StithaPrajna : Tidak Mudah Menyerah

Tidak mudah menyerah demikianlah yang saya pelajari pada pengamatan pada anak sulung saya

saya tidak bermaksud terlalu membanggakan anak saya. sekalipun saya memang membanggakannya. tetapi share ini bukan untuk tujuan pamer. tetapi untuk bisa melihat dan “belajar” pada perilaku siapapun termasuk anak2 saya

saya suka mengamati anak2 saya. suatu hari di jadwal puja malam hari. seperti biasa saya selalu melakukan puja bersama anak2. selain sebagai upaya sadhana bagi diri sendiri tetapi juga sebagai media pembelajaran terhadap anak2 saya. disinilah quality time kami. 

tiba kesempatan untuk melakukan aarati, saya selalu meminta Anak sulung saya untuk menyalakan api aarati dari api jyotir. dia nampak bersemangat sekaligus takut terkena apinya. saya terus mendorong agar dia berani. setelah beberapa hari pada akhirnya dia berani dan mencobanya. alhasil tangannya terbakar (ga parah, ga sampai menimbulkan belas luka bakar). tetapi yang pasti saya tau rasanya sangat panas, dan dia bolak balik mengaliri tangannya di kran air. dia tidak menangis dan saya hanya mengamatinya sambil mengatakan tidak apa2. coba lagi besok dan kemudian saya menunjukkan caranya

keesokan harinya dia bangun dan langsung mengatakan, ma tangannya ga panas. udah sembuh. bagus nak. itu artinya rasa sakit pasti hilang

setelah itu dia selalu mengamati saya bagaimana caranya menyalakan api tanpa terbakar. 

suatu kali sementara saya bermeditasi, dia menyalakan sendiri dan berhasil. dia sangat girang dan menghampiri saya dan “membangunkan” ku dari meditasi. oh ya api aarati sudah menyala. meskipun urutan selanjutnya bukan aarati, tetapi karena menghargai usahanya. saya langsung aarati saja. 

dalam hal ini, ini adalah puja kami, cara kami. kegembiraan kami. apapun bisa berubah. tidak mesti urutan menjadi kacau dan “salah”. kami tidak begitu. kami melakukannya dengan riang. dan saya yakin, Tuhan tidak pernah protes. hahahahhaha

kembali soal si sulung. keesokan harinya dia bersemangat menunggu aarati utk menyalakan api. dan selalu ia melakukannya sampai aarati selesai. saya dalam batin berpikir. anakku tidak mudah menyerah. selalu ada semangat di dalamnya. ga mudah kapok. ga ngambekkan. suatu perkembangan baik buatnya dan suatu pelajaran penting dariNya, diberikan melalui si sulung. 

Demikianlah dalam kehidupan ini, jangan menyerah. berjalan terus. belajar selalu. setiap dari kita perlu sebuah tantangan, ketegangan untuk menguji keteguhan dan kemampuan tidak menyerah. 

bersemangat, tidak menyerah bagi saya adalah simbol cinta dan bukan ambisi. ambisi akan mengantarkan pada kekecewaan dan cinta menghasilkan kepuasan. 

bagi saya cinta bukan tentang pria wanita sebagaimana para ABG. cinta bagi saya adalah sesuatu yang membuat saya menjadi bersemangat melakukan apa saja. ceria yang natural. bukan menceria-ceriakan diri. bukan polesan. bukan kepalsuan. 

memperoleh semangat dan rasa kasih adalah anugrah. inilah yang membuat wajah berseri2. hormon2 ikut meramaikan keadaan bahagia ini. 

beberapa orang merasa heran apakah saya sedang jatuh cinta pada seseorang sehingga setiap hari saya bersemangat begitu. apa yang terjadi dengan saya kata seorang teman. yang lain mencurigai saya ada “seseorang” yang membuat saya jatuh cinta. hahahaha. saya geli dengan semua pernyataan dan pertanyaan itu. 

saya memang sedang di mabukkan oleh Kasih. kasih Baba. pada pagi, siang, malam saya akan melakukan apa saja, saya selalu ditemani lagu2 Bhajan Baba, yang membuat saya bahagia dan tidak terpikir utk memiliki kesedihan apalagi memasang emoticon marah pada status saya. status saya selalu falling love. karena memang rasanya begitu. pertama saya falling love dengan Aarati Baba, lalu falling love dengan Bhajan Baba. lalu saya seringkali merindukannya begitu dalam. inilah kegilaan saya. sebagaimana kegilaan mirabai pada Krishna. saya tak sepadan dengan mirabai. tapi setidaknya saya mengerti pengalaman langsung mirabai. 

saya memang sedang LDR dengan suami. tanpa suami bukan berarti saya tidak mengerti batasan dan bertindak bodoh. justru karena jarak itulah membuat saya tidak menyerah dan mesti tanpak ceria yang sesungguhnya. dan bukan menceria-ceriakan diri. saya “memalingkan” wajah saya menuju kasih ilahi. kasih yang tidak menuntut. 

saya tidak sedang GR. saya sedang menulis pengalaman saya

inilah pratyaksa pramana. pengalaman langsung. dan ini unik

terimakasih….

