Dvipantara Yoga Sastra –Vrati Saasana– 6-7

Sloka 6

graahasca kumbhiiro naktro maarjaaro muusikastathaa

nakulo manduuko vyaalah sarvamacoksamaamsakam

Again (other meat) not to be eaten are those of crocodile and other sea creatures, cat, of rats/mouses/mice, mongoose, tigercat, all types of frogs, and all type of snakes.

Yang juga tidak boleh dimakan adalah daging buaya dan hewan laut, kucing, tikus, musang, kucing hutan, segala jenis kodok, dan segala jenis ular.
Sloka 7

bhuukrimi-bhuukita-mamsam sarvalokaavahelitam

praaninaam ruupabhedaasca sarva kanisthamaamsakam

Also not edible are all the lowest creatures such as ant, worms, maggots, leeches, scorpions, lizards, and etcetera, both living under or above the ground. Indeed, if one develops or can develop a foul feeling, a natural disinclination toward all kinds of meats, then one should shun them all.

juga tidak untuk dimakan adalah segala jenis makhluk terendah seperti semut, cacing, belatung, lintah, kalajengking, kadal, dan lain sebagainya, baik yang hidup diatas atau dibawah tanah. Bahkan jika seseorang dapat mengembangkan perasaan tidak enak, atau keengganan alami terhadap segala jenis daging, maka ia harus menghindari semuanya.

Yoga Sutra Patanjali : Samaadhi Paadah (Sutra I.16 – 20)

Sutra I.16

tatparam purusa-khyaateh guna-vaitrsnyam

“(Pengetahuan sejati adalah tentang) Purusa, gugusan Jiwa yang tidak terpengaruh oleh guna atau sifat-sifat kebendaan; tidak terikat padanya; dan tidak merindukannya (ini pula yang disebut pelepasan diri atau Vairaagya yang sesungguhnya).”
Sutra I.17

vitarka-vicaara-aananda-asmitaa-rupa-anugamaat-samprajnaatah

“Samprajnaatah atau Kesadaran (yang masih belum sepenuhnya melampaui dualitas) adalah yang berlandaskan pada Vitarka atau Pertimbangan, Penilaian, dan Penyimpulan yang Tepat; Vicaara atau Perenungan yang Tepat; Aananda atau Kebahagiaan Sejati yang bersumber dari diri sendiri, tidak tergantung pada sesuatu apapun di luar diri; Asmitaa atau Kesadaran Aku yang sejati (sebagai Jivaatma atau Jiwa Individu atau Percikan Sinar Purusa atau Gugusan Jiwa, Hyang adalah bagian tidak terpisahkan dari Paramaatmaa atau Jiwa Agung).”
Sutra I.18

Viraama-pratyaya-abhyaasa-puurvah samskaara-seso’nyah

“Keadaan lain (Asamprajnaatah atau Samaadhi, Pencerahan yang bebas dari dualitas, namun masih) mengandung muatan Puurva samskaara atau sisa impresi, kesan-kesan dari masa lalu, yabg dapat dieliminasi, dihabisi, dihapuskan dengan niat yang kuat dan upaya terus menerus untuk tujuan mengeliminasinya.”
Sutra I.19

bhava-pratyayo videha-prakrti-layaanam

“Kendati sudah Videha, tidak berbadan, dan (elemen-elemen yang menciptakan badan pun sudah terurai serta) menyatu kembali dengan Prakrti atau alam-benda — kehendak kuat untuk tetap hidup di dunia-benda bisa tersisa, dan menyebabkan terjadinya kelahiran ulang.”
Sutra I.20

sraddhaa-viirya-smrti samaadhi-prajnaa-puurvaka itaresaam

“Sebagian (di antara mereka yang mengalami kelahiran ulang seperti itu) mencapai Samaadhi, Keseimbangan Diri atau Pencerahan berkat Prajnaa puurvakah atau Pengetahuan sejati yang pernah diraihnya pada masa lalu, dan (upaya sungguh-sungguh pada masa kini) dengan penuh Sraddha atau keyakinan; Viirya atau keberanian dan kekuatan; dan smrti, ingatan atau perhatian (terhadap tujuan Jiwa, yaitu Manunggal dengan Jiwa Agung).”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai