CINTA BERSYARAT

Manusia diikat oleh 3 sifat alam kebendaan. Selama berbadan manusia, sifat alam ini mempengaruhi dirinya dan menjadi sifatnya. Ketiga sifat manusia tersebut adalah  tamas, rajas dan satwik. Tamas adalah malas, rajas adalah rajin, dinamis, semangat dan satwik adalah tenang Ketiganya ada pada diri manusia. Ketiganya dibutuhkan. Malas terhadap hal2 tidak baik, malas terhadap kebiasaan2 tidak baik,  Malas terhadap ajakan yang tidak baik adalah contoh fungsi tamas yang menguntungkan. 

Rajas adalah sifat aktif, rajin, termasuk ambisius.

Banyak hal baik ditemukan dalam rajas. Banyak juga kekacauan disebabkan oleh rajas ini. Seperti tidak sabaran, terburu2 adalah rajas.

Satwam adalah sifat tenang, sifat tenang adalah baik. Tetapi Satwam juga melahirkan sifat tidak produktif. Berada di zona nyaman adalah satwik. Perkembangan menjadi berhenti.

Karenanya ketiga sifat mesti di lampaui. 
Berbicara tentang para pecinta, ada 2 kategori yaitu cinta bersyarat dan cinta tak bersyarat. Pengetahuan ini di kutip dari buku Narada Bhakti sutra. 
Cinta bersyarat
Tamasika lovers

Para Tamasika lovers adalah ia yang mencintai dan melakukan sesuatu karena di minta atau diingatkan. Apakah diingatkan oleh buku, oleh orang, atau hal lain. Ia akan melakukan sesuatu hanya ketika diminta. Tidak ada inisiatif. Tidak ada upaya. Mereka malas. Inilah para pecinta tamasik
Rajasika Lovers 

Para Rajasika lovers adalah ia yang tidak tumpul, tidak malas, bahkan mereka2 ini berpengetahuan. Mereka memiliki ketajaman berpikir, cerdas. Tetapi seluruh potensinya digunakan untuk “bertransaksi”. Saya mau ini jika kamu gitu. Saya cinta kamu hanya ketika kamu cinta saya, bagi para Rajasika lovers, segala sesuatu harus berguna dan menguntungkan. Entah menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau kelompok, yang jelas menguntungkan. Oleh karenanya para rajasika lovers suka memaksakan kehendak. 

Sebagian besar dari kita berada pada kualitas rajasika lovers. 
Satvika lovers, 

Para Satvika lovers atau para pecinta Satvika adalah mereka yang tenang dan cinta damai, persuasif. Yang penting “aman” dan “damai”

Mereka menghindari perdebatan. Good. Terdengar sangat “alim” tapi ternyata inipun harus di lampaui.
Berada dimanakah kita? ‎

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di Apresiasi Buku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s