Meraih Keseimbangan Diri: Bebas dari Dualitas, dan Fokus pada “Kemuliaan” Diri

Samah śatrau ca mitre ca tathā mānāpamānayoh

Śītosna-sukha-dukhesu samah sangavivarjitah

Tulya-nindā-stutir maunī santusto yena kenacit

Aniketah sthira-matir bhaktimān me priyo narah

Bhagavad Gīta, 12.18-19

“Ia yang bersikap Sama terhadap kawan dan lawan; Sama terhadap penghormatan dan penghinaan, panas dan dingin, senang dan susah; dan Segala pengalaman lainnya yang bersifat saling bertentangan; bebas dari keterikatan;”

Tidak terpengaruh oleh pujian dan cacian; senantiasa dalam keadaan eling, dan puas dengan apa yang diperolehnya demi keberlangsungn hidup; bebas dari rasa kepemilikan terhadap tempat hunian; penuh dengan semangat panembahan adalah yang sangat Ku-sayangi.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Dualitas penghormatan-penghinaan, kawan-lawan, panas-dingin, senang-susah, pujian-cacian, dan sebagainya adalah fenomena luaran.

Selama kita masih percaya hal-hal di luar diri, kita akan Selalu terbawa oleh arus. Keseimbangan diri menjadi sesuatu yang hampir mustahil. Sebab itu, Para mistik Selalu mengajak kita untuk “berbalik” – metanoia – Vipaśyanā – teshuva – taubat – fokuskan kesadaran pada diri. Itulah cara untuk bebas dari Segala keterikatan, ketergantungan, dan untuk meraih keseimbangan diri. Ketika keseimbangan diri terjadi, maka kepuasan diri dan kebahagiaan sejati pun ikut menyusul. Jadilah mandiri dalam arti kata yang sebenarnya. Berdikari – berdiri di atas kaki sendiri – tidak bergantung pada siapa-siapa. Tidak bersandar pada siapa-siapa.

Penghormatan dan penghinaan, pujian dan cacian dari luar adalah berdasarkan persepsi orang lain, orang-orang di luar sana. Mereka senang ketika kita melakukan sesuatu yang membuat mereka senang. Dan mereka gusar ketika tindakan kita tidak sesuai dengan harapan mereka.

Jika kita ingin hidup “sesuai” dengan harapan setiap orang di luar sana, maka sungguh menjadi amat sangat sulit bagi kita untuk maju selangkah pun. Karena, setiap langkah kita bisa menimbulkan reaksi yang saling bertentangan. Sudah pasti ada yang menerima dn senang, dan ada yang tidak menerima dan gusar.

Berjujurlah dengan diri sendiri. Ingatlah “kemuliaan diri” dan bertindaklah sesuai dengan kemuliaan itu. Tidak perlu bertindak sesuai dengan harapan setiap orang di luar. Harapan siapa saja yang mesti kita penuhi? Kita tidak bisa memenuhi harapan setiap orang.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 20/12/2017 – MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 592-593

Semangat Seorang Panembah: Pengalaman Suka Maupun Duka “ini pun pasti berlalu”

Yo na hrsyati na dvesti na śocati na kānksati

Śubhāśubha-parityāgī bhaktimān yah sa me priyah

Bhagavad Gīta, 12.17

“Ia yang telah melampaui kesenangan semu, kebencian, duka, dan segala keinginan; tidak terpengaruh oleh dualitas Baik-buruk; serta memiliki semangat panembahan adalah sangat Ku-sayangi.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Seorang panembah tidak terikat pada apa pun. Ini yang di maksud Srī Krsna. Ia telah melampaui dualitas suka-duka, Baik-buruk, dan Sebagainya.

Tidak berarti Ia tidak “ber”suka-cita – dan tidak pula berarti Ia tidak pernah “ber”duka. Tidak berarti Ia tidak “ber”Buat sesuatu. Ia menjalani hidupnya persis seperti kita. Ia tetap bersuka-cita, berduka-cita, dan berbuat sesuai dengan tuntutan pekerjaannya. Namun, Ia tidak “terikat” pada sesuatu.

Ketika pengalaman suka berlalu, dan Ia berada dalam keadaan duka – maka Ia menjalani pengalaman duka dengan semangat “ini pun pasti berlalu”. Ia tidak beraduh-aduh. Pun demikian saat bersuka-cita, Ia tidak terbawa oleh pengalaman tersebut dan “kemasukan angin”, dalam pengertian, menganggap pengalaman suka sebagai sesuatu yang langgeng dan tak akan pernah berakhir. Dalam keadaan suka maupun duka, Ia selalu mengingat, “ini pun pasti berlalu”.

Pun demikian saat berkarya, saat bertindak – Ia menjalani tugasnya “dengan baik”, sesuai tuntutan profesinya, tanpa keterikatan pada hasilnya.

Seorang panembah di medan perang mesti melawan musuh yang mengancam kedaulatan Bangsanya. Ia tidak bisa memikirkan apakah “pembunuhan” itu Baik atau buruk. Itu adalah tugas Para filsuf, Bukan tugas seorang prajurit di medan perang “yang sedang menjalani tugas demi kedaulatan bangsanya”.

Ya, perkara tugas ini mesti jelas. Seorang prajurit tidak perlu berjuang demi “keinginan seorang penguasa untuk menjarah dan merampas kedaulatan Bangsa lain”. Jika Ia menjadi prajurit untuk berperang dengan niat yang tidak mulia seperti itu – maka Ia merendahkan martabatnya. Ia bukanlah seorang prajurit, seorang Kesatria lagi. Ia adalah sekadar pembunuh bayaran. Kemudian Ia pun mesti menanggung segala akibat dari perbuatannya.

Setiap kata Śrī Krsna dalam dialog mulia ini mesti dipahami secara utuh. Jika tidak, maka kita tidak bisa memahami maksud-Nya.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 19/12/2017 – MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 591

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai