Saraswatī Puja

Di dalam tradisi  – tradisi yang berkembang di wilayah peradaban Sindhu, Hindu, Indo, Indonesia, pengetahuan di wujudkan dalam bentuk Dewi Saraswati. Dewi Bukan Dewa. Berarti aspek feminim yang ditonjolkan. Bukan aspek maskulin. 

Apa saja yang diwakili oleh Dewi Saraswati yang Feminim itu, yang lembut itu, yang cantik itu, yang penuh welas asih itu? Apakah Ilmu pengetahuan saja yang diwakilinya?  Aspek kemuliaan apa, Ketuhanan  apa yang sesungguhnya Ia wakili? 

Perhatikan wujud Saraswati, sebagaimana Ia telah divisualisasikan sejak ribuan tahun. Pertama, Ia membawa Sitar atau Vina. Alat musik ini mewakili lagu, nyanyian, tarian, seni. Keindahan – Sundaram. Ekspresi Budaya yang terindah adalah seni. Seni bukanlah pertunjukkan diatas panggung saja. Seni adalah “sikap” dalam hidup. Melakoni hidup pun merupakan seni. Seni adalah sikap hidup yang indah, yang mengindahkan, yang memperindah. 

Yang kedua, Ditangan lain Dewi Saraswati, kita melihat Genitri, Japa Mala, 108 manikam dalam satu untaian yang Indah. Banyak manikam, banyak permata, namun disatukan oleh benang yang tak terlihat. Ini adalah sifat Shivam. Sifat Ketuhanan, sifat kebenaran, sumber kebahagiaan, kedamaian, kesehatan dan kesejahteraan. 

Beda, banyak- tapi satu, Bhineka Tunggal Ika, inilah sifat Saraswati. “Jenis” pengetahuan yang diwakili Saraswati selalu mempersatukan, Ia tidak pernah memisahkan atau menyebabkan perpisahan. 

Pada beberapa gambar atau simbol, Dewi Saraswati juga memegang sekuntum bunga, ini pula bermakna Sama yaitu Shivam, sumber kebahagiaan dan kedamaian,  bahwa banyak kelopak, semuanya Indah dan merupakan Bagian Dari sekuntum bunga yang Sama. 

Ketiga, Saraswati juga memegang sebuah lontar. Lontar ini mewakili Veda, sumber segala macam pengetahuan.  Veda adalah kebenaran yang diungkapkan lewat tulisan, lewat kata -kata. Inilah Satyam- kebenaran hakiki, kebenaran tertinggi, kebenaran yang utuh. 

Saraswati adalah wujud kesempurnaan, Ia adalah cerminan diri seorang manusia yang sempurna, Satyam-Shivam-Sundaram. Seseorang yang memiliki ketiga sifat utama Saraswati ini disebut sebagai seorang Guru. 

Peringatan hari Saraswati atau Saraswati Puja juga disebut Guru Purnima. Seorang guru bagaikan bulan Purnama, menerangi hidup kita dengan pengetahuan sejati. Ia adalah wujud nyata dari kebenaran,  kemuliaan dan keindahan.

Memuja Saraswati berarti menghadirkan kebenaran dalam hidup kita. Hendaknya Hari Raya Saraswati, atau pemujaan kepada Dewi Saraswati dijadikan hari untuk merenung, hari untuk meniti jalan kedalam diri. Hari untuk melakukan instropeksi diri. Hari untuk melakukan studi, untuk memahami dan menghayati isi Kitab- kitab suci. 

Bekali hidupmu dengan kebenaran, kemuliaan dan keindahan, Satyam-Shivam-Sundaram, Maka hidupmu pasti berwarna. Maka kau akan merasakan kehadiran Dewi Saraswati dalam hidupmu. Maka kau akan menjadi lebih lembut, lebih peduli terhadap sesama, lingkungan dan alam. 

Ketiga sifat utama Saraswati itu lah pendamping setia manusia. Saraswati mewakili segala sesuatu yang bermakna dalam hidup ini. 

Saraswati adalah sintesa antara pengetahuan dan seni. Saraswati adalah pertemuan antara otak kanan dan otak kiri – maskulin dan feminim. Sebab itu, Saraswati utuh adanya. Ia lengkap, Ia sempurna. 

Temukan keutuhan itu di dalam hidupmu. Temukan kelengkapan dan kesempurnaan itu di dalam hidupmu. Dan kau akan merasakan kehadiran Saraswati. Kau akan memahami arti Saraswati Puja. Kau akan menemukan makna Guru Purnima. Semoga….

 

Om shanti, Shanti, Shanti Om 

Neo-Cortex: Jembatan dari Insting Hewani menuju Kesadaran Ilahi

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

Limbic dan Neo-Cortex

Ibarat Super Komputer yang Mahacanggih, ke dua bagian utama otak kita bekerja sesuai dengai fungsinya masing-masing. Bagian Limbic memuat basic programming, yaitu program dasar untuk menjalankan komputer. Inilah insting insting hewani, atau lebih tepat disebut insting-insting dasar kehidupan. Sedangkan bagiai Neo-Cortex memuat program/aplikasi yang dibutuhkan manusia. Muatan pada bagian ini dapat ditambah, dikurangi, dihapus, diperbaiki, atau di-“manipulasi”.

Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya.

Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Oleh karena itu, hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. (Krishna, Anand. (2010). Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka…

Lihat pos aslinya 713 kata lagi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai