Berpegang Teguh Pada Kebenaran dan Tak Tergoyahkan oleh Tantangan Berat

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

sukham ātyantikam yat tad buddhi-grāhyam atīndriyam

vetti yatra na caivāyam sthitaś calati tattvatah

Bhagavad Gītā, 6.21

“Ketika Jiwa mengalami kebahagiaan tertinggi yang (berasal dari dirinya sendiri, dan) melampaui segala kenikmatan Indra, bahkan segala kenikmatan yang dapat diperolehnya lewat intelek, Maka Ia akan berpegang teguh pada kebenaran, dan tak tergoyahkan lagi oleh tantangan Seberat apa pun!”

Ketika sang pangeran dalam kisah sebelumnya telah menemukan jati dirinya, Maka Ia tidak akan pernah membiarkan Kesadaran itu “terlupakan lagi”.

Ia tidak akan pernah Meninggalkan atau melepaskan “kebenaran” dirinya Sebagai pangeran. Ia bukanlah seorang perampok.

SEORANG YOGI YABG SUDAH MENYADARI dirinya Sebagai Jiwa tak akan terperangkap oleh identitas-identitas palsu rekaan badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan, maupun inteligensia.

Jiwa yang sudah merasakan kebahagiaan tertinggi ibarat pangeran yang “sudah kembali ke istananya”. Ia tidak tertarik lagi dengan kenikmatan-kenikmatan Indra yang diperolehnya dalam “Kesadaran palsu” sebagai perampok.

Ia tidak merampok lagi, Karena menyadari dirinya Sebagai pangeran. Jika kita Sadar bahwa panggung sandiwara adalah Untuk menghibur, maka kita akan menikmati segala pertunjukan diatas panggung – tapi tidak mengidentifikasikan diri dengan cerita di atas panggung.

Kita penonton! Tidak perlu membawa pulang panggung atau peran di atas panggung. Nikmati – dan kembalilah ke Istana – ke tempat asal kita!

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 22/01/2018-MA

ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 263-264

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s