Ketidakwarasan Kita

Ketidakwarasan Kita
Merefleksi diri, bahwa bangsa kita pernah di jajah oleh kaum penjajah. kejadiannya mungkin bukan karena para “penjajah” itu sangat jahat, tapi karena kita menerima dan terbuka dan siap serta rela untuk di jajah, masyarakat pada zaman itu banyak yang menjadi “prajurit” yang di bayar untuk menjajah bangsanya sendiri. seorang anak bangsa menjajah bangsanya sendiri, begitulah sejujurnya yang terjadi, namun di perhalus bahasanya agar “tidak malu” mereka di sebut prajurit dari negara penjajah, padahal ya rakyat “pribumi” yang di bayar. 
apa yang ingin saya tulis dengan merefleksikan cerita di atas, bahwa secara genetis kita mewarisi juga “kebodohan” itu, mudah di perdaya, mudah di bayar. 

sebuah kisah atau contoh dalam kehidupan sehari2…
seorang “ibu” mengasuh anak saya dan mengajarinya dengan cara “membodohinya” yaa namanya anak2 ya manut manut saja. saya terus mengamatinya meskipun saya tidak setuju dengan “caranya”. 

saya mengamatinya untuk keperluan “penelitian” kecil kecilan. 

hehehehe

kalo bukan, saya dan anak saya yang bereksperiment soal pengalaman seperti itu, bagaimana kami tau. hanya baca buku? itu hanya pengetahuan di kepala
begini kisahnya, 

si “ibu” ingin agar anak saya tinggal di rumah, tidak selalu ikut saya, mungkin karena kasihan saya terlihat “rempong”, maka dia berusaha dengan “merayu” anak saya, memberinya mainan kesukaannya, lalu saya di minta pergi diam2. 

contoh lain, saya diminta mengiyakan seluruh permintaan anak saya agar dia “diam” padahal dia di bohongi, semua kata iya itu tidak pernah terpenuhi. 

saya tidak setuju cara-cara seperti itu. itu membuat anak2 hidup dalam “hayalan”. membuatnya mendapat janji semu. saya tidak setuju gaya seperti itu

meskipun saya bukan orang tua yang berpengalaman dan di tambah saya adalah orang tua “baru”, tapi saya terus terbuka untuk belajar. 

bagi saya, ada metode lain yang memang terasa sulit dan berat namun akan memberinya pelajaran, memberinya “karakter”

metode itu adalah, saya mengajaknya bicara, menjelaskan padanya bahwa anak2 tidak boleh ikut ibunya bekerja dan seterusnya dan sebagainya. dia memang akan menangis dan tidak setuju dengan penjelasan kita, dia akan meronta2. saya akan membiarkannya menangis. wajar bagi anak kecil menangis ketika keinginannya tidak terpenuhi. saya kemudian akan terus mengulanginya setiap hari. bicara dengan anak kecil tidak seperti bicara dengan orang dewasa. sekali bicara sudah cukup. kalo dengan anak2. kita mesti melakukan “pengulangan”. karena kita sedang “memprogramnya”. memprogram ini bukan untuk membentuk anak – anak seperti yang kita inginkan, namun untuk memberinya pemahaman tentang situasi tertentu. 

saya juga mendengarkan kemauan mereka, saya juga memenuhi keinginannya. namun ada keinginan2 tertentu yang tidak boleh di penuhi. seperti kebanyakan makan coklat, selain menyebabkan radang, coklat juga berpotensi menggelisahkan anak2. sehingga sulit menenangkan diri. untuk kasus seperti ini tentu saya sebagai orang tua harus ekstra sabar dan tidak bosan melakukan pengulangan dan afirmasi.
pengulangan dan afirmasi ini saya berikan ketika selesai puja pagi, mereka akan menyentuh kaki saya, dan bersujud, dengan di lantunkan sebuah mantra. saya mengamati pada keadaan ini, anak2 akan menunggu sebuah pesan dan doa dari ibunya. anak2 manggut- manggut dan menunjukkan kesediaan dengan sukarela tanpa paksaan. buktikan sendiri!
nah untuk kejadian pertama itu di atas, kini anak saya tidak mau lagi di rayu, di kasi mainan kesukaan agar dia lupa bahwa ibunya akan berangkat kerja. dia tau itu “pembodohan dan kebohongan”

nah terbukti khan. 

anak saya menolak pemograman seperti itu. saya tau, anak- anak saya memiliki jiwa seperti saya, menyukai “kebebasan”. tidak suka banyak peraturan.
sebetulnya mengasuh anak tidak susah2 amat, tapi juga tidak gampang amat. 

saya hanya mengamati bahwa ketika anak semakin banyak di larang, dia akan semakin berontak. ini seperti menjadi hukum alamiah.

tapi sejak usia dini. dia harus tau dengan tegas bahwa prinsip2 dasar harus di lakukan. seperti puja atau sembahyang adalah prinsip dasar. membuat atau membentuk agar memiliki mood untuk sembahyang atau puja itu tidak mudah lho, anak2 harus di latih sejak dini. 
Mengapa saya kaitkan dengan “penjajahan”? karena ada perbedaan besar antara model pendidikan “orang zaman dulu” dengan zaman kini. mereka cenderung bermodel seperti pada zaman penjajahan. 

semoga saya tidak salah “menilai” ini. 
Ketika kita tidak belajar dari kejadian sehari2 maka itulah dimulainya Ketidakwarasan kita. kita hanya bernafas, dan belum benar – benar “menikmati” hidup ini
Selamat hari Pendidikan Nasional 

#longlifeeducation

#loveindonesia
jadikan setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, setiap buku adalah ilmu dan setiap waktu adalah kesempatan untuk belajar

Ki Hajar Dewantara

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s