Jnana dan Vijnana 

Apa ya perbedaan jnana dan vijnana? Kedua kata ini seolah satu paket yang tidak dapat dipisahkan.  Kita akan memperlajarinya.  Secara Khusus kita akan merujuk kepada Bhagavad Gita Karen  dalam Bhagavad Gita di ulas pada bab ke 7 atau percakapan ke 7. 

Mari kita baca ulasan Bapak Ānand Krishna berikut ini yang di kutip Dari Buku Bhagavad Gita, Hal 294 – 295 yang diterbitkan oleh Pusat Studi Veda dan Dharma, 2014


Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bhagavad Gita, 7.2 : 

Jnanam te ham sa-Vijnanam idam vaksyamy asesatah,

Yaj jnatva neha bhuyo’nyaj jnatavyam avasisyate 

Terjemahan : 

“Akan Ku-jelaskan padamu dengan sejelas-jelasnya Jnana – Pengetahuan Sejati (tentang Hyang Maha Gaib) serta Vijnana – Ilmu (tentang wujud-Nya yang Nyata) – tiada sesuatu lagi yang perlu kau ketahui setelah mengetahui Hal ini.”

Jnana adalah “Pengetahuan Sejati” – yang mesti dialami sendiri. Jnana adalah knowingness – bukan knowledge, Bukan ilmu pengetahuan. Jnana mengantarkan kita pada pengalaman tertinggi, dimana kita  melihat wajahnya-Nya dimana – mana. Ia berada dalam setiap mahkluk. 

Vijnana adalah ilmu, dalam pengertian Sains; mengajarkan kita untuk menerjemahkan pengetahuan sejati yang telah kita peroleh, telah kita Alami – kedalam bahasa keseharian hidup. 

Ia Hyang Maha Gaib, Absolut, Tak Berwujud adalah pengalaman jiwa tanpa suara. Setelah mengalaminya jiwa menjadi hening, damai, Tenang. Namun bagaimanapun juga – selama badan masih ada- pengalaman yang telah diperoleh itu mesti diterapkan, dilakoni, Bukan sekedar dirasakan saja. Untuk menerapkan inilah, dibutuhkan Sains, ilmu terapan. Inilah Vijnana 

Tanpa mengalami jnana dan menguasai Vijnana, kita akan selalu terjebak dalam perdebatan tanpa ujung dan tanpa pangkal, “apakah Tuhan berwujud atau tidak?” Jika Tuhan “tidak berwujud saja”, dan kita menganggap wujud semesta berada diluar diri-Nya, maka kita menciptakan dualitas. Dan dualitas inilah sumber segala konflik. 

Untuk mengakhiri konflik ini, Krishna mengatakan bahwa Tuhan adalah kedua – duanya. 

Ia adalah Maha Gaib dan Maha Nyata. Memang kita sudah sering membaca pernyataan -pernyataan seperti ini – tapi apakah kita memahaminya? 

Seseorang yang dibesarkan dalam keluarga yang berkepercayaan pada Hyang Maha Gaib, tidak mampu melihatnya dalam ikon -ikon, simbol – simbol dalam kepercayaan lain, dimana Tuhan bukanlah abstrak saja. Tapi “bisa” berwujud – Ia “dapat”, dan sesungguhnya “sudah” mewujud. Segala wujud adalah wujud-Nya. 

Kekerasan hati dan karakter yang muncul dalam masyarakat adalah disebabkan oleh pemahaman “paruh” tentang kebenaran. Ketika kita menganggap kebenaran sebagai sesuatu yang tidak nyata dan hanya dapat dirasakan saja, dialami saja – maka kita memisahkan pengalaman itu dari kehidupan kita sehari-hari. Pencarian Tuhan Hyang Maha Gaib menjadi sesuatu yang Khusus, khas – sementara kehidupan adalah sesuatu yang terpisah. Perpisahan ini membuat kita super lembut dalam pengertian “emosional” – penuh tangisan dan rintihan- ketika berada dalam “mode” mencari Tuhan. Dan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, kasar, ketika menghadapi kenyataan hidup. 

Kelembutan kita menjadi sesuatu yang tidak nyata pula. Sementara yang tampak di permukaan adalah kekerasan. Inilah tragedi sejarah selama beberapa millennium terakhir. Walau kita mengatakan bahwa Tuhan Maha Gaib dan Maha Nyata, wajah-Nya dimana – mana, tapi kita tidak mempercayai hal itu. Kita hanya berbasa-basi. Maka, mudah sekali bagi kita untuk menghancurkan ikon-ikon, simbol -simbol yang merayakan kemuliaan-Nya sebagai Hyang Maha mewujud. 

Hari ini menghancurkan ikon- ikon yang terbuat dari tanah, Batu  dan metal. Besok menghancurkan kehidupan. Lalu merusak lingkungan. Esoknya lagi menyembelih sesama mahkluk hidup. Lalu membunuh sesama  manusia. Mudah bagi kita – Karena kita tidak melihat wajah-Nya, Wujud-Nya, dalam ikon – ikon itu; kita tidak merasakan kehadiran-Nya di dalam diri sesama mahkluk hidup dan sesama manusia. 

Selama ini barangkali kita Baru memiliki “pengetahuan” tentang “Pengetahuan Sejati” – kita belum mengalaminya. Maka, kita masih memisahkan Hyang Maha Gaib dan Hyang Maha Nyata. Kemudian, Karena belum Ada “pengalaman pribadi” – apa pula yang mau diterapkan dalam kesehatian hidup? Vijnana tidak dibutuhkan lagi. 

Lebih celaka lagi, jika kita menganggap Vijnana sebagai Jnana. Ilmu pengetahuan yang bisa saja di peroleh Dari buku, lewat pengalaman orang lain, kita sejajarkan dengan pengalaman pribadi yang belum pernah kita peroleh. Ini menciptakan ilusi, “aku tahu segalanya”. Baik,  tahu tentang nasi goreng, tapi apakah pengetahuan saja dapat mengenyangkan perut kita? Jelas tidak bisa. 

Jnana dan Vijnana inilah sumber segala dualitas dan konflik. Dan, ini pula solusi untuk mengakhiri segala konflik. Saat kita memahami perbedaan sekaligus hubungan antara keduanya – konflik berakhir. 

Jnana mengantar kita pada “pengalaman pribadi” – sehingga tidak Ada lagi keraguan tentang sesuatu. Dan Vijnana menjelaskan cara  untuk menerapkan pengalaman tersebut dalam keseharian hidup. 

Krishna mengatakan, “wahai Arjuna, setelah menguasai, memahami, mengalami keduanya ini – tiada lagi sesuatu yang perlu kau ketahui.”

Hasil dari  Jnana atau Pengetahuan Sejati adalah Kesadaran Diri, Kesejatian Diri, memahami Jiwa sebagai percikan dari Sang Jiwa Agung. Dan, hasil dari Vijnana adalah melayani sesama, mencintai sesama dan kepedulian terhadap sesama. Berbagi berkah dengan sesama. Duo inilah yang disebut “tertinggi” oleh Krishna, yang mana jika sudah diketahui, dialami dan dilakoni- tiada lagi yang perlu di ketahui, dialami ataupun dilakoni. Inilah Pengalaman sekaligus Ilmu tertinggi. 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; 

Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. 

Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s