Semangat Seorang Panembah: Pengalaman Suka Maupun Duka “ini pun pasti berlalu”

Yo na hrsyati na dvesti na śocati na kānksati

Śubhāśubha-parityāgī bhaktimān yah sa me priyah

Bhagavad Gīta, 12.17

“Ia yang telah melampaui kesenangan semu, kebencian, duka, dan segala keinginan; tidak terpengaruh oleh dualitas Baik-buruk; serta memiliki semangat panembahan adalah sangat Ku-sayangi.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Seorang panembah tidak terikat pada apa pun. Ini yang di maksud Srī Krsna. Ia telah melampaui dualitas suka-duka, Baik-buruk, dan Sebagainya.

Tidak berarti Ia tidak “ber”suka-cita – dan tidak pula berarti Ia tidak pernah “ber”duka. Tidak berarti Ia tidak “ber”Buat sesuatu. Ia menjalani hidupnya persis seperti kita. Ia tetap bersuka-cita, berduka-cita, dan berbuat sesuai dengan tuntutan pekerjaannya. Namun, Ia tidak “terikat” pada sesuatu.

Ketika pengalaman suka berlalu, dan Ia berada dalam keadaan duka – maka Ia menjalani pengalaman duka dengan semangat “ini pun pasti berlalu”. Ia tidak beraduh-aduh. Pun demikian saat bersuka-cita, Ia tidak terbawa oleh pengalaman tersebut dan “kemasukan angin”, dalam pengertian, menganggap pengalaman suka sebagai sesuatu yang langgeng dan tak akan pernah berakhir. Dalam keadaan suka maupun duka, Ia selalu mengingat, “ini pun pasti berlalu”.

Pun demikian saat berkarya, saat bertindak – Ia menjalani tugasnya “dengan baik”, sesuai tuntutan profesinya, tanpa keterikatan pada hasilnya.

Seorang panembah di medan perang mesti melawan musuh yang mengancam kedaulatan Bangsanya. Ia tidak bisa memikirkan apakah “pembunuhan” itu Baik atau buruk. Itu adalah tugas Para filsuf, Bukan tugas seorang prajurit di medan perang “yang sedang menjalani tugas demi kedaulatan bangsanya”.

Ya, perkara tugas ini mesti jelas. Seorang prajurit tidak perlu berjuang demi “keinginan seorang penguasa untuk menjarah dan merampas kedaulatan Bangsa lain”. Jika Ia menjadi prajurit untuk berperang dengan niat yang tidak mulia seperti itu – maka Ia merendahkan martabatnya. Ia bukanlah seorang prajurit, seorang Kesatria lagi. Ia adalah sekadar pembunuh bayaran. Kemudian Ia pun mesti menanggung segala akibat dari perbuatannya.

Setiap kata Śrī Krsna dalam dialog mulia ini mesti dipahami secara utuh. Jika tidak, maka kita tidak bisa memahami maksud-Nya.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 19/12/2017 – MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 591

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s