
Menjadi guru sejak tahun 2009 membuat saya mengalami perjalanan panjang dalam memahami proses pembelajaran dan asesmen. Salah satu praktik yang terus saya lakukan selama bertahun-tahun adalah menyusun dan mengembangkan soal. Setiap soal yang saya buat saya simpan, modifikasi, dan kembangkan kembali sehingga secara bertahap terbentuk sebuah bank soal pribadi.
Ketika pertama kali menjadi guru, saya belajar menyusun soal dengan cara mengamati dan meniru berbagai bentuk soal yang banyak beredar pada berbagai mata pelajaran. Pada saat itu, pertanyaan umumnya singkat dan langsung. Pemahaman saya tentang soal yang baik terutama berkaitan dengan kesesuaian antara pertanyaan dan materi yang telah diajarkan.
Dengan demikian, apabila siswa mampu mengingat dan memberikan jawaban sesuai dengan materi pembelajaran, saya menganggap proses penyusunan soal telah berjalan dengan baik. Tanpa saya sadari, pemahaman tersebut membuat sebagian besar soal yang saya susun berorientasi pada kemampuan recalling.
Seiring bertambahnya pengalaman, saya mulai mengembangkan bentuk soal menjadi lebih kompleks. Saya menyimpan setiap soal yang pernah saya buat dan memodifikasinya agar siswa tidak sekadar menghafal jawaban dari soal-soal sebelumnya. Namun, sebelum mengenal artificial intelligence (AI), terdapat beberapa bagian yang selalu menjadi tantangan dalam penyusunan soal, terutama membuat stimulus, merancang pengecoh, dan menentukan tingkat kesulitan.
Ketika AI Membantu Saya “membedah” Kembali Soal-Soal Lama
Pada awalnya, saya menggunakan AI sebagai alat bantu untuk mengembangkan soal. Saya mencoba membuat stimulus, memperbaiki pertanyaan, mengembangkan alternatif jawaban, dan melihat kemungkinan pengembangan soal menjadi lebih menantang. Dalam proses tersebut, saya kemudian mencoba melakukan sesuatu yang berbeda: membedah kembali soal-soal yang telah saya buat sejak tahun 2009.
Hasilnya cukup mengejutkan.
“Lho, ternyata sebagian besar soal saya C1 dan C2.”
Temuan tersebut membuat saya berhenti dan melihat kembali praktik yang telah saya lakukan selama bertahun-tahun. Saya telah membuat, menggunakan, menyimpan, dan memodifikasi soal dengan tujuan agar semakin baik dan tidak mudah dihafalkan siswa. Namun, ketika soal-soal tersebut dilihat dari perspektif tuntutan kognitif, sebagian besar ternyata masih berada pada tingkat mengingat dan memahami.
Kesadaran tersebut membawa saya pada pertanyaan yang lebih mendasar, Apa sebenarnya yang saya ukur melalui asesmen yang saya buat? Saya mulai menyadari bahwa soal yang sesuai dengan materi pembelajaran belum tentu mampu memberikan gambaran mengenai kemampuan berpikir siswa. Siswa dapat menguasai informasi yang ditanyakan, tetapi hal tersebut belum menunjukkan bahwa mereka mampu menggunakan informasi tersebut untuk menganalisis persoalan, memberikan alasan, mengevaluasi informasi, atau mengambil keputusan.
Bagi saya, inilah titik penting dalam perjalanan tersebut. AI bukan hanya membantu saya membuat soal baru. Dalam konteks ini, AI menjadi semacam cermin reflektif yang membantu saya melihat kembali praktik profesional yang telah saya lakukan selama bertahun-tahun. Setelah menyadari bahwa sebagian besar soal saya berada pada level C1 dan C2, saya mulai membaca kembali teori mengenai Higher-Order Thinking Skills (HOTS) dan mencoba memperbaiki soal-soal yang telah saya buat di masa lampau.
Saya mulai belajar membuat stimulus, merancang pertanyaan yang menuntut analisis dan evaluasi, serta menyusun pilihan jawaban yang benar-benar plausible. Saya juga mulai memahami bahwa soal yang terlihat panjang atau kompleks belum tentu merupakan soal HOTS.
Tantangan terbesar justru muncul ketika saya harus menjawab pertanyaan Apakah soal ini benar-benar C4 atau C5, atau hanya terlihat sulit? Saya belajar bahwa sebuah stimulus harus memiliki fungsi dalam proses berpikir siswa, bukan sekadar menjadi teks panjang sebelum pertanyaan. Pilihan jawaban juga harus dirancang dengan baik sehingga tidak memberikan cue kepada siswa. Misalnya, jawaban yang paling panjang atau paling rinci tidak seharusnya secara tidak sengaja menjadi petunjuk bagi siswa untuk memilihnya.
Proses ini membuat saya semakin memahami bahwa menyusun asesmen bukan hanya persoalan menulis pertanyaan. Di dalamnya terdapat keputusan pedagogis dan kognitif proses berpikir seperti apa yang sebenarnya ingin saya lihat dari siswa?
Saya kemudian mulai mengubah pertanyaan yang saya ajukan kepada diri sendiri. Bukan lagi hanya:
“Apakah materi ini sudah masuk ke dalam soal?”
tetapi:
“Apa yang harus dilakukan siswa secara kognitif untuk dapat menjawab soal ini?”
Perubahan pertanyaan tersebut secara perlahan mengubah cara saya memandang asesmen.
Refleksi tersebut kemudian membawa saya pada kesadaran yang lebih jauh. Jika saya ingin siswa mampu menganalisis, mengevaluasi, memberikan alasan, dan melakukan reasoning, maka kemampuan tersebut tidak dapat muncul secara tiba-tiba ketika siswa menghadapi asesmen. Siswa perlu mendapatkan kesempatan untuk berpikir selama proses pembelajaran. Saya mulai menggunakan pembelajaran berbasis masalah dan memberikan ruang yang lebih besar untuk diskusi dengan siswa. Saya mulai memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjelaskan alasan dari jawaban yang diberikan, mempertimbangkan kemungkinan lain, dan mendiskusikan bagaimana mereka sampai pada suatu kesimpulan.
Pada titik ini saya menyadari bahwa persoalannya ternyata bukan hanya kualitas soal. Kualitas asesmen sangat berkaitan dengan kualitas pengalaman belajar yang mendahuluinya. Jika pembelajaran lebih banyak memberikan pengalaman mengingat dan menerima informasi, kemudian asesmen tiba-tiba menuntut analisis dan evaluasi, maka terdapat ketidaksesuaian antara instruction dan assessment.
Sebaliknya, jika siswa terbiasa menghadapi masalah, berdiskusi, memberikan alasan, mempertimbangkan informasi, dan membangun kesimpulan, maka asesmen yang menuntut reasoning menjadi bagian yang lebih natural dari proses belajar. Saya mulai melihat asesmen bukan sebagai sesuatu yang berada di akhir pembelajaran, tetapi sebagai bagian dari satu kesatuan proses
Ketika melihat kembali bank soal yang saya bangun sejak 2009, saya tidak melihatnya sebagai kumpulan soal yang salah. Soal-soal tersebut merupakan bagian dari perjalanan profesional saya sebagai guru. Soal-soal tersebut merekam bagaimana pemahaman saya tentang asesmen berkembang dari waktu ke waktu.
Pada awal perjalanan, saya berfokus pada kesesuaian soal dengan materi. Kemudian saya belajar membuat variasi dan meningkatkan kompleksitas soal. Setelah mengenal HOTS, saya mulai mempertanyakan tuntutan kognitif dari setiap pertanyaan. Dan ketika AI membantu saya membaca kembali praktik tersebut, saya mulai melihat bahwa asesmen dan pembelajaran tidak dapat dipisahkan.
Pengalaman ini juga membuat saya memahami bahwa professional learning tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang baru. Kadang-kadang, pembelajaran profesional justru dapat dimulai dengan membaca kembali praktik lama secara kritis. Bank soal yang selama ini saya anggap sebagai arsip ternyata dapat menjadi evidence of professional learning.
AI dalam pengalaman saya juga bukan pengganti guru. AI membantu menyediakan perspektif, alternatif, dan analisis yang kemudian harus saya evaluasi kembali berdasarkan pengetahuan pedagogis dan konteks pembelajaran saya. Keputusan tentang apakah sebuah soal benar-benar mengukur kemampuan yang diinginkan tetap membutuhkan professional judgment seorang guru. Yang berubah bukan hanya soal yang saya buat. Yang berubah adalah cara saya memandang pekerjaan membuat soal itu sendiri. Pada akhirnya, perjalanan dari membuat soal menuju merancang asesmen membawa saya kembali kepada hakikat pembelajaran itu sendiri
Bukan tentang apa yang siswa ketahui, tetapi tentang apa yang dapat mereka lakukan dengan pengetahuan tersebut.
Dan mungkin, perubahan paling penting dalam perjalanan saya bukan ketika saya mulai mampu membuat soal C4 atau C5, tetapi ketika saya mulai bertanya:
“Apakah pembelajaran saya sudah memberi siswa cukup kesempatan untuk menjadi pemikir?”
