Akankah Kita Berhenti Menilai

Sebuah pengalaman hidup hari ini mengajari aku. Bagaimana seseorang dapat begitu mudah menyimpulkan, begitu mudahnya menilai. Oh dia tidak ingin berbicara denganku lagi, oh dia sudah tak ingin bersamaku lagi, oh dia sudah menutup semua pintu konunikasi.

Lalu pikiran membumbuinya lagi. Ini sudah waktunya berhenti. Inilah saatnya aku balik kanan.

Produk pikiran pikiran yang demikian adalah sebuah produk hasil penilaian sendiri. Hanya dengan melihat gejalanya.

Bahkan Ia tak tau yang terjadi. Aku dalam kehilangan. Kehilangan akses. Dalam ketidakberdayaan itu, dia telah menilaiku.

Ini terjadi sudah dua kali. Aku tengah berjuang, tapi dia tengah menyimpulkan. Aku tengah berusaha tapi dia mulai meragu.

Ada apa? Apa yang terjadi dengan hatimu? Apa yang terjadi dengan kepekaanmu?

Apakah mungkin, apa yang engkau pikirkan adalah apa yang engkau harapkan? engkau berpikir aku berhenti. Bukankah itu yang engkau harapkan?

Ini hanyalah retorika malamku. Perdebatan pikiranku. Lagi lagi hanya penilaianku.

Gambar hanya pemanis

Puisi Patah Hatiku

Di ujung malam yang sunyi,
Dingin merasuk dalam hati.
Kau pergi tanpa kata perpisahan,
Meninggalkan rasa pilu dan sunyi.

Komunikasi putus, sepi terasa,
Seperti angin yang menghempas tanpa henti.
Ku mencari bayangmu dalam gelap,
Namun hanya hampa yang terasa.

Puisi ini jadi saksi bisu,
Akan derita hati yang terluka.
Saat kata-kata tak lagi terucap,
Kau pergi dan biarkan hati patah.

Namun dari patah, ku temukan kekuatan,
Mengumpulkan serpihan luka yang tercecer.
Memulai langkah baru tanpa hadirmu,
Meski hati masih patah, ku akan bangkit.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai