GALUNGAN : The Victory of Dharma

Masih dalam suasana Perayaan hari raya Galungan. sebagai insan yang haus akan pemaknaan dari setiap tradisi, saya mencoba membaca kembali buku agung ini. setelah membaca saya ingin menerjemahkannya dalam bahasa indonesia dan kemudian ingin berbagi. apa yang saya lakukan ini sepenuhnya adalah upaya yang gagap, jauh dari pegetahuan sejati.

Galungan dan Kuningan adalah dua festival Masyarakat Bali paling penting yang sangat mengakar dalam tradisi lisan dan sejarah di Pulau Bali. Berbeda dengan Nyepi, yang mana masyarakat biasanya mengisi hari dengan menikmati keheningan untuk memperingati Tahun Baru Saka. Galungan dan Kuningan sangat ekspresif dan semarak. Sehingga kedua festival ini sarat dengan kemeriahan pesta.
Pada Hari Raya Galungan diyakini bahwa seorang Rakshasa bernama Maya Danawa yang berkuasa di Pulau Bali untuk waktu yang sangat lama dibunuh oleh seorang mahkluk surgawi untuk membebaskan manusia dari tirani. Demikian kemenangan dharma atau kebenaran melawan adharma atau ketidakbenaran. Masyarakat merayakan kemenangan ini dengan bergembira, berdoa, berpesta dan menggunakan baju baru. Perayaan juga diisi dengan upacara tradisional yang ditandai dengan memainkan segala macam permainan, termasuk apa yang mungkin kita anggap sebagai judi atau pertaruhan.
Sekarang mari kita lihat beberapa perspektif sejarah. Selama mendiskusikan ini saya (Anand Krishna) mengingat siaran Televisi Interaktif saya beberapa waktu lalu. Hal itu membuat saya tertarik untuk membuat catatan bahwa kebanyakan dari generasi tua tidak mengetahui dan tidak peduli terhadap perspektif sejarah dari kisah ini. Tetapi tidak dengan generasi muda, bagaimanapun, mereka penuh perhatian, memiliki rasa ingin tahu dan ingin menggali lebih dalam tentang hal ini.
Secara Historis, kita pernah mendengar tentang teks/sastra yang disebut dengan “Surya Siddhanta” atau “Prinsip – prinsip/ajaran-ajaran Surya (Matahari). Teks/sastra ini diterjemahkan ke dalam bahasa arab lebih dari 1000 tahun yang lalu. Kalifah Harun Al-Rasyid dan penerusnya ditugaskan menerjemahkan beberapa teks/sastra penting bahasa sansekerta. Dan Para penerjemah mendapat upah/bayaran emas yang nilainya setara dengan nilai teks/sastra tersebut. Itulah mengapa angka 0 (nol) dikenal di arab lebih dahulu sebelum Barat.
Surya Siddhanta dianggap berasal dari seorang sarjana Rakshasa (demon-scholar) yang bernama Maya Danawa. Saat ini banyak demon (rakshasa) telah lahir. Mereka dapat menguasai dan unggul diberbagai bidang. Tidak ada larangan pendidikan dan apapun yang mungkin ingin mereka capai untuk dapat berprestasi.
Maya berarti ilusi, dan Danawa secara umum diterjemahkan sebagai Rahshasa berbeda dengan Manawa atau manusia. Sekali lagi secara historis, Danawa adalah keturunan dari Rsi Danu dan Manawa adalah keturunan dari Rsi Manu. Kemungkinan ada persaingan diantara kedua keturunan Rsi ini, dan kemenangan satu atas yang lain diberi label sebagai Danawa atau Rakshasa. Dengan Penelitian secara lebih detail, kita mendapati bahwa kedua Rsi ini, Danu dan Manu berasal dari leluhur yang sama.
Sekitar 8000 SM, Maya Danawa tercatat membangun Kota Langka untuk menantunya, Ravana,Tokoh antagonis dalam Epos Besar Ramayana. Putri Maya Danawa, Mandodari menikah dengan Ravana.
Rupanya, Maya Danawa adalah penulis Surya Siddhanta, Ia juga adalah seorang arsitek besar dan seorang Pembangun. Terdapat beberapa kota legendaris dan juga istana yang didirikan oleh Maya Danawa.
Dalam teks/sastra penting Surya Siddhanta, Maya Danawa sendiri tidak mengklaim diri sebagai penulis. Dia menyatakan menerima ajaran ini dari sebuah Ansh, atau sebuah cahaya dari matahari. Hal ini dapat juga diterjemahkan sebagai “Mempelajari ajaran melalui mengamati cahaya matahari”.
Sastra tersebut memberi penjelasan tehnik secara lengkap dari sebuah model “hydraulic-powered geocentric solar system” yang digunakan untuk memprediksi astronomi. Dia juga menyarankan kepada para mahasiswanya agar teks/sastra yang diberikan kepada mereka – untuk dijaga kerahasiaannya “demi mempertahankan keuntungan yang kompetitif”. Temuan ini adalah referensi pertama yang pernah ada dan memiliki hak cipta. Maya Danawa tidak hanya seorang science tetapi juga orang yang ahli dalam perdagangan dan industri. Rupanya dia mengetahui bagian penting dari ekonomi dan khususnya marketing.
Dengan segala keakuratan dari geocentric sistem, Maya Danawa sebenarnya adalah peletak dasar bagi matematikawan seperti Aryabhata dan varahamihira yang muncul dikemudian hari sehingga dapat merumuskan beberapa perhitungan yang luar biasa. Sebagai contoh, rata – rata lamanya hari dalam Tahun tropis adalah 365,2421756 hari yang mana hanya 1,4 detik lebih pendek dari pada perhitungan modern yaitu 365,2421904 hari. Disamping astronomi, Surya Siddhanta juga menjadi dasar dari Trigonometri modern.
Sebagai mertua dari Ravana, Maya Danawa juga memiliki hubungan yang baik dengan sepupu Ravana, yaitu Kubera, yang menguasai wilayah yang saat ini lebih dikenal sebagai benua australia, yang sebelumnya disebut dengan Astralaya, artinya “gudang dari persenjataan / amunisi”. Jika bukan satu-satunya, Kubera pasti adalah supplier tentara dan amunisi yang paling penting yang pernah ada saat itu.
Maya Danawa dan Kubera, keduanya adalah seorang yang idealis. Mereka tidak akan menjual produk dan keahlian mereka kepada seorang penguasa expansionis. Mereka membuat sebuah penjanjian dengan pihak lain untuk bertindak sebagai Dewan Keamanan untuk seluruh Dunia.
Setelah kematian mereka, namanya diabadikan oleh keturunan – keturunan dari Maya Danawa sekitar 5000 Tahun yang lalu. Sikap untuk mempertahankan monopoli perdagangan setelah mereka mati, menjadikan mereka arogan dan rakus.
Spirit dari pedagang yang opportunis mengalahkan para scientist. Mereka mulai dengan tidak hati-hati menjual keterampilan dan pengetahuannya dengan tawaran yang tinggi. Demikian mereka menciptakan sebuah Legion dari para penguasa yang serakah.
Akhirnya -sekarang kita harus kembali pada cerita rakyat yang populer, melegenda dan mentradisi- Para penguasa Jambudvipa (Anak Benua India dan Kepulauan Indonesia) bergabung untuk memboikot mereka, dan menghancurkan Tripura, Kota berlapis tiga. Kota itu disebut demikian karena lapisan demi lapisan memiliki prosedur keamanan yang sangat rapi dan design yang strategis untuk melindungi diri dari serangan musuh.
Orang yang selamat – sekali lagi menurut cerita rakyat yang populer- bersembunyi di Patala – secara umum dipercaya hingga sekarang – wilayah yang terletak dibawah tanah. Bagaimanapun itu mungkin juga berarti “wilayah yang lebih rendah” yang bermakna sebagai “bagian yang lebih rendah dari dunia” yang mana akan menjadi Bali.
Kemungkinan, salah satu dari Junior Maya Danawa kemudian menjadi penguasa Bali dan beberapa pulau kecil disekitarnya. Barangkali Junior Maya Danawa, atau keturunannya, yang kematiannya dirayakan sebagai hari Galungan.
Selama perayaan Galungan, masyarakat Bali percaya bahwa Leluhur kembali ke Bumi untuk bersama – sama dalam perayaan dan selama 12 hari setelahnya yaitu pada hari Kuningan mereka kembali lagi ke alamnya,
Apapun yang kita buat melalui kisah ini dan kepribadian Maya Danawa, satu pelajaran yang penting yang kita dapat pelajari dari episode ini adalah bahwa kekuatan mutlak dapat menjadi sangat berbahaya dan membahayakan.
Kemenangan Dharma adalah kemenangan dari insting hewani kita yang lebih rendah seperi keserakahan, arogan dan lain sebagainya – Maya Danawa ada di dalam diri kita masing – masing.
Dikutip dan diterjemahkan dari Buku “The Wisdom of Bali The Sacred Science of Creating Heaven on Earth” karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2010 halaman 115-117
Salam Rahayu __/\__

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s