jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yg tak berguna,
berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah daripada orang yg memulai perdebatan!

Sebab dengan sadar kita membuang waktu & energi untuk hal yg tidak perlu.

Bukankah kita sering mengalaminya ?
Bisa terjadi dengan pasangan hidup, tetangga dan keluarga.

Berdebat atau Bertengkar untuk hal yang tidak ada gunanya,
hanya akan menguras energi percuma.

Ada saatnya diam bagi kita untuk menghindari perdebatan atau pertengkaran yg sia-sia.

Diam bukan berarti kalah, bukan ?

Memang bukan hal yg mudah,
tapi janganlah sekali-kali berdebat dgn orang bodoh yg tidak menguasai permasalahan.So…Jadilah BIJAK…
Kebenaran besar mencerminkan berpikir, berpengetahuan besar dan memikirkan masalah orang lain. Jika kita mengutamakan kebenaran kecil maka kita akan menjadi ego centris