“Nedunang” Sang Hyang Aji Saraswati: Piodalan Pura Buana Agung Bontang (1) 

Minggu ini terasa sangat istimewa bagi umat Hindu di Kota Bontang, dimana dalam suasana kemerdekaan, Masyarakat juga menyiapkan sarana-sarana untuk pemujaan dan pembersihan serta penguatan energi pada Piodalan Saraswati kali ini yang jatuh Pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung, Sabtu, 19 Agustus 2017

Pada hari ini, Sukra kliwon wuku Watugunung Jumat, 18/08/2017 agenda piodalan dimulai dengan upacara ngelud dan mecaru (Upacara Butha Yajna) dimana dimaksudkan sebagai pembersihan atau menetralkan energi-energi negatif yang telah berkembang seiring dengan perubahan Waktu dan pengaruh planet serta dampak perilaku manusia. Hal ini semacam upaya recycle atau daur ulang “sesuatu” yang sudah usang, menjadi sesuatu yang Baru, energi Baru. Inilah keunikan dari pada sistem pemujaan dengan konsep Rwabhinneda. Bahwa setelah menyadari Ada energi negatif yang bekerja kemudian kita juga memiliki kemampuan untuk menetralisir energi itu, dengan  media banten yaitu upacara ngelud dan mecaru. 


Selanjutnya setelah media, dan mandala (area) menjadi “bersih” dan “baru” maka di turunkanlah “Murti” atau Pratima Saraswati yang berstana di Pura Buana Agung ini. 

Tuhan yang Maha Kuasa dengan kekuasaannya juga berada disegala bentuk, disegala media, meresapi segala tempat dan segala media.  dalam wujud Sang Mahadewi Cantik, Dewi Saraswati, Dewi Ilmu pengetahuan, kini “ditedunkan” atau “diturunkan” untuk dirawat, “Dimuliakan” diPuja, di Sanjung oleh Para Bhakta di wilayah Kota Bontang Ini. Sebagaimana layaknya Tuhan yang berwujud, dengan segala keterbatasan pikiran, manusia “memperlakukan” murti itu sebagaimana layaknya seorang Raja. Beliau akan “Dimandikan” disuguhi “makanan”, dan dipuja puji. Seluruh Bhakta meyakini dengan keyakinan yang utuh bahwa “Beliau” telah hadir dan bersama-Sama. Inilah keberkahan, anugrah yang melimpah… cinta yang mencerahkan. Kesadaran Baru bagi manusia baru. 

Jika setiap dari para Bhakta yang hadir, memahami proses “memanusiakan” Tuhan ini, maka tiada kalimat bahwa Tuhan sangat Jauh. 

Dengan menyadari proses ini secara utuh, kita akan merasakan bahwa Tuhan sangat Dekat, memberi berkahnya secara melimpah, penuh kasih sayang… 

Penumbuhan batin inilah proses pendidikan yang berkembang dalam tradisi dan upacara yang Luhur ini. Tanpa keterbukaan diri untuk menerima ajaran “memanusiakan” Tuhan ini, kita akan menjadi manusia yang “kering” dan arogan. 

Selamat melaksanakan Piodalan Saraswati 

Om Aim Saraswati ya namah svaha 🙏

Bersambung…

Komunitas Hindu di Kota Bontang ikuti Gerakan 171717 untuk Indonesia Lebih Kasih Sayang 

Dalam suasana memperingati kemerdekaan RI yang Ke -72, Kodim 0908 Kota Bontang, menyelenggarakan gerakan 171717 untuk Indonesia Lebih Kasih sayang, gerakan ini di kemas dalam bentuk Doa bersama pada tanggal 17 Agustus 2017, pukul 17.00 serentak di seluruh Rumah Ibadah. Kegiatan ini dilaksanakan oleh seluruh umat beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghuchu. 

Kodim 0908 Bontang yang menjadi inisiator kegiatan ini, mengajak Anggota POLRI juga bersama -Sama masyarakat komunitas Hindu yang Ada di Kota Bontang, dibawah naungan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Bontang, kegiatan dipusatkan di Pura Buana Agung Kota Bontang, jalan Cut Nyak Dien Kelurahan Bontang Baru kecamatan Bontang Utara. 


Dalam kegiatan Doa bersama ini, juga diselipkan agenda Pembinaan berupa Dharma Wacana bertemakan “Mengisi kemerdekaan dengan membangun Kasih Sayang” 

Tema ini sangat sesuai dengan realitas masyarakat kini, dimana terjadi pergeseran nilai, toleransi dan penghormatan terhadap kebhinekaan. Upaya – upaya untuk memperkuat Bangsa ini juga mesti dibangun dengan pendekatan semacam ini. 

Marilah kita bangun negeri ini menjadi negeri yang berbudaya Luhur, Budaya yang memanusiakan manusia, Budaya yang menghormati kebhinekaan. 

Salam Rahayu 

PBNU tetap jaya 

Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945 

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai