Pertanyaan Arjuna tentang Hyang Berwujud dan Hyang Tak Berwujud

Arjuna uvāca

Evam satata-yuktā ye bhaktās tvām paryupāsate

Ye cāpy aksaram avyaktam tesām ke yoga-vittamāh

Bhagavad Gita, 12.1

Arjuna bertanya

Siapakah di antara para panembah yang sungguh memahami Yoga? Mereka yang senantiasa menyembah-Mu sebagai Hyang berwujud, ataukah Mereka yang menyembah-Mu sebagai Hyang Tak Berwujud dan Tak Pernah Punah

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Pertanyaan Arjuna adalah mewakili persoalan yang dihadapi sejak dahulu kala. Diantara mereka yang menyembah Tuhan sebagai Hyang Tak Berwujud dan Hyang Berwujud – siapakah yang lebih utama? Siapa kah yang lebih tahu? Siapakah yang lebih memahami Yoga?

Pertanyaan Arjuna bukanlah pertanyaan bodoh – Ia tidak bertanya, “Siapakah yang benar? Siapa yang Salah?” Tidak, Arjuna tidak mempertanyakan soal benar atau salah. Ia bertanya “Siapakah yang lebih memahami-Mu, Wahai Krishna?” Siapakah yang lebih memahami, lebih dekat dengan Yoga? Dalam pengertian, siapa yang lebih sadar akan kemanunggalan dirinya dengan Hyang Maha Tunggal?

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, dulu ketika “lagu-lagu rohani” dalam bentuk Bhajan, yang bersifat bebas ritual belum populer di Indonesia – banyak Pemuka kepercayaan menerjemahkan Bhajan sebagai Bhakti Yoga dan Bhakti Yoga dianggap yang paling rendah. Cocok bagi Mereka yang belum bisa menempuh jalur pengetahuan Jñāna; atau analysis Diri, Sāmkhya.

Krsna tidak memahaminya Demikian- Bhakti adalah Warna Dasar setiap Yoga, Demikianlah pemahaman Krsna yang disampaikannya lewat Bhagavad Gītā.

Arjuna pun memahami maksud Krsna. Ia sudah tidak bicara tentang mana yang benar dan mana yang salah, tapi mana yang lebih tepat untuk meraih kemanunggalan? Itulah pertanyaan Arjuna. Mana yang lebih mudah untuk mencapai kemanunggalan tersebut?

Kembali pada Hyang Berwujud dan Hyang Tak Berwujud….

Kendati “mengaku” percaya pada Hyang Tak Berwujud, sesungguhnya banyak panembah masih saja mengaitkan wujud-wujud tertentu dengan-Nya.

Wujud tak Selalu terkait dengan patung, ada pula sujud dalam bentuk Tulisan, kaligrafi; juga dalam bentuk bangunan yang disucikan; atau dalam bentuk kitab suci. Kemudian kita juga mengaitkan sifat-sifat tertentu dengan-Nya. Misalnya Ia Maha Baik – bukan Maha Jahat. Ia Maha Esa – bukan Maha Lemah. Tetap ada dualitas – tetap Ada perbedaan antara yang kita Anggap Maha Tepat bagi sosok Tuhan dalam benak kita dan yang tidak tepat.

Kita menentukan sifat-sifat tertentu bagi Tuhan. Dan, menolak sifat-sifat lain yang ditentukan oleh kelompok lain. Perselisihan pendapat inilah yang menyebabkan pertikaian, permusuhan, dan pertengkaran bahkan perang. Masing-masing kelompok yang beda pendapat dan pemahaman, menganggap – walau mereka tidak Selalu mengakui Hal ini – seolah Tuhan “mereka” dan Tuhan “kelompok lain” adalah beda. Seolah ada banyak Versi Tuhan.

Tidak Demikian dengan Arjuna- Ia tetap percaya pada Kemahatunggalan Tuhan. Ia tidak mengatakan bahwa Hyang Berwujud adalah lain atau beda dari Hyang Tak Berwujud.

Arjuna memahami “Hyang Berwujud” dan “Hyang Tak Berwujud” sebagai dua cara untuk mendekati Tuhan yang Satu dan Sama.

Pertanyaan Arjuna sungguh sangat cerdas. “Di antara kedua kelompok yang memuja- Mu sebagai Hyang Berwujud dan Hyang Tak Berwujud – siapakah yang lebih mudah, lebih cepat mencapai-Mu dan manunggal dengan-Mu?”

Pertanyaan Arjuna tidaklah ber sifat filosofis. Pertanyaan Arjuna bersifat praktis dan teknis. Ia bukanlah seseorang yang sedang mencari kepuasan intelek. Ia ingin tahu jalan mana, jalur mana yang terbaik bagi dirinya.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang,06122017-MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gita oleh AK

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s