Panggilan Ram Untuk Putra Putrinya 

Ayah memang sangat menginspirasi. Dia menjadikan spiritualitas sebagai laku hidup. 
Beberapa bulan terakhir, saya agak heran Karena Beliau (ayah saya) selalu memanggil nama saya dengan panggilan Ram. Di setiap sms (pesan singkat) Beliau juga me manggil saya dengan sebutan Ram. 
Awal nya saya merasa biasa, saya hanya berpikir mungkin yang di maksud adalah Salam Om Sairam, lalu dipendekkan menjadi Ram. 
Suatu hari Kami berkumpul, saya memperhatikan setiap kata yang beliau gunakan, Ia memanggil Kakak saya dengan Ram, Adik saya juga dipanggil Ram. Saya kemudian berpikir, semua Anak di panggil Ram. 
What is Ram? Why Ram? Bukannya Kami punya nama masing2? Dan setiap nama juga adalah pemberian Beliau. Lalu mengapa kini menjadi Ram? 
Kemudian saya banyak merenung ini, mencoba menemukan maknanya. 

Saya membuka kamus, membaca buku, internet dan mencoba menghubungkan makna yang saya temukan dengan realitas kehidupan. 
Dan… 

Saya terkejut. Wow… that is 
Ram : adalah Ia yang berada di dalam hati setiap orang. 
Apa yang berada di dalam hati setiap orang? Cinta, kasih, tawa… 

Kita semua Sama dalam Hal ini. Tidak Ada tawa jawa, tawa Bali, tawa bugis… ekspresi kita dalam kasih dan tawa akan ber muara pada Hal yang sama. Kita semua memiliki keduanya, kasih dan tawa… 
Ada juga yang mendefinisikan Ram sebagai Tuhan, sebagai Sri Rama (Ramayana), avatara. Itu semua benar adanya. Karena avatara dan Tuhan adalah representasi dari kasih. 
Pada kesimpulannya saya melihat bahwa ayah saya menemukan kasih dan melihat putra putrinya sebagai perwujudan kasih. 
Mungkin itu adalah Hal yang biasa, setiap orang tua akan mengasihi anaknya. Tapi bagi saya ini berbeda. Setelah begitu banyak yang Kami lalui, Kami menjadi mengerti mengapa Ada perubahan itu. 
Dad, we are proud of you ❤️
With Love 

-adnyani-  

Kesalahan Kolektif Masyarakat Bisa Saja Mengundang Bencana? #YogaSutraPatanjali

Emosi memiliki Korelasi dengan air, emosi kita dikendalikan oleh elements air dalam tubuh kita.

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

Fenomena Alam

Kadang kita merasa begitu putus asa dengan kenyataan yang terjadi. Kebenaran tenggelam dalam konspirasi yang berada di luar kemampuan kita. Kita semua tidak bisa lepas dari tanggung jawab. Kita telah ikut menentukan para pemimpin kita. Kita juga diam dan seakan-akan membiarkan kebiasaan tidak baik merajalela. Yang belum kita sadari adalah bahwa keputusan kolektif masyarakat bisa menimbulkan letupan emosi kolektif. Dan letupan emosi kolektif bisa saja mengundang bencana?

Tulisan ini hanya sekadar renungan, bertujuan agar kita melakukan tindakan yang baik. Segala sesuatu yang kita perbuat harus dirasakan bagaimana seandainya kita sendiri mengalaminya (tepa-slira, rasa empati). Kalau kita tidak mau dianiaya orang ya jangan menganiaya orang. Karena segala sesuatu akan kembali kepada kita dengan adanya hukum sebab-akibat. Kalau masyarakat menganiaya seseorang, bisakah masing-masing anggota masyarakat menyadari bagaimana kalau dirinya dibegitukan?

………………

Sejak beberapa dasawarsa terakhir ini, sains – setidaknya beberapa ahli fisika dan ahli saraf – telah memasuki…

Lihat pos aslinya 735 kata lagi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai