Menjadi Yogī: melepaskan Pola hidup “lama”

Mari kita berdoa sebelum membaca pesan-pesan dari Bhagavad gītā,

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

yam samnyāsam iti prāhur yogam tam viddhi pāndava

na hy asamnyasta-sankalpo yogī bhavati kascana

Bhagavad Gīta, 6.2

“Ketahuilah bila yang disebut Samnyās atau pelepasan itu Sama dengan Yoga – laku untuk mencapai kesempurnaan diri. Wahai Pāndava (Arjuna, Putra Pāndu), sesungguhnya tak seorang pun bisa menjadi Yogī Tanpa melepaskan diri dari keinginan-keinginan duniawi.”

Beberapa Waktu yang lalu terjadi debat sengit antara kubu yang menganggap Yoga Sebagai Ilmu, maka bersifat universal, dan bisa dipraktekkan oleh siapa saja, dari golongan kepercayaan Apa saja – dan, kubu yang menganggap Yoga Sebagai Bagian Dari kepercayaan tertentu, maka prakteknya haram bagi penganut agama atau kepercayaan lain.

Saat itu, saya memilih untuk berpihak pada kubu pertama – Karena Yoga memang merupakan sebuah pola hidup – falsafah dan gaya hidup. Namun sesungguhnya pilihan saya berada dalam kubu tersebut pun semata untuk tidak menambah kubu Baru.

Yoga Bukan sekedar “Latihan-Latihan” atau “Ilmu”, sebagaimana diyakini oleh kubu pertama dan sebagaimana di pahami secara populer baik di Barat, maupun di Timur, termasuk Indonesia.

Mempraktekkan Yoga berarti merombak total gaya hidup kita. Kita tidak bisa bergaya hidup Sama seperti dulu dan menganggap diri kita sudah menjadi Yogī Karena setiap hari melakukan gerakan-gerakan āsana, sebagaimana diajarkan dalam Yoga.

Kita tidak bisa lagi makan daging, membiarkan sesama makhluk di sembelih demi kenikmatan diri kita. Kita tidak bisa lagi menjadi pengusaha atau pejabat korup. Kita tidak bisa lagi membiarkan hawa-nafsu mengendalikan diri kita. Semuanya mesti di ubah. Bukan sekadar melakukan gerakan āsana.

Berapa banyak Fasilitator Yoga yang menjelaskan nilai-nilai spiritual sebagaimana terkandung dalam Gītā kepada para peserta latihan-latihan yang difasilitasinya?

Bahkan, Ada juga aliran Yoga yang dimulai oleh seorang asal India – tapi menjadi “besar” di Barat – yang justru “mengharamkan” pembahasan Gītā dan Hal-hal lain yang bersifat spiritual. Dia tidak mau berpolemik dalam bisnis. Bagi dia Yoga adalah bisnis – B untuk bisnis. Yoga adalah bisnis franchise, sementara itu ajaran Gītā tidak bisa di-franchise-kan. Ajaran Gītā mesti di hayati, dilakoni dan dibagikan. Keinginan yang membara untuk membangun bisnis Yoga, jelas melanggar prinsip Yoga. Maka, mereka yang memadati studio-studio pelatihan Yoga seperti itu – tidak akan memperoleh manfaat Yoga.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 25 Desember 2017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gītā oleh AK Hal 245

Berkarya Tanpa Pamrih adalah Karakter Seorang Samnyāsi sekaligus Yogī di zaman Modern

Marilah kita Berdoa sebelum membaca Sabda dari Śrī Krsna

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Śrī-bhagavān uvāca

anāśritah karma-phalam kāryam karma karoti yah

Sa samnyāsi ca yogī ca na niragnir na cākriyah

Bhagavad Gīta, 6.1

Śrī Bhagavān (Krsna Hyang Maha Berkah) bersabda:

“Ia yang berkarya menunaikan kewajibannya Tanpa mengharapkan hasil, tanpa pamrih – adalah Samnyāsi sekaligus Yogī.

Samnyāsi bukanlah seseorang yang melepaskan segala kewajibannya – termasuk persembahan; dan Yogī bukanlah seseorang yang meninggalkan Segala aktivitas.”

Sebelumnya, para Samnyāsi dibedakan dari para Yogī. Para Samnyāsi adalah Mereka yang melepaskan segala kewajiban – menyepi jauh dari keramaian, dan bahkan melepaskan juga Segala ritus-ritus yang dianggapnya tidak membantu dalam pencarian jati diri. Sebab itu, Samnyāsi dikaitkan dengan ajaran Sāmkhya.

Sementara itu Yogī masih bisa berada di tengah keramaian dunia – tapi dia pun tidak “begitu” tertarik dengan segala kegiatan duniawi. Seluruh waktunya nyaris terhabiskan untuk meraih pencerahan.

Krsna adalah sebuah revolusi – Ia tidak hanya mendefinisikan Samnyāsi dan Yogī dengan cara yang beda, tapi juga mempertemukan kedua-duanya. Inilah jawaban bagi manusia modern – yang masih berada di tengah kegaduhan dan kebisingan dunia, namun ingin tetap mencapai kesempurnaan diri. Jawabannya, solusinya adalah:

Berkarya tanpa Pamrih! Menunaikan Segala tugas-kewajiban; menjalankan usaha – melakukan segala Hal – tapi tidak pamrih, dalam pengertian tidak memikirkan kepentingan diri. Nah orang seperti itu – manusia yang berkarya tanpa pamrih seperti itu – adalah kedua-duanya, Yogī dan Samnyāsi.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 24 Desember 2017 – MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 244

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai