Śreya dan Preya “Laku yang Memuliakan dan laku yang sekedar menyenangkan”

Śreyo hi jñanām abhyāsāj jñanād dhyānam viśisyate

Dhyānāt Karma-phala-tyāgas tyāgāc chāntir anantaram

Bhagavad Gīta, 12.12

“Pengetahuan sejati lebih Mulia daripada laku yang tidak cerdas tanpa memilah antara yang tepat dan tidak tepat untuk dilakoni; Meditasi atau pemusatan kesadaran pada Ilahi, lebih mulia dari Pengetahuan Sejati; dan melepaskan diri dari keterikatan pada hasil perbuatan adalah lebih mulia dari Meditasi; Kedamaian sejati adalah hasil dari pelepasan yang demikian.

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Jika diterjemahkan secara harfiah tanpa memahami idiom dalam bahasa Sanskrit – maksud ayat ini bisa sangat membingungkan, bahkan menyestkan. Seolah Krsna menempatkan pengetahuan di “atas” laku dan sebagainya, dan seterusnya. Apakah Krsna menganggap yang satu “lebih Baik” dari yang lain.

Krsna menggunakan istilah Śreya, yang berarti, “lebih mulia” Bukan lebih Baik, atau diatas yang lain. Dengan menggunakan istilah śreya, Krsna sedang membandingkan satu kegiatan dengan kegiatan lain dengan menggunakan tolok ukur atau timbangan Śreya dan Preya – yang memuliakan dan yang sekadar menyenangkan.

Jadi, batu timbangannya bukanlah berat-ringan dalam konteks lebih baik dan kurang Baik, atas dan bawah, tetapi dalam konteks, mana yang mulia dan mana yang tidak. Laku yang hanya menyenangkan, perbuatan yang hanya memuaskan indra jelas tidak memuliakan. Sebab itu, raihlah terlebih dahulu pengetahuan sejati tentang mana yang memuliakan, mana yang tidak. Berarti jangan asal “berkarya” – jangan asal “berbuat”, jangan asal “Makan”. Jangan asal “hidup”. Berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa Karya tersebut memuliakan. Bahwa karya tersebut tidak hanya memuaskan diri atau indra saja, tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan secara utuh bagi lingkungan, bagi masyarakat.

Di Anak tangga berikutnya adalah Meditasi – senantiasa menyadari kesadaran Ilahi di dalam diri itulah Meditasi. Pemusatan kesadaran pada Ilahi, itulah Meditasi. Meditasi, berarti hidup berkesadaran. Melakoni hidup secara Meditatif.

Jadi, Apa yang dijelaskan Krsna dalam ayat ini adalah langkah-langkah progresif. Setiap langkah mengantar kita pada langkah berikut yang lebih mulia dan memuliakan. Pengetahuan Sejati pun tidak berarti Apa-Apa jika tidak dihayati. Bukan sekedar “tahu” tetapi Menghayati Pengetahuan itu. Pengetahuan tanpa penghayatan, tanpa “dihidupi”, akan menjadi basi, tidak berguna.

“Hayat” dalam bahasa Persia kuno yang kemudian dipakai juga oleh orang Arab, berarti “hidup”. Menghayati berarti menghidupi, melakoni. Inilah Meditasi yang sebenarnya. Inilah Meditasi dalam keseharian hidup.

Anak tangga terakhir… dengan sangat cerdik, Krsna mengantar Arjuna pada “laku” – ya, kembali pada laku. Tetapi laku yang sudah memiliki nilai tambah.

“Laku” di Anak tangga terakhir ini adalah laku yang mulia dan memuliakan; laku yang mediatif, penuh kesadaran dan penghayatan. Dengan Segala atribut tambahan tersebut, laku di Anak tangga itu sudah Bukan laku biasa. Tidak seperti laku di Anak tangga awal.

Laku di Anak tangga ini adalah laku seorang Panembah, laku dengan semangat manembah. Dan bukanlah sekedar itu, laku di Anak tangga ini memiliki warna khusus – yaitu warna “renunciation” atau “tyāga”.

Berarti, Bukan sekedar melakoni hidup ini dengan semangat manembah, tetapi menghaturkan, menyerahkan hasil perbuatan kepada Hyang Ilahi. Inilah laku utama. Inilah laku yang mulia, termulia, dan memuliakan.

Dalam tradisi Hindia kuno, seorang Anak menyerahkan seluruh penghasilannya kepada orang tua. Kemudian orang tua yang mengatur seluruh keuangan keluarga, termasuk untuk kebutuhan pribadi Anak itu sendiri. Ketika terjadi keperluan di luar dugaan, maka orang tua pula yang berkewajiban menutupinya. Si Anak bebas dari segala tanggung jawab, Karena ia telah menyerahkan seluruh penghasilannya.

Jika kita bisa menghaturkan buah perbuatan kita kepada Hyang Maha Kuasa, maka Ia akan mengatur hidup kita. As simple as that, memang membutuhkan iman, keyakinan yang kuat, Penyerahan diri yang sempurna.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 15122017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK halaman 584-585

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s