Hidup Sehat ala Ayur Veda

Ayur Veda adalah cabang dari kitab upaveda yang merupakan bagian dari kitab Smrti. Upaveda terdiri dari 7 kitab diantaranya: Itihasa, Purana, Ayur Veda, Artha Sastra, Gandharwa Veda, Kama Sastra dan kitab agama.

Ayur veda adalah ibu kandung dari pengetahuan Yoga. Mempelajari yoga secara filosofis dapat ditemukan pada kitab Bhagavad gita ataupun pada kitab-kitab Upanisad. Dan mempelajari yoga ala praktik seperti asanas, kita akan merujuk pada 4 kitab utama yang muncul pada abad ke-15. Keempat kitab Hatha Yoga itu diantaranya Hatha Yoga Pradipika oleh Yogi Swatmarama adalah yang paling terkenal. Teks kedua hatha yoga yang disusun oleh Yogi Gorakhnath dikenal sebagai Goraksha Samhita. Teks ketiga adalah Gherand Samhita oleh Gherand, dan teks keempat yang dikenal sebagai Hatharatnavali yang ditulis oleh Srinivasabhatta Mahayogindra.

Ayur Veda adalah ilmu pengetahuan kesehatan yang paling kuno dalam peradaban masyarakat hindu india. Kitab ini memuat berbagai hal tentang ilmu “kedokteran Veda”.

Setiap dari kita tentu ingin hidup sehat, karena kesehatan adalah kekayaan, kedamaian pikiran adalah kebahagiaan dan yoga menunjukkan jalannya. Inilah mengapa yoga adalah “putra” dari ayur veda. Dengan tubuh sehat kita dapat mempraktikkan Yoga dan sebaliknya dengan mempraktikkan yoga, kita memperoleh kesehatan “luar dalam”.

Bagaimana kita hidup mengikuti petunjuk Ayur Veda? Berikut ulasannya:

1. Memahami time manajemen alam semesta, dimana menurut ayur Veda terdapat 3 Bio Energi yang bekerja pada alam semesta. Ketiga Bio energi tersebut adalah Vata, Vitta dan Kappa. Vata adalah elemen angin. Vitta adalah elemen api dan kappa adalah alemen air.

Elemen vata meningkat atau dominan pada pagi hari. Untuk itu, bagunlah sebelum matahari terbit sehingga mendapatkan badan yang ringan dan fit. Sifat dari lemen ini adalah aktif, sehingga perlu di counter dengan rutinitas atau kegiatan – kegiatan yang sifatnya calm.

2. Mengatur pola hidup sehat dengan rutinitas sebagai berikut:

    Setelah bangun tidur, minumlah segelas air hangat yang ditambah dengan perasan lemon, bubuk kunyit organic, dan lada hitam. Kunyit bubuk baru bekerja secara optimal jika dicampur dengan lada hitam. Minuman ini membantu mendetoks pencernaan, mencegah peradangan pada saluran pencernaan.
    Cucilah wajah atau lakukanlah mandi setengah.
    Mengerik lidah dengan alat kerik lidah. Kebiasaan ini akan sangat baik untuk meningkatkan kesehatan mulut, menstimuli semua organ dalam, mengatasi bau mulut, membersihkan lidah dari toksin dan kuman, meningkatkan kualitas pencecapan dan meningkatkan kesehatan pencernaan.
    Menggosok gigi dengan teknik yang benar dan kemudian BAB
    Lakukan 10-15 menit yoga asanas, suryanamaskara ataupun berjalan pagi kemudian lakukan olah nafas dan meditasi (10-21 menit) hal ini untuk mind manajemen.
    Lakukan Self masages dengan minyak untuk meluruhkan sel-sel kulit mati, gunakan kain katun untuk menggosok badan, sambil berkumur dengan minyak VCO.
    Mandi dan sarapan ringan dengan buah, atau jus secukupnya.

Seluruh aktivitas rutin ini dilakukan oleh setiap orang. Namun penting sekali dilakukan oleh ibu-ibu untuk memberi contoh kepada putra putrinya gaya hidup sehat ala ayur veda.

Matur suksme

Pendalaman Pesan dari kisah Bambang Ekalavya

Bambang Ekalaya versi mahabharata

Ekalaya adalah seorang pangeran dari kaum Nisada. Kaum ini adalah kaum yang paling rendah yaitu kaum pemburu, namun memiliki kemampuan yang setara dengan Arjuna dalam ilmu memanah. Bertekad ingin menjadi pemanah terbaik di dunia, lalu ia pergi ke Hastina ingin berguru kepada bhagawan Drona. Tetapi ditolaknya.

Penolakan Sang Guru
Keinginannya yang kuat untuk menimba ilmu panah lebih jauh, menuntun dirinya untuk datang ke Hastina dan berguru langsung pada Drona. Namun niatnya ditolak, dikarenakan kemampuannya yang bisa menandingi Arjuna, dan keinginan dan janji Drona untuk menjadikan Arjuna sebagai satu-satunya ksatria pemanah paling unggul di jagat raya, yang mendapat pengajaran langsung dari sang guru. Ini menggambarkan sisi negatif dari Drona, serta menunjukkan sikap pilih kasih Drona kepada murid-muridnya, dimana Drona sangat menyayangi Arjuna melebihi murid-murid yang lainnya.

Belajar dibawah bayangan patung Sang Guru
Penolakan sang guru tidak menghalangi niatnya untuk memperdalam ilmu keprajuritan, ia kemudian kembali masuk kehutan dan mulai belajar sendiri dan membuat patung Drona serta memujanya dan menghormati sebagai seorang murid yang sedang menimba ilmu pada sang guru. Berkat kegigihannya dalam berlatih, Ekalaya menjadi seorang prajurit yang gagah dengan kecapakan yang luar biasa dalam ilmu memanah, yang sejajar bahkan lebih pandai daripada Arjuna, murid kesayangan Drona. Suatu hari, ditengah hutan saat ia sedang berlatih sendiri, ia mendengar suara anjing menggonggong, tanpa melihat Ekalaya melepaskan anak panah yang tepat mengenai mulut anjing tersebut. Saat anjing tersebut ditemukan oleh para Pandawa, mereka bertanya-tanya siapa orang yang mampu melakukan ini semua selain Arjuna. Kemudian mereka melihat Ekalwya, yang memperkenalkan dirinya sebagai murid dari Guru Drona.

Pengorbanan seorang murid
Mendengar pengakuan Ekalaya, timbul kegundahan dalam hati Arjuna, bahwa ia tidak lagi menjadi seorang prajurit terbaik, ksatria utama. Perasaan gundah Arjuna bisa dibaca oleh Drona, yang juga mengingat akan janjinya pada Arjuna bahwa hanya Arjuna-lah murid yang terbaik diantara semua muridnya. Kemudian Drona bersama Arjuna mengunjungi Ekalaya. Ekalaya dengan sigap menyembah pada sang guru. Namun ia malahan mendapat amarah atas sikap Ekalaya yang tidak bermoral, mengaku sebagai murid Drona meskipun dahulu sudah pernah ditolak untuk diangkat murid. Dalam kesempatan itu pula Drona meminta Ekalwya untuk melakukan Dakshina, permintaan guru kepada muridnya sebagai tanda terima kasih seorang murid yang telah menyelesaikan pendidikan. Drona meminta supaya ia memotong ibu jarinya, yang tanpa ragu dilakukan oleh Ekalaya serta menyerahkan ibu jari kanannya kepada Drona, meskipun dia tahu akan akibat dari pengorbanannya tersebut, ia akan kehilangan kemampuan dalam ilmu memanah. Ekalaya menghormati sang guru dan menunjukkan “Guru-bhakti”. Namun tidak setimpal dengan apa yang didapatkannya yang akhirnya kehilangan kemampuan yang dipelajari dari “Sang Guru”. Drona lebih mementingkan dirinya dan rasa ego untuk menjadikan Arjuna sebagai prajurit utama dan tetap yang terbaik.

Kematian sang prajurit
Kematian Ekalaya termuat dalam Srimad Bhagavatha. Ekalaya bertempur untuk Raja Jarasandha dalam peperangan melawan Sri Krishna dan Balarama, dan terbunuh dalam pertempuran oleh pasukan Yadawa.

 

Ibu Jari Tangan Kanan Bambang Ekalawya

Memaknai kisah bhakti Ekalavya kepada gurunya Rsi Drona, dengan mempersembahkan ibu jari tangan kanannya memiliki makna bahwa ibu jari adalah simbol ilmu pengetahuan. Tidak hanya ibu jari, jari-jari yang lain pun memiliki makna tersendiri yang secara keseluruhan merupakan cara untuk hidup. way of life.

Ibu jari adalah simbol dari Guna yang berarti ilmu pengetahuan

Jari telunjuk adalah simbol Gina yang berarti keterampilan

Jari tengah adalah simbol dana yang berarti harta/kekayaan

Jari manis adalah simbol punia dan asih yang berarti kemampuan berbagi dan mengembangkan kasih

Jari kelingking adalah simbol idep atau kebajikan dan kebijakan.

Dalam kehidupan ini, kita mencari dan belajar agar memiliki ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan kita akan memiliki keterampilan. Dengan keterampilan kita gunakan untuk mendapatkan harta kekayaan dan dengan harta kekayaan kita dapat melakukan punia juga mengembangkan kasih. Setelah keempat pilar tersebut, maka hidup kita merupakan pancaran dari kebajikan.

semoga bermanfaat…

Salam Rahayu  __/\__

*Tema ini disampaikan dalam Dharma Wacana harı suci tilem Jyestha di Pura Buana Agung Kota Bontang, Sabtu, 4 Mei 2019

IMG_3955.jpg

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai