Enam Sikap Positif Terhadap Semua Makhluk

Advestā sarva-bhūtānām maitrah Karuna eva ca

Nirmamo nirahankārah Sama-duhkha-sukhah ksamī

Santustah satatam yogī yatātmā drdha-niścayah

Mayy arpita-mano-buddhir yo mad-bhaktah sa me priyah

Bhagavad Gīta, 12. 13-14

“Bebas dari rasa benci terhadap sesama mahkluk; bersahabat dengan semua, penuh welas asih; bebas dari ke-‘aku’-an dan rasa kepemilikan; Sama dan seimbang dalam suka dan duka; penuh ketabahan, mudah memaafkan;”

“Puas dengan apa yang diraihnya, dan terkendali dirinya, senantiasa mengenang-Ku, manunggal dengan-Ku; pikiran, Perasaan, serta intelegensinya terpusat pada-Ku; seorang panembah yang teguh dalam keyakinannya seperti itu sungguh sangat Ku-sayangi.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Inilah cara untuk mencapai kemanunggalan dengan semesta. Dengan cara ini seseorang merasakan kesatuan dan persatuan dengan semesta. Krsna mengajak Arjuna untuk mengembangkan sifat-sifat mulia, sebagaimana dijelaskan-Nya, untuk meraih kemanunggalan abadi.

Pertama: bebas dari rasa benci – berarti bebas dari rasa dendam, bebas dari kekecewaan, ketersinggungan dan lain Sebagainya. Karena benci adalah produk dari perasaan-perasaan tersebut. Awalnya sekedar kecewa, tersinggung – kemudian marah, dendam dan benci. Ini adalah api yang membakar diri kita. Rasa benci adalah api neraka. Untungnya kita dapat menghindarinya.

Namun, bebas dari rasa benci pun tidak cukup. Krsna mengajak Arjuna untuk mengembangkan sikap positif – positive attitude – terhadap semua makhluk.

Kedua: Bersahabat dengan semua – Bersahabat di atas landasan Welas-Asih. Bukan bersahabat Karena Ada “mau”nya; Ada keperluan materi, duniawi, atau keperluan lain Apa pun.

Kadang kita membungkus kepentingan duniawi murni dengan pembungkus rohani, “saya mencintai jiwamu, Bukan badanmu” – ujung-ujungnya tetap juga kita menginginkan raganya.

Bukan, Bukan persahabatan seperti itu, tetapi persahabatan tanpa kepentingan Apa pun. Dan Hal itu hanyalah mungkin Jika kita mengembangkan sifat…

Ketiga: Tanpa Ke-“aku”-an dan rasa kepemilikan – ini punya-ku, itu milik-mu; aku begini, dia begitu. Semuanya ini merupakan kendala bagi seorang panembah.

Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari aku menuju kita dan akhirnya mencapai “Dia” – hanya Dia.

Kemudian, bagi seorang panembah yang telah melampaui kepentingan diri, langkah berikutnya; sifat-sifat berikutnya menjadi mudah untuk ditempuh….

Keempat: Sama dan seimbang dalam keadaan suka dan duka – tampak susah, sulit, tetapi sesungguhnya menjadi mudah ketika kita sudah mengembangkan 3 sifat sebelumnya. Khususnya Jika kita sudah melampaui ke-“aku-an dan kepemilikan.

Kecewa, benci, dan lain sebagainya muncul karena “aku” merasa dirugikan, dizalimi, diperlakukan secara tidak adil. Jika “aku” telah terlampaui, maka rasa benci dan sebagainya pun gugur sendiri.

Kemudian, Apa pun yang kita lakukan, termasuk perlawanan terhadap ketidakadilan bukanlah Karena “urusan-ku”, tetapi Karena urusan yang lebih tinggi, lebih mulia – Karena urusan sesama makhluk hidup, urusan semesta, urusan Dharma – kebajikan.

Kelima: Ketabahan dan Pemaafan. Sifat-sifat sebelumnya membuka hati kita, diri kita, bagi ketabahan dan pemaafan. Sesungguhnya ketabahan dan Pemaafan adalah sifat yang saling terkait. Tanpa ketabahan, seseorang tidak mampu memaafkan. Sifat “gampang memaafkan” adalah buah dari ketabahan, yang membuat kita menjadi sabar.

Maafkan Mereka yang “dalam ketidaktahuan dan kebodohannya” menyakiti kita, Karena sesungguhnya mereka sedang menggali lubang bagi diri sendiri. Betapa bodohnya! Seorang bodoh patut dikasihani, kesalahannya dimaafkan. Dan Jika memang membuka diri, maka perlu diberi pelajaran supaya tidak bodoh untuk selamanya.

Keenan: Kepuasan-Diri – Tanpa kepuasan diri, kita Selalu mengeluh, Selalu merasa “kurang”. Kepuasan-Diri adalah “kekuatan”, energi yang dapat menyuntiki kita dengan semangat untuk senantiasa berkarya to the best of our ability – kemudian leave the rest to God.

Seorang yang telah mengembangkan sifat-sifat tersebut, menurut Krsna, adalah panembah yang sudah “kuat” tekadnya untuk mempersembahkan dirinya bagi kebaikan sesama.

Ia telah menemukan dirinya yang sejati – dan diri itu ternyata Sama dengan diri setiap makhluk. Tidak Ada satu pun makhluk, satu pun jiwa, yang tidak tersinari, tidak mendapatkan aliran kehidupan dari Sang Maha Diri Hyang Tunggal adanya. Sang Jiwa Agung.

Seorang panembah seperti itu akan “membersihkan” diri dari daki adharma, kezaliman, ketidakadilan dan Sebagainya dengan semangat penyucian diri, Bukan dengan semangat membenci. Untuk apa membenci daki?

Kekotoran di dunia ini, debu dan sampah – daki dan bau tidak sedap – semuanya dapat dibersihkan. Seorang panembah tidak hanya berkarya tanpa henti untuk membersihkan dirinya; tetapi juga berkontribusi kepada kebersihan Bumi, kelestarian Alam.

Hendaknya Kita tidak kecewa Jika besok pagi menemukan lapisan debu yang Baru di pekarangan gugusan serta Perasaan kita. Inilah konsekuensi keberadaan kita di dunia ini. Bersihkan badan, bersihkan gugusan pikiran serta perasaan, dan jaga pula kesucian kesadaran-Jiwa. Setiap hari, dari hari ke hari. Inilah nasehat Srī Krsna. Ini yang mesti kita lakukan untuk meraih kemanunggalan.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 16122017 – MA

Di tulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 585 – 587

Śreya dan Preya “Laku yang Memuliakan dan laku yang sekedar menyenangkan”

Śreyo hi jñanām abhyāsāj jñanād dhyānam viśisyate

Dhyānāt Karma-phala-tyāgas tyāgāc chāntir anantaram

Bhagavad Gīta, 12.12

“Pengetahuan sejati lebih Mulia daripada laku yang tidak cerdas tanpa memilah antara yang tepat dan tidak tepat untuk dilakoni; Meditasi atau pemusatan kesadaran pada Ilahi, lebih mulia dari Pengetahuan Sejati; dan melepaskan diri dari keterikatan pada hasil perbuatan adalah lebih mulia dari Meditasi; Kedamaian sejati adalah hasil dari pelepasan yang demikian.

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Jika diterjemahkan secara harfiah tanpa memahami idiom dalam bahasa Sanskrit – maksud ayat ini bisa sangat membingungkan, bahkan menyestkan. Seolah Krsna menempatkan pengetahuan di “atas” laku dan sebagainya, dan seterusnya. Apakah Krsna menganggap yang satu “lebih Baik” dari yang lain.

Krsna menggunakan istilah Śreya, yang berarti, “lebih mulia” Bukan lebih Baik, atau diatas yang lain. Dengan menggunakan istilah śreya, Krsna sedang membandingkan satu kegiatan dengan kegiatan lain dengan menggunakan tolok ukur atau timbangan Śreya dan Preya – yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan.

Jadi, batu timbangannya bukanlah berat-ringan dalam konteks lebih baik dan kurang Baik, atas dan bawah, tetapi dalam konteks, mana yang mulia dan mana yang tidak. Laku yang hanya menyenangkan, perbuatan yang hanya memuaskan indra jelas tidak memuliakan. Sebab itu, raihlah terlebih dahulu pengetahuan sejati tentang mana yang memuliakan, mana yang tidak. Berarti jangan asal “berkarya” – jangan asal “berbuat”, jangan asal “Makan”. Jangan asal “hidup”. Berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa Karya tersebut memuliakan. Bahwa karya tersebut tidak hanya memuaskan diri atau indra saja, tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan secara utuh bagi lingkungan, bagi masyarakat.

Di Anak tangga berikutnya adalah Meditasi – senantiasa menyadari kesadaran Ilahi di dalam diri itulah Meditasi. Pemusatan kesadaran pada Ilahi, itulah Meditasi. Meditasi, berarti hidup berkesadaran. Melakoni hidup secara Meditatif.

Jadi, Apa yang dijelaskan Krsna dalam ayat ini adalah langkah-langkah progresif. Setiap langkah mengantar kita pada langkah berikut yang lebih mulia dan memuliakan. Pengetahuan Sejati pun tidak berarti Apa-Apa jika tidak dihayati. Bukan sekedar “tahu” tetapi Menghayati Pengetahuan itu. Pengetahuan tanpa penghayatan, tanpa “dihidupi”, akan menjadi basi, tidak berguna.

“Hayat” dalam bahasa Persia kuno yang kemudian dipakai juga oleh orang Arab, berarti “hidup”. Menghayati berarti menghidupi, melakoni. Inilah Meditasi yang sebenarnya. Inilah Meditasi dalam keseharian hidup.

Anak tangga terakhir… dengan sangat cerdik, Krsna mengantar Arjuna pada “laku” – ya, kembali pada laku. Tetapi laku yang sudah memiliki nilai tambah.

“Laku” di Anak tangga terakhir ini adalah laku yang mulia dan memuliakan; laku yang mediatif, penuh kesadaran dan penghayatan. Dengan Segala atribut tambahan tersebut, laku di Anak tangga itu sudah Bukan laku biasa. Tidak seperti laku di Anak tangga awal.

Laku di Anak tangga ini adalah laku seorang Panembah, laku dengan semangat manembah. Dan bukanlah sekedar itu, laku di Anak tangga ini memiliki warna khusus – yaitu warna “renunciation” atau “tyāga”.

Berarti, Bukan sekedar melakoni hidup ini dengan semangat manembah, tetapi menghaturkan, menyerahkan hasil perbuatan kepada Hyang Ilahi. Inilah laku utama. Inilah laku yang mulia, termulia, dan memuliakan.

Dalam tradisi Hindia kuno, seorang Anak menyerahkan seluruh penghasilannya kepada orang tua. Kemudian orang tua yang mengatur seluruh keuangan keluarga, termasuk untuk kebutuhan pribadi Anak itu sendiri. Ketika terjadi keperluan di luar dugaan, maka orang tua pula yang berkewajiban menutupinya. Si Anak bebas dari segala tanggung jawab, Karena ia telah menyerahkan seluruh penghasilannya.

Jika kita bisa menghaturkan buah perbuatan kita kepada Hyang Maha Kuasa, maka Ia akan mengatur hidup kita. As simple as that, memang membutuhkan iman, keyakinan yang kuat, Penyerahan diri yang sempurna.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 15122017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK halaman 584-585

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai