Mengapa Sindhu?

avatar sindhustudiesCentre for Sindhu Civilisation Studies

(tulisan oleh Made Harimbawa)

Pertanyaan ini muncul sejak pertama kali saya mendengar tentang berdirinya Pusat Studi Peradaban Sindhu. Mengapa untuk mengenal jati diri bangsa, kita harus jauh-jauh terbang ke negeri yang kini berada di dalam wilayah negara Pakistan? Tidak cukupkah apa yang ada di tanah air ini dirangkai, disusun dan dijadikan titik tolak?

Ternyata jawaban yang saya dapat dari mendengarkan, membaca dan dari hasil perenungan, semuanya bulat: Tidak cukup! Apa yang kita miliki saat ini hanyalah sekeping dari banyak sekali pecahan yang entah di mana sisa-sisanya. Betul, bahwa ada sekian banyak kearifan lokal yang pantas diapresisasi oleh kita sendiri, bahkan dunia. Benar, bahwa kita masih punya sekian banyak lokasi bersejarah yang masih perlu digali agar kembali bersentuhan dengan matahari. Hal-hal tadi memang harus selalu kita dilakukan, tapi untuk menghadapi tantangan yang sekarang dihadapi, kita butuh obat mujarab segera, karena kita sedang sekarat.

Merangkai Indonesia bukan pekerjaan mudah. Makin hari, makin…

Lihat pos aslinya 496 kata lagi

Renungan #Gita: Merawat Mempercantik Kendaraan “Tubuh” tanpa Mengendarai menuju Tujuan?

Badan adalah kendaraan Jiwa…

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 7:4

“Tanah, air, api, angin, eter (subtansi ruang), gugusan pikiran serta perasaan (manah atau mind), kemampuan untuk memilah (buddhi atau integensia), dan ego (ahamkara atau ke –aku-an) – kedelapan hal ini adalah prakrti atau sifat kebendaan-Ku, yang menyebabkan kesadaran rendah.”Bhagavad Gita 7:4

 

“Segala upaya kita selama ini – dari yang bersangkutan dengan profesi dan keluarga, hingga bermasyarakat, politik, hubungan dengan sesama, kepercayaan, dan lain sebagainya – semuanya menyangkut kedelapan hal ini. Semuanya menyangkut alam benda, kebendaan, kesadaran rendah. Jadi , selama ini segala upaya kita sekadar untuk merawat kendaraan, mempercantiknya, menghiasnya, mengisi bahan bakar – dan, that’s that. Kendaraan itu tidak pernah dipakai untuk menuju tujuan – yaitu untuk menyadari hakikat diri.

“Kendaraan kita terparkir rapi, manis di garasi dunia ini. Namun, dalam keadaan itu pun, bahan bakarnya tetap menguap. Maka, dari waktu ke waktu kita pun mengisi bahan bakar, dan merasa…

Lihat pos aslinya 383 kata lagi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai