Wejangan Anand Krishna: Jangan Berdagang, Bernegosiasi Dengan Tuhan

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

“Bagi mereka yang dungu, wahai Pārtha (Putra Pṛthā – sebutan lain bagi Kuntī, Ibu Arjuna), apa yang tersurat dalam Veda, dalam kitab-kitab suci, adalah segala-galanya.” Bhagavad Gita 2:42

https://bhagavadgita.or.id/

 

Ini suatu sloka yang sangat membingungkan banyak orang. Kita tidak lagi menggunakan viveka, menggunakan kesadaran, menggunakan buddhi, tapi mengikuti segala sesuatu letterlijk, apa yang tersurat, apa yang tertulis. Banyak orang ketika kita bicara sesuatu mereka mengatakan, “tapi di Lontar ada……..”

Lontar-lontar kita, kitab-kitab kita itu segala macam berita juga ada. Lalu apakah kita harus mengikuti semua berita itu? Ada seorang penjahat melakukan kejahatan, koran memberitakan, terus apakah kita harus mengikuti tindakan kriminal itu? Saya berikan contoh di mahabharata, ada cerita tentang Yudistira yang disebut Dharmaraja, Raja Dharma main dadu, judi, kalah. Terus karena seorang Dharmaraja, seorang Yudistira pernah main judi, apakah kita garus membenarkan judi itu?

Kitab-Kitab Suci dalam tradisi Hindu tidak memberikan harus begini harus begitu. Kitab-Kitab Suci kita…

Lihat pos aslinya 886 kata lagi

Wejangan Anand Krishna: Pikiran Selalu Berubah, Berbuat Baik Jangan Ditunda, Berbuat Buruk Tunda Dulu!

Jangan jadi Peragu

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

“Para Kesatria Agung akan menyimpulkan bahwa kau tidak bertempur karena takut.  Mereka yang selama ini menghormatimu, akan berbalik mencelamu, meremehkanmu.” Bhagavad Gita 2:35

https://bhagavadgita.or.id/

 

Krishna lagi mengingatkan kita apa yang terjadi kalau kita hidup di tengah masyarakat. Juga tidak berarti segala sesuatu yang kita lakukan harus diblessing, harus diterima oleh masyarakat. Tidak juga. Kalau kita hidup di tengah masyarakat yang tidak mengenal dharma, di situ shastra, kitab-kitab suci kita mengatakan “ekla chalo re”, jalanlah sendirian.

Walaupun seluruh masyarakat mencelamu, kalau kamu berada pada dharma kamu harus mampu berjalan sendiri. Tidak usah mengikuti masyarakat. Tapi kalau kamu sendiri bersalah hati-hati. Kalau kamu tidak bersalah tidak ada noda di bajumu walaupun masyarakat mengatakan apa pun juga, kamu harus tetap jalan sendiri. Nggak usah minta bantuan siapa-siapa. Tidak perlu mengharapkan pengakuan dari masyarakat. Asal kamu tidak ada salahnya. Kalau kamu melakukan kesalahan, ceritanya lain lagi. Jadi setiap saat kita harus hatihati.

“Apalagi…

Lihat pos aslinya 1.440 kata lagi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai