Shiva Nataraja: Shiva Sang Penari Kosmis

Sumber gambar:

NATRAJ, INDIAN CLASSICAL DANCE, A DANCE OF LIFE CYCLE

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Menurut agama Hindu, kita memahami Tuhan sebagai penari. Kita tidak bisa memisahkan tarian dan penarinya. Tuhan adalah Nataraja, penari dari semua penari atau Raja Penari. Penari dan Tariannya tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling melekat.  Jika ada tarian, maka ada penarinya, tarian tidak memiliki eksistensi yang lain selain dari penarinya. Dan ketika penari berada dalam tariannya, ia tidak dapat dipisahkan dari tariannya. Sang penari larut ke dalam tariannya.

Shiva natharaja atau Tarian Dewa shiva ini adalah sebuah tarian yang mewakili penciptaan sekaligus peleburan. Shiva nataraja merupakan gerak tari Lasya (Tari dengan makna penciptaan – sering disebut Shiva Lasya) dan Tandava (gerak tari dengan makna peleburan atau penghancuran – sering disebut Shiva Tandava). Sehingga tarian ini merupakan tarian proses Daur Ulang. Dimana sesuatu yang sudah usang dihancurkan atau dilebur untuk kemudian diciptakan kembali menjadi sesuatu yang baru.

Sebagaimana Krishna dalam Kitab Bhagavad Gita menyatakan puncak dari Veda adalah Sama Veda, artinya, puncak dari pengetahuan adalah seni. Dan tarian ini adalah seni pendaur ulang kehidupan. Seni mengubah sesuatu yang usang menjadi sesuatu yang baru. Dalam ulasan khusus menyambut Siwaratri pada Hari ini, Senin, 15 Januari 2018, ingin sekali rasanya mengupas tentang penggambaran Shiva Nataraja. Berikut diuraikan symbol-simbol yang ada dalam lukisan yang menggambarkan Tarian Kosmis, Shiva Nataraja:

  1. Damaru atau drum berukuran kecil yang letaknya selalu menyatu dengan Tri Sula Dewa Shiva adalah symbol dari getaran ritmis dari penciptaan atau OM. Dalam memaknai Siwaratri, kita mengupayakan mengucapkan Om, Om yang di ucapkan dengan m yang panjang dapat memberi getaran yang dapat membersihkan energy kotor dalam diri. Suara Om juga adalah password singkat yang dapat mengakses keheningan diri. Om dapat duicapkan sebanyak 3 kali, 7 kali, 9 kali ataupun 108 kali. Tidak penting berapa banyak hitungannya, tetapi lebih kepada “konsentrasi dan keheningan dalam menciptakan getaran Om yang di keluarkan oleh mulut kita. Om adalah juga simbol suara alam semesta. Selain bermakna sebagai getaran kosmis Om, Damaru juga adalah symbol dari menciptaan kembali yang merupakan merepresentasikan Yoni atau proses reproduksi. Dalam proses reproduksi, terjadi perluasan (pengembangan) sekaligus peleburan untuk didaur ulang guna menciptakan sesuatu yang baru, demikian halnya, kita mendaur-ulang diri, mendaur ulang kebiasaan-kebiasaan atau pelilaku-perilaku yang lama menjadi sesuatu yang baru, yang segar dan sesuai dengan kehidupan masa kini.
  2. Ular. Ular yang melingkar 3 kali di leher Dewa Shiva adalah symbol Masa Lalu, Masa kini dan masa depan. Hidup kita saat ini adalah buah dari apa yang kita lakukan dimasa lalu, dan masa kini adalah “kekuatan” penuh yang dapat kita gunakan untuk menciptakan masa depan seperti yang telah kita “setting” saat ini. Hal ini juga adalah symbol dari Shakti Power. Shakti adalah energy, sumber energy. Energy yang kita gunakan saat ini untuk menciptakan hidup yang damai di masa kini dan hidup berkualitas di masa depan. Ular juga adalah symbol dari kewaspadaan. Waspada terhadap pemicu-pemicu diri baik yang berasal dari dalam diri maupun pemicu luaran yang dapat menurunkan kesadaran kita, yang dapat menjerumuskan kita menuju kegelisahan diri. Dalam Perayaan Siwaratri, kita menjaga kewaspadaan dan kewarasan diri agar tidak terjerumus dalam ketidaksadaran dan kegelisahan diri
  3. Abhaya Mudra. Tangan dalam posture “Abhaya Mudra” adalah symbol dari penghancuran rasa takut atau tanpa rasa takut, dapat juga diartikan tanpa kekhawatiran, dalam menghadapi dualitas kehidupan seperti panas, dingin, suka-dukha. Tanpa kekhawatiran ini diungkapkan dalam bentuk sikap yang penuh dengan ketenangan dalam menghadapi dualitas. Pada moment Siwaratri juga, kita mesti mengupayakan pemberdayaan diri untuk memahami rasa takut dan rasa khawtir yang muncul dari dalam diri. Ketidak percayaan pada diri sendiri maupun ketidakpercayaan pada kemampuan diri sendiri, juga adalah representasi dari rasa takut. Karenanya, self empowerment mesti diupayakan untuk membangun rasa percaya diri. Rasa percaya diri ini, tidak cukup di bangun dengan mendengarkan atau membaca teks atau buku, percaya diri mesti dibangun melalui latihan atau sadhana (olah spiritual). Dalam moment Siwaratri ini, lakukanlah Sadhana, Olah spiritual untuk memahami apa itu rasa Khawatir dan Rasa Takut. Sadhana itu dapat berupa melakukan beberapa teknik Yoga dapat dilakukan untuk membangun rasa percaya diri.
  4. Api yang muncul dalam tarian kosmic ini adalah symbol dari peleburan dan penghancuran. Hidupkanlah api “peleburan” atau enengi yang dapat digunakan untuk merenungi diri agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
  5. Bulan sabit. Bulan sabit adalah symbol dari lingkaran waktu, dimana penciptaan berada dalam “waktu” tertentu. Bahwa sesuatu diciptakan dan dibatasi oleh waktu, dimana segala sesuatu yang ada ini tidak abadi dan akan mengalami perubahan. Karenanya memerlukan proses pendaur-ulang. Bulan sabit ini juga adalah symbol dari sesuatu yang “terbuka” artinya perubahan dapat dilakukan kapan saja. Perbaikan diri dapat dilaksakan kapan saja tidak menunggu masa tertentu. Tidak menunggu hanya pada moment siwaratri saja kita melakukan perubahan atau perbaikan diri. Kita melakukan perbaikan diri secara terus menerus, 24/7. Inilah kekuatan daripada bulan sabit. Kemurahan hati daripada S
  6. Air suci gangga mengalir dari surga melalui kepala Shiva. Ini adalah symbol dari pada pembersihan diri. Penyucian diri. Dan proses pembersihan diri secara fisik dapat berupa mandi air suci gangga, menerima air suci atau Tirtha dan secara mental emosional pembersihan diri dapat berupa penghancuran kebodohan atau avidya. Bacalah literature –literature Shiva pada moment Shiva ratri, kita akan terbawa pada suasana pikiran yang dipenuhi oleh kebijakan-kebijakan dari Shiva. Hal ini dapat membangkitkan pemurnian diri melalui perenungan pengetahuan

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 15 Januari 2018 – MA

ditulis dari berbagai sumber dalam Rangka merenungi Sang Shiva. Selamat Hari Shivaratri

Seorang Yogī bagaikan Pelita yang Tidak “Berkedip”

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yathā dīpo nivāta-stho nengate sopamā smrtā

yogino yata-cittasya yuñjato yogam ātmanah

Bhagavad Gītā, 6.19

“Seperti pelita yang di letakkkan di suatu tempat Tanpa angin – tidak berkedip; pun demikian dengan diri seorang Yogī yang sudah terkendali berkat Meditasi.”

Kita mesti Selalu ingat bahwa “manah” dalam bahasa Sansekerta merujuk pada segala sesuatu yang diekspresikan oleh otak manusia. Sehingga terjemahan Umum mind, dalam pengertian “pikiran” saja, bukanlah terjemahan yang tepat. Tepatnya adalah “gugusan pikiran dan perasaan” atau “lapisan kesadaran mental dan emosional”.

Namun dalam ayat ini, istilah yang digunakan – yang disebut tidak “berkedip” adalah “citta” – biasa di terjemahkan sebagai subconscious atau unconscious mind – pikiran bawah Sadar.

“CITTA” – seperti yang telah kita bahas secara panjang lebar dalam “Neo Spiritual Hypnotherapy” (diterbitkan oleh Gramedia) – Bukan subconscious atau unconscious mind. Gugusan pikiran serta perasaan tidak bisa dibagi dalam kotak-kotak terpisah; Kesadaran atau Sadar, belum Sadar, tampak Sadar. Pembagian itu hanyalah asumsi kita.

Citta adalah kesadaran yang lebih dalam – ketika gugusan pikiran serta perasaan atau manah tertembus, maka Kita mengakses citta. Citta adalah benih-benih pikiran dan perasaan – manah adalah kristalisasi citta. Dalam ayat ini di jelaskan bahwa “citta” seorang Yogī tidak pernah “berkedip” – tidak pernah terganggu, sehingga manah atau gugusan pikiran serta perasaan (mind) yang Ada di permukaan pun tidak terganggu.

WALAU INI PENTING, MANAH BISA “TAMPAK” SIBUK… misalnya, ketika menghadapi suatu tantangan berat, mau-Tak-mau manah atau gugusan pikiran serta perasaan mesti secara aktif memikirkan cara untuk menghadapi tantangan tersebut. Manah sedang aktif-aktifnya. Namun, ketenangan “batin” kita atau citta – (untuk mempermudah pemahaman kita dan sebelum memperoleh istilah yang lebih tepat lagi, untuk sementara Waktu kita menerjemahkan citta sebagai batin) – Tidak terganggu!

Jadi, sekali lagi…

MANAH AKTIF – CITTA ATAU BATIN TETAP TENANG. Krsna adalah sosok yang berada dalam keadaan ini. Ia berada di tengah medan perang. Bukan angin biasa lagi. Sesungguhnya Ia sedang berada di tengah angin ribut. Arjuna pun Sama. Tapi Krsna tidak terganggu, sedang kan Arjuna terganggu.

Risiko Arjuna adalah “kalah” dan/atau mati, gugur di medan perang. Risiko Krsna melebihi Risiko Arjuna. Bukan saja risiko mati, gugur di medan perang. Jika pun Ia Selamat, Ia akan menghadapi kubu Kaurawa, yang tetap berkuasa di Anak benua Hindia, tempat kerajaannya – Dvārakā atau Dvāravatī – adalah salah satu negara-Bagian. Bayangkan, Krsna yang berpihak pada Pāndava itu akan diperlakukan seperti Apa? Yang jelas, Ia akan dianggap tidak setia, pembangkang, pengkhianat…

Dari sudut pandang manusia, risiko Krsna tidak kurang dari risiko Arjuna. Tapi keadaan batin mereka berbeda! Krsna adalah seorang Yogī, Yogīrāja – Raja Para Yogī. Arjuna masih belum.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 14/01/2018 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 261-262

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai