Pentingnya “Alas Duduk” dan Ruang Khusus Sebagai tempat Ber-Sādhana

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

śucau deśe pratisthāpya sthiram āsanam ātmanah

nāty-ucchritam nāti-nīcam cailājina-kuśottaram

Bhagavad Gītā, 6.11

“Duduk tegak di tempat yang bersih-suci, dengan menggunakan alas rumput kuśa atau alang-alang, kulit rusa, dan kain (ditumpuk yang satu di atas yang lain; alang-alang, kulit rusa dan kain) – tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah.”

Disini Krsna menjelaskan teknik. Menerjemahkan ayat ini secara filosofis malah akan mengaburkan maknanya.

Alang-alang bekerja Sebagai Cushion, supaya agak empuk dan nyaman. Jika Anda ingin menerjemahkan dalam bahasa modern, atau mengaplikasikannya dalam “masa kini”, Maka alas berlapis tiga ini bisa diganti dengan cushion yang terbuat dari bahan alami seperti sabut kelapa atau kapas (non-sintetis). Dan, Sarung Cushion yang terbuat dari katun, wol, Sutra, atau serat alami lainnya.

Cushion yang tidak terlalu tinggi, dan tidak terlalu rendah- maksudnya bahwa cushion ini mesti nyaman, comfortable untuk digunakan.

Jangan cepat-cepat memutuskan untuk berburu rusa lalu mengulitinya untuk dijadikan karpet, tidak perlu.

Duduk tegak – ini penting. Cushion pun dibutuhkan untuk memfasilitasi duduk tegak. Dan, di tempat yang di sucikan. Hal ini untuk menjaga energi di tempat, di dalam ruangan tersebut. Sebab itu, selama memungkinkan, adalah sangat penting bahwa di setiap Rumah memiliki kamar Khusus untuk Meditasi, sembahyang, berdoa, dan laku spiritual lainnya.

Namun, jika tidak memungkinkan – maka, Salah satu sudut di ruang tidur pun bisa di “Suci”-kan, dalam pengertian digunakan secara eksklusif untuk Meditasi atau latihan spiritual lainnya. Bukan untuk kegiatan-kegiatan lain.

Setiap kita melakoni praktek-praktek yang dapat mengantar kita ke alam Meditasi – energi tempat itu akan kembali pada pola asalnya. Energi di tempat itu menjadi lembut, namun tetap dinamis. Kemudian energi yang sudah berubah pola itu tidak hanya menunjang laku spiritual, tetapi juga keseharian hidup.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 04/01/2018-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 253-254

Kembali Ke Pusat “Diri”: Menggunakan segala sesuatu seperlunya Tanpa Rasa Kepemilikan

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yogī yuñjīta satatam ātmānam rahasi sthitah

ekākī yata-cittātmā nirāśīr aparigrahah

Bhagavad Gītā, 6.10

“Hendaknya seorang Yogī senantiasa memusatkan kesadarannya pada “diri” sendiri; menguasai pikiran serta perasaannya; bebas dari segala keinginan, tidak mengharapkan sesuatu apa pun; bebas pula dari (rasa) kepemilikan.”

Ayat ini termasuk Salah satu yang sering disalahterjemahkan. “satatam ātmānam rahasi sthitah ekākī” sering diterjemahkan Sebagai “hidup menyendiri di tempat yang sunyi, sepi.”

Arti sesungguhnya adalah:

Berfokus pada… Satatam = Selalu; Ātmānam = Sang Diri (Jiwa Individu atau Jivātmā); Rahasi = Rahasia; Stitah = Berada; Ekākī = Sendiri.

Tidak Ada anjuran untuk Meninggalkan keramaian dunia dan masuk hutan, menyepi disana. Walau itu pun merupakan suatu pilihan, dan tidak Ada yang Salah pula dengan pilihan itu.

Tempat rahasia itu adalah Hati-Psikis – Pusat Kesadaran di antara kedua puting – tempat Sang Jiwa bersemayam. Itulah Pusat Jiwa, Hati-Nurani, Sanubari.

Ayat ini mengajak kita untuk:

“Kembali Ke Pusat Diri” – mengalihkan fokus Dari luar ke dalam diri. Ayat ini menjelaskan cara untuk melakoni Meditasi 24/7 – 24 jam sehari dan 7 hari setiap Minggu – berarti, setiap hari, setiap jam, setiap detik.

Kemudian nirāśīr dan aparigrahah – biasa di terjemahkan “Tanpa keinginan” dan “bebas dari keserakahan” atau “Tanpa kepemilikan”. Nirāśīr, memang sulit diterjemahkan. Ini menyangkut sikap mental. Memang terjemahan terdekatnya adalah “Tanpa keinginan dan/atau harapan”, walau Hal itu tidak sepenuhnya menjelaskan makna Dari kata nirāśīr.

Nirāśīr berarti, “Tanpa adanya percikan-percikan yang dapat menimbulkan keinginan”. Ketika anda bertemu dengan seorang pria tampan atau Wanita cantik – Maka “keinginan”, gairah, atau nafsu tidak serta-merta muncul seketika begitu saja. Awalnya adalah percikan-percikan Perasaan nano-nano yang muncul. Ada “dag-dig-dug” yang bahkan tidak dapat dibahasakan; Apa makna “dag-dig-dug”?

Sementara itu,

Aparigrahah berarti “tidak mendambakan sesuatu yang Bukan menjadi miliknya”. Lalu, apa yang menjadi milik “Diri” kita yang sejati?

Ego, yang ingin memiliki – sesungguhnya tidak bisa memiliki sesuatu apa pun. Apa saja yang dianggap sebagai miliknya, akan tertinggal semua disini.

Sementara itu, “Diri” yang Sejati Sadar akan kesejatian dirinya, dan kesejatian setiap diri, dan termasuk kesejatian setiap benda. Semua adalah percikan Ilahi yang Sama, maka apa yang mesti dimiliki?

Semuanya tersedia bagi Jiwa untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya, tidak perlu dimiliki. Jadi dalam konteks ayat ini, terjemahan yang lebih cocok ialah “bebas Sri rasa kepemilikan”.

Rasa kepemilikan membuat kita kecewa dan berduka. Saat mesti meninggalkan semuanya, kita merasa kehilangan apa yang sebelumnya kita Anggap Sebagai milik kita. Supaya tidak kecewa, kita mesti membebaskan diri dari rasa kepemilikan. Manfaatkan dunia, dunia benda, kebendaan – manfaatkan semua Tanpa rasa kepemilikan.

Lagi-lagi – Jika ayat ini mau diterjemahkan sebagai anjuran untuk mencari tempat yang sunyi dan sepi, jauh dari keramaian – silahkan. Namun, tempat rahasia yang dimaksud bisa juga Salah satu kamar di Rumah kita – yang dijadikan Sebagai tempat Meditasi, pemujaan, sembahyang, berdiam diri untuk berbagai sādhanā atau laku spiritual lainnya

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 03/12/2017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 252-253

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai