Sadhana Saat Gerhana Bulan

1516935359133_6e8qk_geklau

Ketika Matahari, Bulan dan Bumi berada dalam satu garis, ada pola energi kosmik yang berbeda sedang terjadi dan ini disebut “gerhana”. Gerhana ada 2 yaitu gerhana bulan dan gerhana matahari. Pada Hari Rabu, 31 januari 2018, di prediksi akan terjadi gerhana Bulan. Gerhana Bulan adalah waktu yang sangat tepat untuk mempraktikkan Sadhana, olah spiritual untuk meningkatkan kualitas diri. Apa saja yang dapat kita lakukan saat gerhana Bulan? Yuk simak ulasan berikut!

Pikiran dan perasaan terhubung dengan Bulan; tubuh terhubung dengan Bumi; dan Matahari terhubung dengan keduanya. Ketika ketiganya berada dalam satu garis lurus (gerhana), hal ini mempengaruhi tubuh, pikiran dan perasaan. Untuk menjaga kestabilan tubuh, pikiran dan perasaan, maka sangat baik saat gerhana kita melakukan praktik spiritual. Dalam literature Veda di sebutkan ada beberapa hal yang dapat di praktikkan sebagai Sadhana:

  • Mempraktikkan meditasi dan japa ataupun chanting (melagukan sloka/mantra kitab suci Veda). Meditasi, japa dan chanting berfungsi untuk mengurangi fluktuasi pikiran dan perasaan sehingga gelombang-gelombang pikiran dan perasaan dapat diminimalkan. Jika memilih melakukan japa, sebaiknya japa dilakukan dengan menggunakan mantra khusus untuk gerhana bulan, seperti AUM AIM KLEEM SOMAAYA NAMAHjika mantra ini diucapkan dalam satu putaran mala (108 kali) maka kekuatannya disebutkan dalam Veda menjadi 1000 kali lipat. Hal ini terjadi karena di perkuat oleh efek gerhana. Wow…
  • Mempraktikkan Upavasa (puasa) saat gerhana Bulan untuk kesehatan tubuh. Puasa berfungsi untuk menyelaraskan tubuh (menyiapkan tubuh bagi penyelarasan pikiran dan perasaan). Ketika gerhana bulan terjadi, volume air di laut mengalami pasang, sehingga hal tersebut mempengaruhi kondisi atau volume air di dalam tubuh meningkat, oleh karenanya kondisi ini secara mental menyebabkan kegelisahan karena air di dalam tubuh adalah representasi dari keinginan dan hasrat. Kegelisahan ini mesti di netralisir dengan upavasa (puasa) agar konsumsi makanan dan minuman yang masuk berkurang, sehingga dapat melatih menjernihkan pikiran. Jika anda tidak mampu melakukan upavasa penuh dikarenakan kondisi tubuh tidak memungkikan, anda dapat tidak makan dalam waktu 1-2 jam sebelum puncak gerhana. Sehingga pada saat puncak gerhana, perut anda tidak terlalu penuh (kenyang) dan tidak lapar. Hal ini akan membantu anda dapat melakukan meditasi dengan baik.
  • Melakukan dana punia. Menurut kitab slokantara 17, menyebutkan bahwa Dana Punia yang dilakukan saat gerhana Bulan memberikan phala 100 kali lipat.

Gerhana bulan merupakan fase terakhir Dakshinayana, atau sadhana pada sistem yoga. Selama Dakshinayana, matahari menuju ke belahan bumi selatan. Sedangakn selama Uttarayana, matahari menuju ke belahan bumi utara. Dalam tradisi yoga, Dakshinayana dipandang sebagai periode sadhana. Uttarayana dilihat sebagai periode pencerahan, dan bukan kebetulan bahwa begitu banyak yogi mencapai pencerahan mereka pada awal fase ini. Yang paling terkenal adalah Bhishma, yang menunggu hari kematiannya dari tempat tidur anak panahnya sehingga ia bisa melepaskan tubuhnya pada saat Uttarayana.

Semoga bermanfaat…

Salam Rahayu

Bontang, 31 Januari 2018 – MA

Supermoonblueblood4567778.jpeg

 

 

 

 

Yoga Mengantarkan Kita Pada keadaan Viyoga – Berpisah dari segala duka-derita

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yam labdhvā cāparam lābham manyate nādhikam tatah

Yasmin sthito na duhkhena gurunāpi vicālyate

Bhagavad Gītā, 6.22

“Setelah memperoleh kebahagiaan sejati, Jiwa tersadarkan bila perolehannya itu melebihi segala perolehan lain; Maka, menghadapi pengalaman duka seberat apa pun – Ia tetap Tak Tergoyahkan.”

Komitmen kita pada kebenaran, pada kebajikan – Satya dan Dharma – Selalu Tergoyahkan karena kita belum mencapai keadaan meditatif. Kita belum mencapai kesempurnaan dalam Yoga. Kita belum merasakan kebahagiaan sejati yang dirasakan seorang Yogī. Sebab itu, duka-derita pun Selalu menyelimuti Jiwa…..

BARU DITANTANG SEDIKIT, Baru dihadapkam pada sedikit penderitaan – kita kalang kabut, mencari tiang penyangga, mencari sandaran, mencari dukungan di luar diri. Kita lupa menoleh ke dalam diri. Kenapa?

Karena, saat tidak Ada tantangan, kita tidak melatih diri dalam Yoga untuk membangun self-defence, pertahanan diri yang tangguh. Kemudian, saat tantangan di depan mata, kita kehilangan arah, kehilangan pandangan yang jernih. Kita tidak tahu mesti melakukan Apa!

Pertahanan-diri mesti dibangun Dari sekarang. Saat terjadi banjir, Kita Baru membangun tanggul – ya tidak bisa. Inilah saatnya untuk membangun pertahanan diri – supaya saat menghadapi tantangan nanti – kita sudah siap.

Kita lanjutkan pada sloka berikutnya:

tam vidyād duhkha-samyoga-viyogam yoga-samjñitam

sa niscayena yoktavyo yogo’nirvinna-cetasā

Bhagavad Gītā, 6.23

“Yoga membebaskan diri dari segala duka dan derita (termasuk dari kelahiran dan kematian berulang-ulang). Sebab itu, lakonilah hidup dalam Kesadaran yoga dengan gugusan pikiran dan perasaan yang mantap, tidak mengenal lelah; keteguhan hati; dan keyakinan.”

Yoga – sebagaimana dijelaskan Krsna dalam ayat ini adalah keadaan viyoga – berpisah dari duhkha atau duka

Yoga memisahkan kita dari keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan duka dan derita. Viyoga berarti “berpisah dari” – Jadi kalau punya Anak, jangan diberi nama Viyoga – perpisahan- berilah nama Yoga – Pertemuan 🙂

SEDIKIT SELINGAN… banyak nama kita yang menggunakan akar bahasa Sanskrit secara salah. Misalnya, seperti nama Wiyoga yang cukup populer di Jawa.

Selain itu juga Merta, yang artinya adalah “Mati”. Mungkin, maksudnya adalah Amrta, yang semestinya Amerta dalam ejaan Jawa – Kekal, abadi.

Ada yang mengatakan, apa arti sebuah nama?!? Tergantung sang penanya. Jika mau diartikan, Maka dia akan punya arti. Jika tidak, ya tidak punya arti.

KEMBALI PADA TOPIK KITA… Latihan – latihan, pola hidup, pola Makan, bahkan pola-tidur Yoga – semuanya mengantar kita pada suatu keadaan viyoga – keadaan saat kita berpisah dari Segala macam duka dan derita

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ<<<
moga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 23/01/2018-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 264-265

<<<
><<
p>

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai