Setelah Mind Terkendali, ber-Yoga menjadi Mudah

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yadā viniyatam cittam ātmany evāvatisthate

nihsprhah sarva-kamebhyo yukta ity ucyate tadā

Bhagavad Gītā, 6.18

“Ketika gugusan pikiran dan perasaan (mind) telah terkendali atas kemauan diri (disciplined), terpusatkan atau diarahkan sepenuhnya pada diri sendiri, Aku Yang Sejati, atau Jiwa – maka seorang pelaku Yoga terbebaskan dari segala keinginan atau nafsu rendahan.”

Persis seperti orang yang sudah terbiasa makan makanan sehat, di tempat yang higienis – tidak akan mencari makanan yang tidak sehat di pinggir jalan. Ia telah memahami arti kesehatan. Maka Ia akan mengabaikan godaan-godaan dari luar untuk mencoba jajanan yang tidak higienis. Ia tidak tergoda.

KONDISI INI TERJADI SENDIRI setelah kita memahami betul arti Yoga; ketika kita melakoni Yoga sebagai pola hidup; ketika kesadaran kita terpusatkan pada diri, dalam pengertian kita mengurusi diri sebelum berpretensi, atau berpura-pura seolah bisa melayani orang lain. Saat itu, pengendalian diri pun menjadi mudah.

Saat ini, kita belum mengurusi diri, belum mengendalikan diri, pun tidak melayani orang lain, tapi sibuk “mengurusi mereka”. Ini Bukan Yoga, walau kita membuang waktu berjam – jam di studio-studio mewah untuk berlatih, apa yang di sebut “Yoga” – sesungguhnya kita belum Apa-Apa, setidaknya kita belum ber-Yoga!

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 12/01/2018-MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 260-261

Yoga yang Tidak DiPaksakan dan Dilakoni Sebagai Gaya Hidup

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yuktāhāra-vihārasya yukta-cestasya karmasu

yukta-svapnāvabodhasya yogo bhavati duhkha-hā

Bhagavad Gītā, 6.17

“Yoga, yang dapat mengakhiri Segala duka, hanyalah tercapai oleh seseorang yang teratur hidupnya – teratur pola makannya; teratur pekerjaannya; dan teratur Waktu jaga serta istirahatnya”.

Lagi-lagi Krsna mengingatkan bahwa yukta atau “disiplin-diri” adalah – upaya atas kemauan, kehendak diri. Segala peraturan diri yang disebutnya adalah atas upaya sendiri Tanpa Ada paksaan dari siapa pun.

KITA MENCARI SEORANG PEMANDU. Bergabung dengan salah satu padepokan – kemudian memaksa diri untuk mengikuti segala peraturan. Percayalah kita tidak akan bertahan lama. Kemudian, ketika meninggalkan padepokan dan pemandu – semata untuk menutupi rasa malu kita pun mencari-cari kesalahan sang pemandu; peraturan di padepokan; dan kelemahan-kelemahan para santri, teman seperguruan – semuanya mulai kita persoalkan. Kita membutuhkan alasan untuk menutupi kelemahan diri. Padahal, semua itu tidak perlu terjadi, tidak perlu kita lakukan, Jika kita “memahami betul” kebutuhan-diri. Jika kita betul-betul “membutuhkan” laku spiritual untuk pengembangan diri, maka kita akan melakukannya dengan suka cita, dengan senang hati, Tanpa paksaan.

KITA SERING BERTEMU DENGAN PARA PETAPA SELIBAT – Mereka begitu murung, wajah mereka keras. Karena mereka memaksa diri untuk menjadi selibat.

Sebaliknya, kita pun pasti pernah ketemu dengan beberapa petapa, Samnyāsī, monk, bhiksu yang begitu girang, ceria. Di usia 70an Tahun pun, mereka masih seperti seorang remaja. Bagi mereka laku spiritual, janji selibat, disiplin-diri – semuanya adalah atas kesadaran-diri, Bukan Karena paksaan.

Aturlah hidup anda, karena pengaturan itulah hidup – pengaturan dalam pengertian moderasi – Bukan paksaan, Bukan ekstrem-ekstreman. Aturlah pola Makan, pola Kerja, pola tidur anda sedemikian rupa sehingga tidak menjadi beban.

SESEORANG YANG HIDUPNYA TIDAK TERATUR – seorang tahanan yang sudah terbiasa bangun setelah jam 9 pagi disuruh bangun jam 7.30 untuk mengikuti upacara bendera. Ia berontak, “ini akan merusak ritme biologis saya. Saya tidak pernah bangun sebelum jam 9 pagi.” Maka, Ada yang perlu mengingatkan dia, “Bung, kita di penjara – dan di sini Ada peraturan-peraturan yang mesti diikuti. Ini Bukan rumahmu.”

Terikat dengan pola tidur yang Salah, kemudian menyebutnya “ritme biologis badan” adalah Sama-Sama menyengsarakan, sebagaimana bangun pagi yang dipaksakan.

KRSNA MEMBERI JAMINAN, sebuah kepastian, bahwasannya Yoga dapat mengakhiri Segala duka, segala penderitaan, kekhawatiran, kegelisahan – semuanya – tetapi Yoga yang seperti Apa? Yoga yang,

PERTAMA: TIDAK DIPAKSAKAN.

KEDUA: DILAKONI SEBAGAI GAYA HIDUP – Bukan Sebagai olah raga yang saat ini banyak di lakukan di kota-Kota besar, di studio-studio, bahkan di pusat-pusat olahraga di tengah mall, dimana asap rokok dan aroma masakan dari food court adalah pengganti Dupa untuk Aromatherapy yang dapat menenangkan syaraf-syaraf otak. Apa bisa?

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 11/01/2018-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 259-260

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai