Pusatkan segenap kesadaran diri pada-Nya untuk meraih Kebahagiaan

Mayy eva mana ādhatsva mayi buddhim nivesaya

Nivasisyasi mayy eva ata ūrdhvam na samsayah

Bhagavad Gita, 12.8

“Sebab itu, pusatkan segenap pikiran, perasaan dan buddhi, intelegensiamu pada-Ku; demikian, niscayalah aku akan Selalu bersama-Ku, tiada yang perlu aku ragukan dalam Hal ini.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bukan saja memusatkan segenap pikiran serta perasaan, tetapi juga segenap intelegensia. Berarti memusatkan seluruh kesadaran pada-Nya.

Mind atau Manah memang senantiasa kacau dan mengacaukan. Kita menerjemahkan mind atau manah sebagai Gugusan Pikiran serta perasaan. Sebab itu, memusatkan manah pada-Nya berarti mengendalikan kekacauan pikiran dan gejolak emosi

Krsna juga menyebut Buddhi atau intelegensia. Berarti,

  1. Menggunakan intelegensia untuk mengarahkan Gugusan Pikiran dan Perasaan supaya terpusat kepada-Nya. Inilah penggunaan intelegensia yang paling utama.
  2. Kemudian, setelah terjadi pemusatan, intelegensia pun di-drop; diserahkan kepada-Nya. Berarti, membiarkan Dia menjadi Sais Kereta Kehidupan tanpa keraguan dan kebimbangan.

Untuk Selalu diingat, “Aku” Sri Krsna adalah “Aku” Arjuna -“aku” saya, “aku” Anda, “aku” mereka, “aku” kita semua. Krsna mengajak Arjuna untuk memperhatikan “diri”nya sendiri. Untuk memusatkan seluruh kesadarannya pada diri – pada “aku”. Tidak pada Hal-Hal di luar diri. Inilah tindakan yang paling inteligen. Inilah langkah jitu, langkah paling tepat, untuk meraih keberhasilan dalam hidup.

Kita ingin sukses – dan mengukur tingkat sukses, tingkat keberhasilan kita dengan membandingkan diri dengan orang lain yang kita anggap sudah cukup berhasil. Padahal, potensi setiap orang lain. Lain potensi saya, lain potensi anda. Barangkali, dengan potensi kita, keberhasilan yang dapat kita raih melebihi keberhasilan yang dapat diraih orang lain. Tetapi, dengan membandingkan diri kita dengan orang lain, kita malah menutup diri terhadap kemungkinan itu. Kita sudah menganggap keberhasilan orang itu Sebagai “plafon” yang dapat dicapai. Demikian, kita merugikan diri sendiri. Kita tidak akan berjuang untuk melebihi keberhasilannya.

Sebaliknya, jika nilai keberhasilan orang yang kita jadikan anutan adalah berbeda dengan nilai kita – maka kita akan kecewa sendiri.

Baginya, barangkali ketenaran adalah nilai keberhasilan tertinggi. Bagi kita, hubungan dan rela si adalah nilai keberhasilan tertinggi. Orang lain barangkali mengukur keberhasilan dengan harta-Benda yang dimilikinya. Jelas, penilaiannya, tolak ukurnya sudah beda. Jika kita membandingkan diri dengan orang lain – maka, hanya kekecewaan yang Akan kita peroleh.

Seorang pejabat yang telah mengabdi selama belasan tahun, “terjebak” dalam Permainan Tritunggal ekonomi-politik-diskriminasi. Ia dijebloskan dalam penjara untuk menyelamatkan atasannya. Di dalam penjara Ia bertemu dengan seorang pengusaha yang sukses dalam Hal materi. Masih Muda, tapi hartanya sudah berlalu-kali lipat dari pejabat tersebut.

Sang pejabat “kecewa”, “saya mengabdi selama belasan tahun, masuk penjara dan tabungan saya tidak sampai 5% Dari kekayaannya. Saya dipenjara sekian tahun, Ia pun sama.” Demikian Ia mengacaukan pikirannya sendiri.

Saat menjadi pejabat – nilai keberhasilannya lain. Sekarang dengan membandingkan dirinya dengan orang lain, nilai keberhasilannya berubah. Dalam perubahan itu, Ia lupa mengevaluasi diri apakah Ia memiliki potensi sebagai “pengusaha”. Apakah Ia berjiwa entrepreneur? Jawabannya; jelas tidak.

Seorang berjiwa entrepreneur tak akan menghabiskan lebih dari 20 tahun masa hidupnya untuk bekerja di salah satu kantor pemerintahan, sebagai PNS atau Pegawai Negeri Sipil.

Dia pun tahu bila dirinya sudah mentok. Dia tidak mungkin mendapatkan jabatan yang lebih tinggi Karena masih adanya “diakriminasi” yang dilandaskan pada suku, kepercayaan dan Sebagainya. Dia adalah korban “politik antar pejabat”. Dia terkalahkan oleh orang lain, yang menginginkan jabatannya; seseorang yang latar belakang suku dan kepercayaannya lebih menguntungkan.

Jika Ia ingin bahagia, maka hendaknya tidak mengubah nilai kebahagiaannya. Harta-Benda penting, tetapi bukanlah segalanya. Bukanlah faktor utama kebahagiaan.

Dengan mengubah nilai kebahagiaannya; dengan memindahkan fokus Dari diri sendiri kepada orang lain, Ia hanyalah menyusahkan dirinya. Dalam usianya yang boleh dikatakan sudah memasuki Senja kehidupan – Ia hanyalah memunculkan kekecewaan Baru bagi dirinya. Lebih-lebih lagi, Hal itu terjadi ketika Ia berada dalam penjara.

Sebab itu, anjuran Krsna adalah sangat penting untuk didengarkan dan diikuti, diindahkan: “Pusatkan segenap kesadaran pada-Ku, pada “Sang Aku” yang bersemayam di dalam setiap diri. Jika aku melakukan Hal itu, maka kau pun dapat meraih kebahagiaan sejati – sebagaimana telah Ku-raih!”

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Senin, 11122017-MA

Di tulis ulang Dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 580-581

Memuja Tuhan Yang Berwujud

Ye tu sarvāni karmāni mayi samnyasya mat-parah

Ananyenaiva yogena mām dhyāyanta upāsate

Tesām aham samuddhartā mrtyu-samsāra-sāgarāt

Bhvāmi na cirāt pārtha mayy āvesita-cetasām

(Bhagavad Gita, 12. 6-7 )

“Sebaliknya, Mereka yang senantiasa berkarya dengan semangat persembahan pada-Ku; memuja-Ku sebagai Hyang Maha Mewujud; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku tanpa terganggu oleh sesuatu; wahai Pārtha (Putra Prthā-sebutan lain bagi Kuntī, Ibu Arjuna), niscayalah Ku-bantu menyebrangi lautan samsāra, kelahiran dan kematian yang berulang-ulang ini”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Memuja-Nya sebagai Hyang Maha Mewujud berarti melayani setiap wujud, mencintai, menyayangi, mengasihi setiap wujud.

Pemuja berhala adalah kita yang melihat-Nya dalam satu wujud saja, dalam satu kitab saja, dalam satu kepercayaan saja, dalam sesosok anutan kita saja; dan memberhalakan wujud-wujud-Nya, kitab-kitab-Nya yang lain.

Jika memang demikian, maka kita tergolong “orang-orang yang tidak percaya” – tidak percaya bahwa Hyang Tak Berwujud adalah Maha Esa, Maha Kuasa, dan bisa saja mewujud. Kenapa tidak? Itu kekuasaan dan kehendak Dia. Kita tidak bisa menentukan bagi Dia.

Mereka yang sungguh-sungguh percaya pada Hyang Tak Berwujud – Umumnya menyingkir dari panggung dunia. Mereka menjadi pertapa.

Mereka menyendiri, menyepi sepanjang hidup. Tak Ada yang Salah dengan diri mereka. Mereka menjadi reservoir energi dunia. Mereka pun dibutuhkan. Namun tidak semua orang mesti menjadi seperti mereka. Tidak semua orang menjadi reservoir. Tidak semua orang perlu menjadi reservoir.

Lebih banyak orang memang mesti menjadi pemanfaat “reservoir-reservoir” tersebut. Dunia ini membutuhkan kedua-duanya, Mereka yang melayani-Nya sebagai Maha Wujud dan Mereka yang memuja-Nya sebagai Hyang Tak Berwujud. Namun proporsi Mereka mesti beda. Demi kelestarian alam, dunia membutuhkan Lebih banyak orang yang melayani-Nya sebagai Hyang Maha Mewujud.

Mereka yang menyadari-Nya sebagai Hyang Maha Mewujud, barulah dapat melayani sesama dengan semangat panembahan. Merekalah yang menjadi guardian atau wali bagi dunia ini. Merekalah para the spiritual yang sedang melayani yatim piatu, para janda, para papa, dina dan nista, tanpa pamrih, Bukan untuk pamer. Bukan Karena dibayar untuk itu.

Diantara merekalah, kita dapat menemukan anutan kita – siapa pun dia – yang sedang merangkul seorang penderita penyakit menular atau membersihkan lukanya

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai