Kembali Ke Pusat “Diri”: Menggunakan segala sesuatu seperlunya Tanpa Rasa Kepemilikan

Marilah kita berdoa sebelum membaca Bhagavad Gītā

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yogī yuñjīta satatam ātmānam rahasi sthitah

ekākī yata-cittātmā nirāśīr aparigrahah

Bhagavad Gītā, 6.10

“Hendaknya seorang Yogī senantiasa memusatkan kesadarannya pada “diri” sendiri; menguasai pikiran serta perasaannya; bebas dari segala keinginan, tidak mengharapkan sesuatu apa pun; bebas pula dari (rasa) kepemilikan.”

Ayat ini termasuk Salah satu yang sering disalahterjemahkan. “satatam ātmānam rahasi sthitah ekākī” sering diterjemahkan Sebagai “hidup menyendiri di tempat yang sunyi, sepi.”

Arti sesungguhnya adalah:

Berfokus pada… Satatam = Selalu; Ātmānam = Sang Diri (Jiwa Individu atau Jivātmā); Rahasi = Rahasia; Stitah = Berada; Ekākī = Sendiri.

Tidak Ada anjuran untuk Meninggalkan keramaian dunia dan masuk hutan, menyepi disana. Walau itu pun merupakan suatu pilihan, dan tidak Ada yang Salah pula dengan pilihan itu.

Tempat rahasia itu adalah Hati-Psikis – Pusat Kesadaran di antara kedua puting – tempat Sang Jiwa bersemayam. Itulah Pusat Jiwa, Hati-Nurani, Sanubari.

Ayat ini mengajak kita untuk:

“Kembali Ke Pusat Diri” – mengalihkan fokus Dari luar ke dalam diri. Ayat ini menjelaskan cara untuk melakoni Meditasi 24/7 – 24 jam sehari dan 7 hari setiap Minggu – berarti, setiap hari, setiap jam, setiap detik.

Kemudian nirāśīr dan aparigrahah – biasa di terjemahkan “Tanpa keinginan” dan “bebas dari keserakahan” atau “Tanpa kepemilikan”. Nirāśīr, memang sulit diterjemahkan. Ini menyangkut sikap mental. Memang terjemahan terdekatnya adalah “Tanpa keinginan dan/atau harapan”, walau Hal itu tidak sepenuhnya menjelaskan makna Dari kata nirāśīr.

Nirāśīr berarti, “Tanpa adanya percikan-percikan yang dapat menimbulkan keinginan”. Ketika anda bertemu dengan seorang pria tampan atau Wanita cantik – Maka “keinginan”, gairah, atau nafsu tidak serta-merta muncul seketika begitu saja. Awalnya adalah percikan-percikan Perasaan nano-nano yang muncul. Ada “dag-dig-dug” yang bahkan tidak dapat dibahasakan; Apa makna “dag-dig-dug”?

Sementara itu,

Aparigrahah berarti “tidak mendambakan sesuatu yang Bukan menjadi miliknya”. Lalu, apa yang menjadi milik “Diri” kita yang sejati?

Ego, yang ingin memiliki – sesungguhnya tidak bisa memiliki sesuatu apa pun. Apa saja yang dianggap sebagai miliknya, akan tertinggal semua disini.

Sementara itu, “Diri” yang Sejati Sadar akan kesejatian dirinya, dan kesejatian setiap diri, dan termasuk kesejatian setiap benda. Semua adalah percikan Ilahi yang Sama, maka apa yang mesti dimiliki?

Semuanya tersedia bagi Jiwa untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya, tidak perlu dimiliki. Jadi dalam konteks ayat ini, terjemahan yang lebih cocok ialah “bebas Sri rasa kepemilikan”.

Rasa kepemilikan membuat kita kecewa dan berduka. Saat mesti meninggalkan semuanya, kita merasa kehilangan apa yang sebelumnya kita Anggap Sebagai milik kita. Supaya tidak kecewa, kita mesti membebaskan diri dari rasa kepemilikan. Manfaatkan dunia, dunia benda, kebendaan – manfaatkan semua Tanpa rasa kepemilikan.

Lagi-lagi – Jika ayat ini mau diterjemahkan sebagai anjuran untuk mencari tempat yang sunyi dan sepi, jauh dari keramaian – silahkan. Namun, tempat rahasia yang dimaksud bisa juga Salah satu kamar di Rumah kita – yang dijadikan Sebagai tempat Meditasi, pemujaan, sembahyang, berdiam diri untuk berbagai sādhanā atau laku spiritual lainnya

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 03/12/2017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 252-253

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s