Yatra to Prambanan

Prambanan Temple
Prambanan : dari kata Param dan Brahman

Param : yang tertinggi, 

Brahman : Yang Maha Kuasa, tertinggi dan tak terjelaskan. 
Prambanan : adalah perwujudan dari yang tertinggi, yang maha tingi. Brahma Wisnu shiva, yang adalah Lahir, Hidup dan mati. cipta, pelihara dan daur ulang. 
Prambanan temple yang kami kunjungi dan masuk untuk melihat langsung yaitu : 

candi utama : 

Candi Brahma (masih ada patung Brahma)

Candi Shiva : candi yang paling besar (masih ada patung shiva) meski tak sempurna, ada yang tidak lengkap dan patah

Candi Wisnu : masih ada patung wisnunya, 
Candi Wahana :
Candi angsa, disini saya tidak menemukan angsa, di dalam candi “kosong”

Candi Nandi

masih ada patung lembu nandi

apa yang kita pelajari dari nandi? ia sangat tenang dan sabar

memasuki candi nandi kita diingatkan untuk menumbuhkan ketenangan diri. jangan gelisah, jangan “crowded”. jangan berwajah banyak. sekarang bilang A sepuluh menit kemudian bilang B. hahahahha
Candi Garuda 

disinipun tidak ada lagi patung garudanya. di dalam candi “kosong” 

meski demikian, saya mempelajari, apa yang kita teladani dari burung garuda? 

adalah pengabdian, pelayanan, bhakti dan cinta. bahwa sang garuda sangat teguh, pemberani dan kokok. ini berlatar dari sebuah kisah heroik dari Garuda ketika ia mampu membebaskan ibunya dari perbudakan dengan sebuah pelayanan dan bhakti yang tinggi. 
Disetiap candi kami mengucapkan “salam” dan menghormati. disini terlahir rasa syukur yang dalam. 

kunjungan atau yatra ini adalah sebuah dharma, sebuah perjalanan suci. 
Bahagia bisa mengunjungi situs bersejarah ini. 

kebesaran dan kehebatan leluhur bangsa ini tergambar disini. sungguh mengagumkan.

Terimakasih alam semesta sudah membawa kami sekeluarga kesini. menyelesaikan satu karma dalam masa kehidupan ini. 
#Loveprambanan

#Loveindonesia

#Lovefamily

Renungan #Gita: Moksa Bukan Harapan, Tapi Tujuan! Harapan bisa Mengecewakan, Tujuan Tidak!

Kita sering berharap agar kita menjadi orang bijak yang tidak pernah salah melangkah, dan pada suatu saat harapan tersebut meleset dan kita kecewa. Jangan terpaku pada harapan, tetaplah menjadi manusia yang bertujuan mencapai kebebasan mutlak. Apa pun yang kita hadapi, sesuai harapan atau tidak, kita biasa saja, kita tetap punya tujuan jelas mencapai kebebasan sempurna. Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita di bawah ini:
……….
MOKSA BUKANLAH HARAPAN, TAPI TUJUAN. Sebagai contoh; Seandainya kita sedang bepergian ke suatu tempat, katakan Amerika—maka “tujuan kita adalah Amerika”. Amerika bukanlah harapan kita, tapi tujuan. Bacalah ulang paragraf ini, “Jika kita sedang bepergian” — berarti kita sudah menentukan tujuan kita, bahkan sudah dalam perjalanan.
Saat ini, Anda, saya, kita semua sudah berada dalam hidup ini, sudah dan sedang menjalani hidup ini—kita tidak mengharapkan kehidupan, wong sudah hidup!
Harapan adalah ketika saya mengharapkan Amerika sebagai Negara Impian saya. Nah, urusan apa Amerika mesti memenuhi impian saya? Arnerika tidak berjanji untuk memenuhinya. Mimpi saya, impian saya adalah murni harapan saya. Saya berharap rnenjadi bintang Hollywood, sampai di sana menjadi pencuci piring di restoran. Kita kecewa—kenapa? Karena kita berharap dan harapan itu tidak terwujud.
Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)
……………..
Menghaturkan persembahan, berderma, bertapa-brata—semuanya semata karena setiap kegiatan tersebut membebaskan diri kita dari kesadaran rendah dan mengantar kita pada kesadaran tinggi — mendekatkan kita dengan tujuan hidup?
Jika ini yang menjadi semangat kita, maka hidup menjadi indah?
Sebaliknya, jika kita mengharapkan imbalan; apalagi imbalan-imbalan jangka pendek—termasuk kapling di surga pun adalah tujuan jangka pendek — maka bersiap-siaplah untuk kecewa, putus asa, dan menderita sakit hati?
Tidak setiap harapan terpenuhi?
Sekalipun semua harapan terpenuhi, tidak ada jaminan kita pasti bahagia?
Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita pada Tautan di bawah ini:

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit. Om, Peace, Peace, Peace

Kita sering berharap agar kita menjadi orang bijak yang tidak pernah salah melangkah, dan pada suatu saat harapan tersebut meleset dan kita kecewa. Jangan terpaku pada harapan, tetaplah menjadi manusia yang bertujuan mencapai kebebasan sempurna. Apa pun yang kita hadapi, sesuai harapan atau tidak, kita biasa saja, kita tetap punya tujuan jelas mencapai kebebasan mutlak. Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita di bawah ini:

tad ity anabhisandhaya phalam yajna-tapah-kriyah

dina-kriyas ca vividhah kriyante moksa-kanksibhih

“Dengan pemahaman bila semua ini adalah milik-Nya, milik Dia — Tad — para panembah yang bijak menghaturkan persembahan, berderma, dan bertapa-brata tanpa mengharapkan imbalan materi, dan semata untuk kebebasan mutlak (Moksa).” Bhagavad Gita 17:25

Lihat pos aslinya 393 kata lagi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai