Memuja Tuhan Yang Berwujud

Ye tu sarvāni karmāni mayi samnyasya mat-parah

Ananyenaiva yogena mām dhyāyanta upāsate

Tesām aham samuddhartā mrtyu-samsāra-sāgarāt

Bhvāmi na cirāt pārtha mayy āvesita-cetasām

(Bhagavad Gita, 12. 6-7 )

“Sebaliknya, Mereka yang senantiasa berkarya dengan semangat persembahan pada-Ku; memuja-Ku sebagai Hyang Maha Mewujud; memusatkan seluruh kesadarannya pada-Ku tanpa terganggu oleh sesuatu; wahai Pārtha (Putra Prthā-sebutan lain bagi Kuntī, Ibu Arjuna), niscayalah Ku-bantu menyebrangi lautan samsāra, kelahiran dan kematian yang berulang-ulang ini”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Memuja-Nya sebagai Hyang Maha Mewujud berarti melayani setiap wujud, mencintai, menyayangi, mengasihi setiap wujud.

Pemuja berhala adalah kita yang melihat-Nya dalam satu wujud saja, dalam satu kitab saja, dalam satu kepercayaan saja, dalam sesosok anutan kita saja; dan memberhalakan wujud-wujud-Nya, kitab-kitab-Nya yang lain.

Jika memang demikian, maka kita tergolong “orang-orang yang tidak percaya” – tidak percaya bahwa Hyang Tak Berwujud adalah Maha Esa, Maha Kuasa, dan bisa saja mewujud. Kenapa tidak? Itu kekuasaan dan kehendak Dia. Kita tidak bisa menentukan bagi Dia.

Mereka yang sungguh-sungguh percaya pada Hyang Tak Berwujud – Umumnya menyingkir dari panggung dunia. Mereka menjadi pertapa.

Mereka menyendiri, menyepi sepanjang hidup. Tak Ada yang Salah dengan diri mereka. Mereka menjadi reservoir energi dunia. Mereka pun dibutuhkan. Namun tidak semua orang mesti menjadi seperti mereka. Tidak semua orang menjadi reservoir. Tidak semua orang perlu menjadi reservoir.

Lebih banyak orang memang mesti menjadi pemanfaat “reservoir-reservoir” tersebut. Dunia ini membutuhkan kedua-duanya, Mereka yang melayani-Nya sebagai Maha Wujud dan Mereka yang memuja-Nya sebagai Hyang Tak Berwujud. Namun proporsi Mereka mesti beda. Demi kelestarian alam, dunia membutuhkan Lebih banyak orang yang melayani-Nya sebagai Hyang Maha Mewujud.

Mereka yang menyadari-Nya sebagai Hyang Maha Mewujud, barulah dapat melayani sesama dengan semangat panembahan. Merekalah yang menjadi guardian atau wali bagi dunia ini. Merekalah para the spiritual yang sedang melayani yatim piatu, para janda, para papa, dina dan nista, tanpa pamrih, Bukan untuk pamer. Bukan Karena dibayar untuk itu.

Diantara merekalah, kita dapat menemukan anutan kita – siapa pun dia – yang sedang merangkul seorang penderita penyakit menular atau membersihkan lukanya

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Kesadaran Badaniah

Kleśo’dhikataras tesām avyaktāsakta-cetasām

Avyaktā hi gatir duhkham dehavadbhir avāpyate

Bhagavad Gīta, 12.5

“Pemusatan diri pada Hyang Tak Berwujud, dan mencapai kemanunggalan dengan-Nya, memang lebih berat selama jiwa masih Berwujud dan berkesadaran badaniah;”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Mayoritas diantara kita masih berkesadaran badaniah. Kesadaran badaniah adalah konsekuensi dari badan ini. Sulit membebaskan kesadaran badaniah sepanjang hari, sepanjang malam, sebab itu meraih kemanunggalan dengan Hyang Tak Berwujud menjadi sulit pula.

Hyang Maha Mewujud, Hyang Tanpa Wujud…. sebagian di antara kita yang “merasa” sudah bisa berhubungan dengan Hyang Tak Berwujud, menganggap rendah orang – orang yang masih memuja Gusti Sebagai Hyang Maha Mewujud. Mereka mencap orang-orang tersebut Sebagai pemuja berhala. Padahal, seperti yang telah kita bahas sebelumnya, mereka yang mengaku sudah tidak “membutuhkan wujud untuk pemusatan diri” pun sesungguhnya memiliki wujud-wujud lain, sarana-sarana lain untuk memfasilitasi Pemusatan Diri.

Aksara-aksara tertentu, tulisan-tulisan tertentu, kitab-kitab suci, bangunan-bangunan dan tempat-tempat Suci, bahkan sosok dan/atau sifat Para anutan – semuanya adalah Wujud.

Dalam tradisi Sindhu, Shin-tuh, Hindu, Hindia, Indies, Indo – nāma dan Guna – nama dan sifat – dua-duanya adalah penjabaran atau perpanjangan dari rūpa atau wujud.

Apa yang “kita” rasakan ketika Ada yang mengkritisi Anutan “Kita”, kitab Suci “kita” atau kepercayaan “kita”? Kitab Suci “kita”, kepercayaan “kita” dan Anutan “Kita”; dan kitab Suci “mereka”, kepercayaan “Mereka”, Anutan “Mereka” – Kita dan Mereka – semua ini adalah permainan wujud.

Illusi-perbedaan antara “kita” dan “mereka” disebabkan oleh wujud. Semuanya muncul dari kesadaran badaniah. Selama masih berkesadaran demikian, kita boleh saja menganggap diri sudah hebat dan bisa memuja Hyang Tak Berwujud. Padahal kita hanya memuja-Nya dalam “Wujud yang beda” dari wujud yang mereka Puja.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Samarinda, 09122017-MA

Di tulis ulang Dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai