Mohon Diajari Cara Menghidupkan Orang Mati #Kisah Masnawi

Yang penting adalah kesadaran jiwa nya. Bisa kah kita menyadarinya

avatar triwidodoKisah Spiritual Tak Lekang Zaman

http://art.bathnes.gov.uk/ow23/collections/voir.xsp?id=00101-17&qid=sdx_q0&n=13&e= The Raising of Jairus' Daughter Oil Painting :: 1889 :: Long , Edwin Longsden Height (cm) : 162.6 Width (cm) : 182.9

Seorang sahabat Yesus melihat tumpukan tulang. Dalam ketidaksadarannya, dia memohon kepada Sang Nabi, “Sahabatku, ajari aku cara untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati ini.”

Seorang master, seorang nabi, seorang guru, seorang avatar, seorang mesias, seorang buddha akan selalu menganggap para muridnya sebagai “sahabat”. Demikianlah kebesaran jiwa mereka. Tetapi, para murid sering kali menyalahartikan kebesaran jiwa sang mursyid. Baru belajar jalan sedikit, mereka sudah mau lari seperti sang mursyid. Mereka tidak sadar bahwa sang mursyid justru tengah melangkah lamban, agar bisa diikuti oleh para murid.

Jika seorang mursyid seperti Isa menghidupkan kembali seseorang, itu dilakukan bukan untuk memamerkan kesaktiannya. Ada tujuan lain. Jika setiap orang yang mati bisa dan harus dihidupkan kembali, apa gunanya ada “lembaga kematian”? Dihapus saja, supaya yang ada hanyalah “lembaga kelahiran” dan sekali lahir, setiap makhluk hidup untuk selama-lamanya.

Yesus bersabda, “Itu bukanlah tugasmu. Untuk melakukan hal itu, engkau membutuhkan jiwa yang lebih bersih…

Lihat pos aslinya 611 kata lagi

Penyamaran Nasuh, Sang Pencuci Rambut Kaum Hawa Kisah #Masnawi

avatar triwidodoKisah Spiritual Tak Lekang Zaman

buku-masnawi-5-nasuha

Untuk memperoleh pekerjaan sebagai pencuci rambut bagi kaum Hawa, Nasuh harus menyamar sebagai wanita. Wajah dan bentuk badannya memang sangat Feminin, sehingga tidak sulit menyembunyikan ke-“pria”-annya.

Selama bertahun—tahun, tak seorang pun menyangka bahwa Nasuh bukanlah seorang wanita. Nasuh pun menikmati pekerjaannya. Setiap kali menyentuh badan wanita yang sedang dicuci rambutnya, dia merasakan kepuasan birahi.

Kadang-kadang bila suara kecil nurani terdengar, dia juga merasa bersalah. Pada saat-saat seperti itu, dia menyadari kesalahannya.

Suatu ketika, dia bertemu dengan seorang Wali. seorang suci. “Ingat aku dalam doamu,” kata Nasuh kepada Sang Wali.

Mata batin Sang Wali sudah terbuka. Dia tahu betul apa yang disembunyikan oleh Nasuh. Kendati demikian, dia mengiyakan permintaannya: “Ya, Nak. Aku akan mengingat kamu. Aku akan berdoa untukmu.”

Nasuh bukanlah orang yang tidak sadar. Dia sadar. Dia menyadari kesalahannya, tetapi “merasa” tidak berdaya untuk memperbaiki diri. Tarikan “daging” masih kuat sekali. Api “napsu” masih membara. Di dalam diri dia sedang…

Lihat pos aslinya 509 kata lagi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai