P A G E R W E S I  : Momentum Memagari Diri Dari Hoax

pagerwesi

Selamat hari suci Pagerwesi, semoga kita senantiasa di tuntun agar selalu berada di jalan dharma.

Masih dalam suasana hari kemerdekaan yaa… Bulan “kemenangan dan kebebasan”. Kebebasan dari penjajahan fisik. Tetapi tidak dengan penjajahan dalam bentuk lain. Seperti penjajahan Budaya, Narkoba, dan tentu juga penjajahan dari Hoax. Hari Pagerwesi juga dapat kita maknai sebagai hari kebebasan kita terhadap penjajahan dan kebodohan dengan memuja Tuhan dalam perwujudannya sebagai Guru alam semesta.

Momentum pagerwesi sangat tepat apabila kita maknai dengan renungan tentang “memagari diri” sebagaimana pagerwesi secara harfiah diartikan sebagai “pagar dari besi”. Saat ini kita tidak perlu pagar besi lagi, pagar yang kita butuhkan kini lebih “soft” dan tak terlihat. Mengapa kita memerlukan “pagar diri”? apakah kita begitu lemah dan tak berdaya sehingga perlu dipagari?

Manusia pada umumnya atau kebanyakan dari kita memang berada pada zona yang “lemah” mudah terpengaruh, kita sangat fluktuatif, naik – turun, pasang surut. Kesadaran kita sangat fluktuatif… kita belum atau tepatnya dalam proses untuk belajar menjadi manusia yang teguh dan kokoh terhadap kebenaran (manusia Stitha Prajna). Sehingga kita perlu memagari diri, sebagaimana pagar atau pelindung diri diperlukan oleh tanaman yang masih kecil dan baru tumbuh, demikian juga kita yang baru “belajar” ke arah “keteguhan hati dan kesadaran yang hakiki. Pagar diri ini juga diperlukan untuk menghadapi penjajahan seperti yang disebutkan diatas.

Pagerwesi juga adalah hari penghormatan terhadap guru agung. Guru semesta. Parambrahman sebagai Guru tertinggi. Dalam berguru kita mesti menyadari dan melakukan proses belajar sepanjang hayat. Apalagi dengan arus informasi yang mengalir begitu deras. Segala sesuatu dapat diakses dengan mudah. Jika kita tidak cukup jeli, maka kita akan sulit membedakan informasi yang benar dan informasi yang tidak benar atau Hoax.

hoax

Hari gini masih tertipu dengan berita – berita tidak bertanggungjawab? Masih suka kemakan hoax? Pakai smart phone tapi tidak menjadi smart people… hehehhehe

Banyak netizen yang kurang memperhatikan konten – konten yang tidak bertanggungjawab beredar di media sosial. Misalnya seseorang memiliki minimal 4 media sosial saja, dengan followers ribuan orang, maka sekali reshare, berita atau informasi tersebut memiliki peluang dibaca dan di reshare oleh ribuan followers tersebuit. Tak butuh waktu lama, satu konten (berita) bisa menjadi viral di sosial media. Efeknya, berita Hoax bisa menimbulkan kerugian yang besar dan berdampak signifikan terhadap kestabilan ekonomi, dan mengganggu kondusifitas masyarakat. Dan tidak sedikit dalam beberapa kasus, berita Hoax menjadi sumber pemecah belah masyarakat. Nah kejadian ini, memberi kesadaran baru bagi para netizen untuk bergerak dan melawan hoax.

Di banyak daerah di Indonesia mulai terbentuk komunitas yang – bukan hanya memagari – tetapi justru memerangi konten – konten yang diangap hoax. Masyarakat internet juga berkumpul dan mendeklarasikan semangat anti hoax. Banyak juga sekolah – sekolah yang bergerak dan mengadakan seminar atau kampanye anti hoax.

Bagaimana cara memagari diri dari berita hoax? Sederhananya, kita mulai dari diri sendiri. Kita mulai dari akun pribadi kita. Ada beberapa hal kongkret yang bisa kita lakukan:

  1. Melakukan Klarifikasi yaitu dengan meninjau kembali berita tersebut terkait isu yang disampaikan seperti subjeknya, lokasi, atau sumber yang dijadikan rujukan.
  2. Memanfaatkan media sosial dengan positif yaitu dengan mengobarkan kembali semangat positif. Dewasa ini, semangat nasionalisme perlu ditingkatkan melalui konten – konten yang kita share.
  3. Menyebarkan kebenaran yaitu dengan memenuhi sosial media kita dengan kebenaran yang menjadi pegangan dalam hidup kita.

Dalam perspektif agama Hindu, disampaikan bahwa menyebarkan kebenaran adalah dharma.

Yajurveda XXVI.2

Yathemam vacam kalyanim avadani janebhyah,

Brahma rajanyabhyam sudraya caryaya

Ca svaya caranaya ca

Artinya

‘Hendaknya disampaikan sabda suci ini kepada seluruh umat manusia, cendekiawan-rohaniawan, raja/pemerintahan/masyarakat. Para pedagang , petani dan nelayan serta para buruh, kepada orang-orangku dan kepada orang asing sekalipun’.

Selain hal – hal kongkret tersebut diatas, sebagai umat Hindu kita perlu menjadikan beberapa konsep ajaran Hindu berikut ini untuk dijadikan pedoman dalam menghadapi konten – konten yang tidak bertanggung jawab atau konten – konten hoax

  1. Konsep Tri Semaya, yaitu konsep waktu yang terdiri dari Athita (masa lampau), anaghata (Masa yang akan datang / masa depan) dan warthamana (masa kini). Apakah konten yang kita dapatkan atau yang kita temui adalah benar berdasarkan waktu lampau, apakah mengandung fakta sejarah? Apakah konten tersebut bermanfaat bagi kita di masa sekarang dan apakah konten tersebut menunjang kehidupan kita dimasa depan?
  2. Konsep Tri Pramana, yaitu Pratyaksa Pramana (Pengalaman langsung), anumana Pramana (berdasarkan kesimpulan yang logis) dan Sabda Pramana (berdasarkan sumber – sumber sastra yang terpercaya). Kita dapat menyaring berita atau konten dengan menggunakan konsep ini, apakah berita ini merupakan pengalaman langsung sang penulis? Ataukan berdasarkan analisa yang logis ataukah berdasarkan sumber – sumber yang terpercaya dan kredibel.

Kita perlu memadumadankan kedua konsep tersebut diatas dalam hal melawan hoax.

Selanjutnya, kita juga perlu memahami ilmu komunikasi, bagaimana berkomunikasi secara efektif sehingga informasi yang kita teruskan atau yang kita sampaikan dapat dipahami dan tidak terjadi “misinterpretasi”. Kita perlu belajar dari Dewi Saraswati sebagai guru Agung alam semesta, Dewi ilmu pengetahuan. Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA mengemukakan konsep Dewi komunikasi yang menjadikan Dewi Saraswati sebagai Dewi tertinggi ilmu komunikasi Hindu. Kata saraswati berarti mengalir. Komunikasi itu mengalir, oleh karena itu ada istilah kata – kata yang mengalir. Sehingga Dewi saraswati juga disebut sebagai Dewi kata – kata atau Dewi Percakapan. Seseorang yang memahami atau menguasai suatu bidang tertentu, akan menyampaikan sesuatu dengan mengalir. Disini dimaksudkan bahwa jika seseorang ingin memiliki kata – kata yang mengalir, maka ia mesti memiliki pengetahuan yang memadai dan menguasai bidang tersebut. Memahaminya dengan dalam. Demikian sebaliknya jika kita tidak dapat berkomunikasi dengan efektif, atau komunikasi kita “macet” maka masalah terjadi.

Selanjutnya, memagari diri juga perlu dilakukan dengan menanamkan konsep kearifan lokal orang bali yaitu metilesang rage (insropeksi diri) dan nawang lek (tahu malu). Kita perlu melakukan instropeksi diri sebelum menyebarkan informasi. Kemudian kita juga perlu memiliki rasa tau diri, malu akan diri sendiri jika kita akan menyebarkan informasi yang tidak benar.

Lebih jauh, dalam komunikasi Hindu, sebagai upaya menyebarkan informasi yang bermanfaat seseorang mesti menggunakan komunikasi dengan model Sadharanikaran, yang disampaikan oleh Dr. Nirmala Mani Adhikari dimana komunikasi ditekankan pada hal – hal yang berorientasi pada kebaikan masyarakat, berorientasi pada kesatuan dan bukan pemecah belah.

Pada akhirnya kita mesti belajar sepanjang hayat, mampu bersikap kritis untuk mencegah penyebaran informasi yang bersifat hoax. Berguru dan menjadi smart adalah cara kita memaknai hari Pagerwesi. Hari Pemujaan terhadap Guru alam semesta. Semoga para guru menuntun kita senantiasa berada pada jalan dharma.

Om shanti

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di Materi Pelajaran, Media Pembelajaran, My Life Note, Pasraman Widya Bhuana, Pendidikan agama Hindu dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s