Satya, Dharma, Santih, prema, ahimsa

Love all, serve all

Renungan #Yoga Patanjali: Pranava atau Sabda Alam Om adalah Ungkapan Verbal-Nya

“Pranava atau Sabda Alam Om adalah Ungkapan Verbal-Nya (Ungkapan Verbal Tuhan, Paramatma, Sang Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.27
Om atau Aum—A, U, dan M—adalah Sabda Awal. Bukan Suara Awal, kita tidak tahu suara awal itu seperti apa. Kita. Bahkan tidak pernah mendengar Suara Awal itu. Sebab dengan Suara Awal itulah terjadinya Ciptaan. Barangkali hingga saat ini pun masih beresonansi pada frekuensi yang sangat tinggi atau sangat rendah. Bisa merusak gendang telinga kita, atau tidak terdengar sama sekali. Jadi, bukan Suara Awal, tapi Sabda Awal.
PEMAHAMAN INI SEKALIGUS MENGOREKSI pemahaman saya sebelumnya, saat saya masih menyamakan suara dengan sabda. Suara, kita tidak tahu. Namun, Sabda sebagai ungkapan Suara Awal itu, dapat diketahui. Dapat didengar dan dapat diucapkan.
Sabda Awal atau tepatnya Ungkapan Awal dari Suara Awal itulah Om atau Aum.
Lalu kenapa “atau”?
Kenapa tidak ada kepastian? Ada, ada kepastian. Dari sudut semesta, ada kepastian. Namun, dari sudut pendengaran kita tak ada kepastian.
Sering sekali saya mendengar orang-orang yang selalu mengucapkan Se sebagai She, dan sebaliknya She sebagai Se. Misalnya, “misal”-nya disebut “mishal”-nya. Bukan, bukan karena tidak bisa rnengucapkan se; karena Show dibalikin pula sehingga terdengar Sow. Ini contoh yang nyata, cukup jelas. Ada juga perbedaan-perbedaan yang tidak cukup nyata, tidak cukup jelas. Satu kata yang sama terucap oleh saya bisa sedikit beda ketika terucap oleh Anda.
SABDA AWAL, OM ATAU AUM awalnya “terdengar”—tidak tertulis, belum tertulis. Adalah menakjubkan bahwa hingga sekarang pun, para saintis mengatakan bila suara desis yang terdengar dari matahari “mirip” sekali dengan sabda Aum atau Om.
Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)
…………………..
Silakan diuji, dicoba. Ucapkan dengan cara yang betul sebanyak 21 kali setiap pagi antara jam 04.00—O7.00 selama 3 bulan saja. Anda pasti merasakan tidak hanya fisik Anda menjadi lebih sehat; pikiran pun Iebih tajam, lebih jernih; dan, perasaan lebih tenang.
“Untuk mengakses semesla Anda tiduk perlu menggunakan kata atau password yang panjang lebar, sekian digit, dan mesti terdiri dari sekian kata dan sekian angka?
Tidak, tidak perlu semua itu?
Cukup dengan ‘suara’—sabda singkat. Dan, semesta terbuka lebar dan luas bagi Anda?”
Silakan simak penjelasan lengkap tentang Sabda Awal Om pada Tautan di bawah ini:

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Semoga para pembaca kutipan buku ini diberkati dengan kelembaban jiwa, kebahagiaan, kesejahteraan dan keceriaan.

“Pranava atau Sabda Alam Om adalah Ungkapan Verbal-Nya (Ungkapan Verbal Tuhan, Paramatma, Sang Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.27

Om atau Aum—A, U, dan M—adalah Sabda Awal. Bukan Suara Awal, kita tidak tahu suara awal itu seperti apa. Kita. Bahkan tidak pernah mendengar Suara Awal itu. Sebab dengan Suara Awal itulah terjadinya Ciptaan. Barangkali hingga saat ini pun masih beresonansi pada frekuensi yang sangat tinggi atau sangat rendah. Bisa merusak gendang telinga kita, atau tidak terdengar sama sekali. Jadi, bukan Suara Awal, tapi Sabda Awal.

PEMAHAMAN INI SEKALIGUS MENGOREKSI pemahaman saya sebelumnya, saat saya masih menyamakan suara dengan sabda. Suara, kita tidak tahu. Namun, Sabda sebagai ungkapan Suara Awal itu, dapat diketahui. Dapat didengar dan dapat diucapkan.

Sabda Awal atau tepatnya Ungkapan Awal dari Suara Awal itulah Om atau Aum.

Lalu…

Lihat pos aslinya 478 kata lagi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai