Hyang Tak Berwujud di balik Hyang Berwujud

Ye tv aksaram anirdeśyam avyaktam paryupāsate

Sarvatra-gam acintyam ca kūta-stham acalam dhruvam

Sanniyamyendriya-grāmam sarvatra Sama-buddhayah

Te prāpnuvanti mām eva sarva-bhūta-hite ratāh

Bhagavad Gita, 12.3-4

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Kedua ayat ini mesti digabung, dan ayat keempat diterjemahkan lebih dahulu, supaya esensi, makna yang tersirat, inti dari kedua ayat ini tidak hilang.

Intinya: Mereka yang senantiasa berkarya demi kesejahteraan sesama mahkluk pun menyatu dengan-Nya. Mereka pun mengalami kemanunggalan yang Sama asal……

Ya disini Krsna memberikan syarat.

Seorang aktivis sosial bisa mengalami kemanunggalan yang Sama, Persis seperti yang dialami oleh seorang panembah, asal Ia melayani dengan semangat manembah.

Guru saya Selalu mengingatkan, “Yang membedakan seorang panembah dengan aktivis sosial adalah semangatnya. Seorang panembah melayani dengan semangat mengabdi kepada Ia Hyang Bersemayam sekaligus meliputi Jagad Raya. Seorang aktivis sosial melayani dengan semangat membantu sesama. Kegiatan mereka Sama tetapi niat dibaliknya beda. Sebab itu hasilnya pun beda.

Seorang aktivis sosial meraih penghargaan dari dunia, dari Masyarakat, dari pemerintah, Dari lembaga-lembaga sosial, institusi-institusi kepercayaan, perusahaan-perusahaan besar, dan lain sebagainya.

Seorang penembah mendapatkan penghargaan dari Gusti Pangeran, berupa “kemanunggalan” dengan-Nya.

Krsna juga menjelaskan beberapa sifat Tuhan yang mesti melandasi semangat pelayanan, pengabdian, dan panembahan kita:

Sesama mahkluk adalah “Wujud Nyata” dari Ia Hyang:

1. Melampaui gugusan pikiran dan perasaan. Kita tidak dapat menjelaskan-Nya lewat pikiran, lewat logika, intelek dan rasio.

2. Maha Ada. Ada dimana-mana. Tidak Ada satu pun tempat dimana Ia tidak Ada. Apa mungkin? Ya mungkin. Perhatikan space, ruang alam semesta. Ia adalah “Ibarra” Ruang Abadi itu, Hyang Ada dimana-mana.

3. Tidak Pernah Punah. Keluarkan segala isi alam Dari Ruang semesta, seperti mengeluarkan perabot dari ruangan. Tanpa perabot pun Rumah tetap Ada.

4. Tak Terjelaskan. Kita dapat menjelaskan “isi” alam semesta , galaksi, multiverses, Apa saja – tetapi sebatas itu saja, sebatas isi yang Berwujud saja. Hyang Tak Berwujud dan menopang semuanya tidak dapat di jelaskan Karena Ia….

5. Abadi. Isi atau wujud berubah-ubah – Ruang yang menopangnya tidak berubah. Yang berubah – datang dan pergi adalah awan. Perubahan itu memberi kesan seolah langit sedang berubah, padahal tidak. Langit tidak pernah berubah. Dan Ia adalah Maha Langit di atas langit di atas langit di atas langit…. Langit abadi yang melampaui Segala langit…

6. Tak Tergoyahkan. Pola awan yang berubah-ubah tidak mempengaruhi langit. Ia tak tergoyahkan oleh segala macam guncangan dan perubahan.

7. Melampaui segala wujud. Sebab, semua wujud terkesan Sebagai wujud karena Dia. awan tidak bisa bereksistensi tanpa langit. Ada langit maka awan pun Ada. Awan berubah, tapi langit tetap Sama.

8. Tak berubah!

Sifat – sifat ini mesti dikembangkan, di dalam diri seorang panembah, barulah Ia manunggal dengan-Nya. Atau menunggal dulu dan sifat-sifat ini akan mewarnai hidupnya.

Jadilah panembah dan Anda menjadi Aktivis spiritual, Bukan sekedar aktivis. Atau jadilah seorang aktivis spiritual dan Anda akan manunggal. Demikian kiranya nasehat Krsna. Dalam satu kalimat: mengembangkan sifat-sifat tersebut di atas berarti “menghadapi segala keadaan dan tantangan dengan penuh kesadaran bila semuanya Ibarat awan yang sedang berlalu”

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 08122017 – MA

Ditulis ulang dari buku Bhagavad Gīta oleh AK

Tiga Yuktā (Perbuatan Utama) seorang Yogī

Kutipan Sloka berikut ini adalah Jawaban Krsna terhadap pertanyaan cerdas Arjuna pada ulasan sebelumnya

Baca ulang: https://adnyaninatha.com/2017/12/06/pertanyaan-arjuna-tentang-hyang-berwujud-dan-hyang-tak-berwujud/

Srī-bhagavān uvāca

Mayy āveśya mano ye mām nitya-yuktā upāsate

Śraddhayā parayopetāh te me yuktatamā matāh

Bhagavad Gita, 12.2

Śrī Bhagavān (Krsna Hyang Maha Berkah) menjawab:

“Mereka yang berkeyakinan penuh dan senantiasa menyadari kemanunggalannya dengan-Ku, memuja-Ku dengan pikirannya terpusatkan pada-Ku, adalah para Yogī utama, Demikian Anggapan-Ku.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

“Demikian anggapan-Ku”. Disini, dalam kalimat pendek ini, lewat pertanyaan yang jujur ini, Krsna menempatkan diri-Nya sebagai mitra Arjuna. Ia bukanlah seorang penyelamat atau pembawa pesan dari langit. Ia adalah kesadaran Arjuna sendiri.

Tidak Ada paksaan bagi Arjuna untuk mengikuti pendapat-Nya. Arjuna tetap bebas untuk memilih. Krsna hanyalah memberi pendapat-Nya. Itu saja.

Namun, dalam Penggalan awal ayat ini, Krsna juga menempatkan diri-Nya sebagai Kesadaran yang tertinggi. “Aku” Krsna dalam penggalan awal adalah Aku-Universal yang Meliputi langit, bumi, semesta. Aku-Universal yang tidak terbagi antara langit dan bumi. Aku-Universal yang utuh, tidak separuh-paruh.

Seorang Yogī utama: istilah yang digunakan dalam ayat ini adalah “Yukta” – Perbuatan Utama. Jadi, Yoga dalam Hal ini adalah esensi dari segala perbuatan-sejak bangun tidur setiap pagi hingga tidur lagi setiap malam. Bahkan, segala “kegiatan pikiran” dalam bentuk “mimpi” yang “terjadi” saat tidur.

Tidak berarti segala perbuatan adalah Yoga. Hanyalah “Perbuatan-perbuatan utama” yang bisa disebut Yoga

Pertama: berkeyakinan penuh. Tanpa keyakinan, seorang Anak manusia menjadi layangan yang Putus-terlihat dinamis di langit sana, tapi tanpa arah. Keyakinan, dalam Hal ini bukanlah keyakinan pada sesuatu di luar diri. Bukan pada Arus dan kekuatan angin. Tetapi, pada diri yang dapat melawan Arus angin. Disinilah letak perbedaan antara manusia dan layangan. Kemudian, perlawanan yang dimaksud dalam Hal ini, dijelaskan lewat sifat utama kedua Seorang Yogī Utama;

Kedua: senantiasa menyadari kemanunggalannya. Berarti Ia tidak menempatkan diri sebagai kacung dunia. Dunia bukanlah majikannya. Ia berada di dunia ini, namun hanyalah sebagai pengunjung. Sebagai penonton untuk menonton pagelaran kebendaan. Ia menyadari asal-usulnya. Ia adalah percikan Sang Jiwa Agung. Percikan yang tak terpisahkan dari-Nya.

Sebab itu Ia tidak bergantung pada dunia. Ia menyayangi dunia tanpa keterikatan. Ia pun menyadari sifat kebendaan Alam-Benda. Maka, tidak Ada alasan baginya untuk bergantung pada Dunia Benda. Ketergantungan seperti ini, justru dapat menciptakan ilusi perpisahan Hyang Tunggal. Dengan menyadari kemanunggalannya, kemudian:

Ketiga: Memuja denga segenap pikiran terpusatkan pada-Nya. Manunggal namun tetap memuja, inilah kemanunggalan sejati. Kemanunggalan intelektual yang dirasakan oleh Mereka yang tak pernah berhenti pamer, “Aku adalah Kebenaran Sejati”- adalah kemanunggalan khayalan yang tidak berarti apa-apa. Kemanunggalan seperti itu, justru menjadi beban bagi Jiwa. Kemudian, mau-tak-mau mesti dimuntahkan lewat pernyataan, walau Hal itu tidak membantu juga.

Kemanunggalan sejati ialah ketika jiwa yang sudah mengalaminya, melayani jiwa-jiwa lain. Melayani sesama mahkluk Karena Ia Sadar bila dirinya tidak terpisah dari butir-butir pasir di bawah telapak kakinya dan bintang terjauh di galaksi terjauh. Itulah pemujaan yang dimaksud oleh Krsna.

Pelayanan aktif dan dinamis. Bukan membunyikan lonceng di tempat ibadah- tetapi mendengarkan rintihan dan ratapan setiap mahkluk yang sedang menderita Karena ketidaksadarannya. Kemudian, membantu mereka supaya mereka pun menyadari jati diri mereka. Itulah pemujaan yang dimaksud.

“Dengan segenap pikirannya terpusatkan pada-Ku” berarti tidak sekedar melayani dan membantu tetapi memuja, memuja Ia Hyang Bersemayam sekaligus meliputi setiap mahkluk, bahkan semesta. Melayani dengan kesadaran Jiwa seperti itulah pemujaan, yang dimaksud Krsna.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 07122017 – MA

Ditulis ulang dari Bhagavad Gita hal 574-576 Oleh AK

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai