Dvipantara Yoga Sastra –Vrati Saasana–2

Sloka 2 

yamaamsca niyamaamscaiva yadaa raksennu panditah

tesaam samraksitenaiwa buddhirasya na caalyate

One must always adhere to Yama, Self-Restraint or Discipline, and Niyama, the Virtuous Principles to Live by in order to check one’s buddhi or pirified mind (the intelligent Body or Domain of our being). Following are the Yama, the Disciplinary Codes

By doing so, the Pandit, the Wise, the Truly Learned Knowledgeable keep it – keep his buddhi – ever unwavered.

Seseorang harus senantiasa berpegang pada Yama, Disiplin atau Pengendalian Diri, dan Niyama, Pedoman Perilaku untuk Hidup Berkesadaran untuk senantiasa menjaga buddhi atau mind yang telah dimurnikan (Badan, wujud, atau Fakultas Inteligensia dalam diri kita). Berikut adalah Yama, Pedoman Disiplin atau Pengendalian Diri.

Dengan demikian, seorang Pandit, seorang Bijak, Ia yang Berprngetahuan Sejati senantiasa menjaga buddhi-nya, supaya tak tergoyahkan. 

Makna Metatah (Upacara Potong Gigi) 

Pernah dengar khan Tradisi atau kebiasaan potong gigi di kalangan masyarakat Hindu di Bali? 

apa ya sebenarnya makna dari ritual ini? mengapa dilakukan? ada ga rujukan susastra Hindunya? Kapan di lakukannya? simak yuk, uraian berikut ini; 

apa itu Upacara potong gigi? 

Upacara di potongnya 6 gigi bagian atas, yaitu 2 gigi taring dan 4 gigi seri. bermakna “dipotongnya” sad ripu, 6 musuh yang ada dalam diri kita yaitu : 

1. Kama : keinginan2 (yang tidak baik)

2. Krodha : kemarahan

3. Lobha : keserakahan

4. Moha : kebingungan, pikiran kalut

5. Mada : mabuk (mabuk ada 7 mabuk)

6. Matsarya : irihati
apa saja landasan/Rujukan Sastranya?

ada 4 landasan sastra ;

1. Lontar Kalapati Tattwa

2. Lontar Kala Tattwa

3. Lontar Smaradhana

4. Lontar Sang Hyang Yama 

secara ringkas di sampaikan bahwa : 

Lontar Kalapati Tattwa,

Upacara potong gigi adalah simbol perubahan status seseorang dari manusia biasa menjadi manusia sejati sehingga dapat mencapai alam svarga (alam yang penuh kebahagiaan)

Lontar Kala Tattwa, mengisahkan tentang Bhatara Kala yang mencari ayahnya (Shiva) dan Shiva bersedia mengakui sebagai putra dengan syarat kedua taringnya di potong. kisah ini menginspirasi untuk dilaksanakan upacara potong gigi, bahwa untuk mencapai alam Shiva dan bertemu dengan Shiva sebagai ayah alam semesta maka gigi taring mesti di Potong. Hal ini sangat simbolik, tentu saja kita tidak membawa gigi fisik ini ke dunia gaib, ke alam “sana”. tentu tidak demikian, tidak bisa. Gigi taring adalah simbol dari “keganasan” di dalam diri kita. apa yang ganas dalam diri kita. tidak lain dan tidak bukan adalah sifat keserakahan, iri hati, arogansi dan keinginan untuk “memakan” yang lain, dalam bahasa yang lebih baik adalah ingin menguasai manusia lain, mahkluk lain. 

Lontar Smaradhana mengisahkan ketika Bhatara Gana (putra Dewa Shiva) dapat mengalahkan Raksasa Nilarudraksha dengan menggunakan potongan taringnya. kisah ini juga menginspirasi upacara Potong gigi. 

Lontar Sang Hyang Yama menceritakan bahwa upacara potong gigi dilaksanakan ketika anak2 menginjak Dewasa, jika perempuan sudah mulai haid dan jika laki2 suaranya mulai membesar. 

Apakah upacara potong gigi adalah Tradisi Bali saja? 

Upacara potong gigi adalah upacara Hindu, hal ini diyakinkan dengan dimuatnya dalam beberapa susastra Hindu (Lontar) dan bahkan di Jawa sejak zaman nenek moyang sudah dilaksanakan upacara “pangur”. upacara pangur ini adalah upacara potong Gigi

Jika merujuk kepada periodesasi kemunculan tradisi potong gigi, maka upacara potong gigi ini adalah upacara yang awalnya ada di jawa, namun seiring berjalannya waktu, upacara ini mulai ditinggalkan ditanah kelahirannya di pulau Jawa. Akan tetapi tradisi ini masih ada, masih dilaksanakan dan dilestarikan di Bali hingga saat ini. 

Merujuk kepada Satyam, Shivam, Sundaram yang dianggap sebagai saripati ajaran Sivaisme di indonesia dapat di simpulkan sebagai berikut : 
Satyam : kebenaran, Tattwa, filsafat. upacara potong gigi ini mengandung kebenaran yaitu di muat dalam 4 lontar tersebut diatas.

Shivam : kesucian. upacara potong gigi adalah upacara yang bertujuan menyucikan diri kita, membersihkan 6 kotoran atau sad ripu tersebut diatas. 

Sundaram : Keindahan. Upacara potong gigi mengandung nilai keindahan, gigi menjadi rapi , terlihat indah. disamping juga dari sisi kesehatan bahwa manusia adalah mahkluk dengan usus yang panjangnya 12 kali panjang tubuhnya, hal ini secara alami, manusia adalah pemakan sayuran dan bukan pemakan daging. mahluk – mahluk yang memiliki taring adalah makluk2 pemakan daging. dengan menghilangkan taring, secara filosofis kita tidak dianjurkan untuk makan daging. 

semoga uraian ini bermanfaat 🙏🙏🙏

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai