Hidup dan Saling Menghidupi

Evam pravartitam cakram nanuvartayatiha yah

Aghayur indriyaramo mogham partha sa jivati

BG. 3.16

“Demikianlah, Roda kehidupan ber putar terus, dengan mahkluk-makhluk hidup saling menghidupi dan berbagi

Seseorang yang tidak melakukan Hal itu Partha (Putra Prtha- sebut an lain bagi Kunti, ibu Arjuna) dan hidup untuk memenuhi nafsu-Indriyanya saja, sesungguhnya hidup dalam kesia-siaan ”

Roda kehidupan digerakkan oleh energi sharing, berbagi; saling memberi, saling menunjang, saling peduli. Seseorang yang tidak melakukan Hal itu sesungguhnya merugikan dirinya sendiri.

Berbagi berarti menjadi Bagian Dari kehidupan Agung. Menjadi Bagian Dari pesta Raya kehidupan. Sungguh merugilah orang yang datang ke pesta, tapi duduk bengong di satu pojok. Atau seperti seorang pedagang yang datang ke pasar untuk berbelanja tapi tidak Jadi. Ia malah menunggu di luar pasar sambil berulang-ulang menghitung uang di kantongnya dan berpikir terus, tidak bisa menentukan mau beli apa untuk dijual kembali.

Jadikah Bagian Dari pesta Raya kehidupan, jadikah pedagang yang cerdas dan bijak. Berkarya lah dengan semangat manembah. Hidup dan saling menghidupi! Nikmati lah keberadaan kita di dunia ini. Persinggahan kita di dunia ini hanya lah untuk sesaat saja, manfaatkanlah setiap saat.

(BG. AK)

Mengembangkan Kasih 

Setiap orang terlahir dalam keadaan “belum mengenal kasih”. Banyak diantara kita terlahir dalam kondisi kasih yang belum berkembang. Karena itu, lingkungan, pendidikan, kebiasaan dan segala sesuatu yang kita lakukan adalah untuk mengembangkan kasih didalam diri kita. 
Seorang Anak, belum mengenal kasih. 

Kecenderungan anak-Anak menampilkan sifat2 bawaannya atau apa yang disebut dengan sancita Karma. Selain itu, mereka cenderung sulit memahami orang lain, sulit memahami dirinya sendiri dan bahkan tidak bisa. 
Sebuah contoh misalnya, seorang bayi ketika haus, Ia menangis dan memanggil Ibunya, padahal mungkin Ibunya sedang sangat kelelahan karena begadang di malam hari, setelah Ia beranjak agak besar, kadang-kadang Anak-Anak juga sulit memahami kondisi orang tuanya, cenderung membandingkan, cenderung komplin, dan menuntut banyak Hal. Terlebih pada anak2 yang merokok dan atau kenakalan lainnya. 
Setelah menjadi orang tua, Barulah mereka akan berlatih untuk mengembangkan kasih, berlatih untuk memahami anak-Anak yang kasihnya belum berkembang, berlatih untuk mengalah, berlatih untuk “melenyapkan” kepentingan pribadi nya demi kebahagiaan Anak-Anak. Demi cintanya. Demi kasihnya pada keluarga. 
Anak-Anak Kadang-kadang, dan bahkan seharusnya lebih banyak dididik untuk memahami peran orang tua. Memahami pengembangan kasih. 
Saya melihat di sekitar saya bagaimana Anak-Anak yang kasihnya belum berkembang dengan baik, Ia tidak hanya menyusahkan orang tuanya, keluarganya, sekolah, masyarakat serta Bangsa dan negara bahkan Ia merusak dirinya sendiri, dengan tumbuh menjadi Anak-Anak yang arogant, acuh dan kehilangan sense of belonging. 
Saya sering menemui anak-Anak yang tidak mau mengerti keadaan… 
Bhagavan… 

bimbing lah Selalu… 

Semoga Anak-Anak Kami menyadari perannya, menyadari visi jiwanya sehingga tidak menghanguskan energynya sendiri untuk Hal Hal yang ber sifat semu.
Menjadi orang tua tidak mudah, menjadi ibu tidak sangat sulit. Hanya perlu skill, dan mengembangkan kasih perlu latihan. 
Anak-Anak adalah tempat dimana orang tua harus belajar tentang kasih. Kepada Anak-Anak yang “sulit dan arrogant” orang tua harus extra, guru harus telaten, guru harus berkorban… 
Semua dari kita saling mengisi. Anak-Anak “mengisi” orang tua dan orang tua “mengisi” Anak-Anak. 

Dalam proses “isi-mengisi” ini, isilah dengan kasih. Apapun yang kita lakukan mesti atas nama kasih. 
Salam Rahayu 🙏
#mengembangkankasih

#melihatkedalamdiri

#senimempelajaridiri 

#scienceofSelf 

#Lesson 

#tobeparent

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai