SRII GITA CHALISA

1 dhṛtarāṣṭra uvāca

dharma-kṣetre kuru-kṣetre

samavetā yuyutsavaḥ

māmakāḥ pāṇḍavāś caiva

kim akurvata sañjaya

Bhagavad Gita, 1.1

 

Maharaja Dhrtarastra berkata :

Wahai Sanjaya, Putra – putraku dan Putra – putra Pandu sedang berkumpul di medan suci Kuruksetra dengan tekad untuk bertempur, (ceritakanlah padaku) apa yang mereka (sedang) lakukan?

2 sañjaya uvāca
taḿ tathā kṛpayāviṣṭam
aśru-pūrṇākulekṣaṇam
viṣīdantam idaḿ vākyam
uvāca madhusūdanaḥ
Bhagavad Gita, 2.1

 

Sanjaya Berkata :

Melihat arjuna tertutupi oleh rasa belas kasihan dan penyesalan, matanya menjadi basah dipenuhi oleh air mata maka Madhusudana berkata sebagai berikut

3 śrī-bhagavān uvāca

aśocyān anvaśocas tvaḿ

prajñā-vādāḿś ca bhāṣase

gatāsūn agatāsūḿś ca

nānuśocanti paṇḍitāḥ

Bhagavad Gita, 2.11

Tuhan Yang Maha Esa bersabda :

“Engkau berbicara dengan kata – kata yang sangat bijak tetapi pada saat yang sama engkau menyesal terhadap sesuatu yang tidak patut disesalkan orang – orang bijaksana tidak akan bersedih terhadap mereka yang sudah meninggal maupun terhadap mereka yang masih hidup

 

4 dehino ‘smin yathā dehe
kaumāraḿ yauvanaḿ jarā
tathā dehāntara-prāptir
dhīras tatra na muhyati
Bhagavad Gita, 2.13
Sebagaimana sang roh di dalam badan ini mengalami perputaran dari masa kanak – kanak ke masa muda dan masa tua seperti itulah badan lain didapatkan setelah meninggal. Dalam hal itu, orang – orang bijaksana sama sekali tidak akan terbingungkan oleh hal ini.

 

5 vasamsi jirnani yatha vihaya

navani grhnati naro ’parani

tatha sarirani vihaya jirnany

anyani samyati navani dehi

Bhagavad Gita, 2.22

Sebagaimana halnya seseorang menanggalkan pakaian yang sudah usang dan mengenakan pakaian yang baru seperti itu pula sang roh meninggalkan badan jasmani yang sudah tidak berguna dan memasuki badan jasmani yang baru

 

6 sukha-duḥkhe same kṛtvā

lābhālābhau jayājayau

tato yuddhāya yujyasva

naivaḿ pāpam avāpsyasi

Bhagavad Gita, 2.38

Terimalah dengan cara yang sama antara suka dan dukha, untung dan rugi, menang ataupun kalah. Setelah itu, sibukkanlah dirimu di dalam peperangan. Dengan demikian engkau tidak akan pernah dipengaruhi oleh dosa

 

7 karmaṇy evādhikāras te

mā phaleṣu kadācana

mā karma-phala-hetur bhūr

mā te sańgo ‘stv akarmaṇi

Bhagavad Gita, 2.47

Hakmu hanyalah pada pelaksanaan tugas kewajiban dan sama sekali tidak pada pahala dari tugas kewajiban yang engkau lakukan. Jangan beranggapan engkau menjadi penyebab dari hasil perbuatan, dan jangan menjadi terikat untuk tidak melakukan tugas kewajibanmu.

 

8 buddhi-yukto jahātīha

ubhe sukṛta-duṣkṛte

tasmād yogāya yujyasva

yogaḥ karmasu kauśalam

Bhagavad Gita, 2.50

Orang yang mempunyai kesadaran keseimbangan membebaskan dirinya dari perbuatan baik dan buruk dalam kehidupan manusia ini. Oleh karena itu, lelapkanlah dirimu di dalam yoga keseimbangan, sebab mempraktikkan yoga di dalam segala perbuatan adalah kecerdasan.

 

9 indriyāṇāḿ hi caratāḿ

yan mano ‘nuvidhīyate

tad asya harati prajñāḿ

vāyur nāvam ivāmbhasi

Bhagavad Gita, 2.67

Kecerdasan seseorang dapat dijadikan budak bahkan oleh satu saja dari indera yang lelap di dalam obyek – obyeknya. Ia dapat mengalahkan kesadaran spiritual orang bagaikan sebuah perahu yang berada diatas permukaan air di hembus oleh angin

 

10 prakṛteḥ kriyamāṇāni

guṇaiḥ karmāṇi sarvaśaḥ

ahańkāra-vimūḍhātmā

kartāham iti manyate

Bhagavad Gita, 3.27

Dalam segala hal sesungguhnya segala jenis perbuatan ditentukan oleh sifat – sifat alam. Tetapi, orang – orang yang dibungingkan oleh keakuan palsu berpendapat, “Akulah yang melakukan semua ini”. Demikian ia beranggapan.

 

11 evaḿ buddheḥ paraḿ buddhvā

saḿstabhyātmānam ātmanā

jahi śatruḿ mahā-bāho

kāma-rūpaḿ durāsadam

Bhagavad Gita, 3.43

Mengetahui bahwa hawa nafsu lebih kuat daripada kecerdasan maka setelah menguasai diri melalui sang Diri, wahai Arjuna yang berlengan perkasa, bunuhlah musuh yang tidak terkalahkan, dalam bentuk hawa nafsu.

 

12 yadā yadā hi dharmasya

glānir bhavati bhārata

abhyutthānam adharmasya

tadātmānaḿ sṛjāmy aham

Bhagavad Gita, 4.7

Wahai Arjuna, kapan saja dan dimana saja terjadi kemunduran dalam pelaksanaan ajara – ajaran kebenaran, dan meningkatnya hal – hal yang bukan ajaran kebenaran, maka pada waktu itu Aku Sendiri akan menjelma ke dunia ini.

 

13 catur-varnyam´ maya srstam´

guna-karma-vibhagasah

tasya kartaram api mam´

viddhy akartaram avyayam

Bhagavad Gita, 4.13

Aku menciptakan Catur varna, empat jenis pembagian golongan di masyarakat berdasarkan sifat – sifat dan pekerjaan – pekerjaannya. Walaupun sesungguhnya Akulah yang membuat Catur Varna tersebut, tetapi ketahuilah bahwa aku yang bersifat kekal abadi tidak melakukan perbuatan.

 

14 karmaṇy akarma yaḥ paśyed

akarmaṇi ca karma yaḥ

sa buddhimān manuṣyeṣu

sa yuktaḥ kṛtsna-karma-kṛt

Bhagavad Gita, 4.18

Orang yang mampu melihat apa itu perbuatan di dalam tidak melakukan perbuatan, dan melihat tidak melakukan perbuatan di dalam perbuatan, sesungguhnya orang seperti itu adalah orang yang cerdas diantara ribuan orang, dan dia adalah seorang Yogi, orang yang sibuk melakukan segala jenis perbuatan mulia.

 

15 brahmārpaṇaṁ brahma havir

brahmāgnau brahmaṇā hutam

brahmaiva tena gantavyaṁ

brahma-karma-samādhinā

Bhagavad Gita, 4.24

Kegiatan mempersembahkan adalah Tuhab, persembahan itu sendiri adalah Tuhan, menghaturkan persembahan oleh Tuhan ke Api suci Tuhan pun adalah Tuhan, dan bagi mereka yang seluruh perbuatannya merasuk lelap di dalam persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tujuan akhir mereka pun adalah Tuhan.

 

16 na hi jñānena sadṛśaḿ

pavitram iha vidyate

tat svayaḿ yoga-saḿsiddhaḥ

kālenātmani vindati

Bhagavad Gita, 4.38

Sesungguhnya di dunia ini tidak ada kekuatan penyucian yang melebihi kekuatan penyucian melalui ilmu pengetahuan suci. Kepada mereka yang sudah mencapai kesempurnaan praktik Yoganya, setelah beberapa waktu maka kebenaran sejati akan ia temukan  di dalam dirinya sendiri

 

17 sannyāsas tu mahā-bāho

duḥkham āptum ayogataḥ

yoga-yukto munir brahma

na cireṇādhigacchati

Bhagavad Gita, 5.6

Akan tetapi wahai Arjuna, keberhasilan pelaksanaan Sankhya Yoga tanpa pelaksanaan Karma Yoga adalah sulit. Sedangkan seorang karma yogi yang dengan mantap mempersembahkan perbuatan kepada Tuhan, maka sang karma yogi segera mencapai Brahman.

 

18 brahmaṇy ādhāya karmāṇi

sańgaḿ tyaktvā karoti yaḥ

lipyate na sa pāpena

padma-patram ivāmbhasā

Bhagavad Gita, 5.10

Dia yang mempersembahkan segala perbuatannya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan meninggalkan segala keterikatannya sambil tetap melakukan perbuatan – perbuatan sebagai persembahan kepada Tuhan, maka orang seperti itu tidak akan pernah disentuh oleh hasil – hasil perbuatan, bagaikan daun bunga padma tidak dibasahi oleh air

 

19 yo māḿ paśyati sarvatra

sarvaḿ ca mayi paśyati

tasyāhaḿ na praṇaśyāmi

sa ca me na praṇaśyati

Bhagavad Gita, 6.30

Dia yang melihat Aku berada di dalam semuanya. Dan melihat semuanya berada di dalam diri-Ku, maka Aku tidak pernah lenyap baginya, dan dia pun tidak pernah lenyap bagi-Ku

 

 

20 catur-vidhā bhajante māḿ

janāḥ su-kṛtino ’rjuna

ārto jijñāsur arthārthī

jñānī ca bharatarṣabha

Bhagavad Gita, 7.16

(Sebaliknya) wahai Arjuna, ada empat golongan manusia yang saleh  yang menyembah-Ku; orang – orang yang sedang dalam kesulitan, orang sekedar ingin tahu, orang yang menginginkan harta benda, dan orang – orang bijaksana terpelajar (yang menginginkan pembebasan)

 

21 bahūnāḿ janmanām ante

jñānavān māḿ prapadyate

vāsudevaḥ sarvam iti

sa mahātmā su-durlabhaḥ

Bhagavad Gita, 7.19

Setelah melewati penjelmaan demi penjelmaaan yang sangat banyak, orang – orang bijaksana yang terpelajar baik dalam spiritual, akan datang untuk menyerahkan dirinya pada-Ku. Mereka mencapai penghayatan bahwa segala sesuatu di alam ini hanyalah Vasudeva, Tuhan Yang Maha Esa. Orang berjiwa agung seperti itu sangat jarang ada ditemukan

 

22 avyaktaḿ vyaktim āpannaḿ

manyante mām abuddhayaḥ

paraḿ bhāvam ajānanto

mamāvyayam anuttamam

Bhagavad Gita, 7.24

Mereka yang kurang pemahamannya menganggap diri-Ku yang tak berwujud ini sebagai yang berwujud. Mereka tidak memahami kebenaran-Ku yang tertinggi yaitu Yang Kekal Abadi dan Maha Utama

 

23 yaḿ yaḿ vāpi smaran bhāvaḿ

tyajaty ante kalevaram

taḿ tam evaiti kaunteya

sadā tad-bhāva-bhāvitaḥ

Bhagavad Gita, 8.6

Pada saat kematian tiba, ketika seseorang (atma) meninggalkan badan kasarnya, keadaan apapun yang diingat olehnya, wahai Putra Kunti, maka pasti keadaan itulah yang akan dicapainya, karena (pada deti-detik ajal tiba) kesadarannya senantiasa mengenang keadaan (tersebut)

 

24 tasmāt sarveṣu kāleṣu

mām anusmara yudhya ca

mayy arpita-mano-buddhir

mām evaiṣyasy asaḿśayaḥ

Bhagavad Gita, 8.7

Oleh karena itu, ingatlah selalu pada-Ku, dan bertempurlah. Serahkanlah pikiran dan kesadaranmu kepada-Ku, tanpa keraguan sedikitpun maka engkau akan sampai pada-Ku

 

 

25 ananyāś cintayanto māḿ

ye janāḥ paryupāsate

teṣāḿ nityābhiyuktānāḿ

yoga-kṣemaḿ vahāmy aham

Bhagavad Gita, 9.22

Orang – orang yang memuja-Ku dengan selalu memusatkan pikirannya hanya satu kepada-Ku, kesadarannya senantiasa lelap di dalam cinta kasih bhakti kepada-Ku, kepada mereka Aku bawakan segala yang dibutuhkannya dan melindunginya (melindungi) segala yang mereka miliki.

 

26 patraḿ puṣpaḿ phalaḿ toyaḿ

yo me bhaktyā prayacchati

tad ahaḿ bhakty-upahṛtam

aśnāmi prayatātmanaḥ

Bhagavad Gita, 9.26

Mereka yang dengan penuh rasa bhakti mempersembahkan kepada-Ku (walaupun hanya selembar) daun, (sekuntum) bunga, (satu) buah dan (setetes) air, jika semua itu dipersembahkan dengan penuh bhakti oleh mereka yang berhati suci murni, maka Aku akan menerimanya

 

27 man-manā bhava mad-bhakto

mad-yājī māḿ namaskuru

mām evaiṣyasi yuktvaivam

ātmānaḿ mat-parāyaṇaḥ

Bhagavad Gita, 9.34

Lelapkanlah pikiranmu pada-Ku, jadilah penyembah-Ku, pujalah Diri-Ku, bersujudlah pada-Ku. Dengan menyerahkan diri sepenuhnya pada-Ku dan menjadikan Aku sebagai tujuan akhir hidupmu maka engkau pasti sampai kepada-Ku

 

28 ahaḿ sarvasya prabhavo

mattaḥ sarvaḿ pravartate

iti matvā bhajante māḿ

budhā bhāva-samanvitāḥ

Bhagavad Gita, 10.8

Aku adalah sumber dari seluruh ciptaan. Dari DiriKulah segala sesuatu bermunculan. Orang – orang bijaksana terpelajar memahaminya dengan cara seperti itu, mereka memuja-Ku dengan sepenuh hati.

 

29 mat-karma-kṛn mat-paramo

mad-bhaktaḥ sańga-varjitaḥ

nirvairaḥ sarva-bhūteṣu

yaḥ sa mām eti pāṇḍava

Bhagavad Gita, 11.55

Dia yang melakukan segala perbuatan hanya demi memuaskan Diri-Ku, dia yang menjadi penyembah-Ku yang baik dan menjadikan Aku sebagai tujuan hidupnya, yang sudah membebaskan dirinya dari segala jenis keterikatan, dan tidak bermusuhan dengan mahkluk hidup manapun (diatas muka bumi ini), Wahai Putra Maharaja Pandu, dia pasti dapat mencapai Diri-Ku

 

30 mayy eva mana ādhatsva

mayi buddhiḿ niveśaya

nivasiṣyasi mayy eva

ata ūrdhvaḿ na saḿśayaḥ

Bhagavad Gita, 12.8

Tempatkanlah pikiranmu pada-Ku, masukkanlah keerdasanmu dalam Diri-Ku. Sesudah itu tanpa keraguan sedikitpun, maka engkau akan selalu berada di dalam Diri-Ku.

 

 

31 yāvat sañjāyate kiñcit

sattvaḿ sthāvara-jańgamam

kṣetra-kṣetrajña-saḿyogāt

tad viddhi bharatarṣabha

Bhagavad Gita, 13.27

Wahai yang terbaik dari keturunan Bharata, seluruh mahkluk hidup ciptaan dialam ini, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, semua itu hendaknya engkau ketahui sebagai gabungan antara lapangan dan yang mengetahui lapangan

 

32 māḿ ca yo ’vyabhicāreṇa

bhakti-yogena sevate

sa guṇān samatītyaitān

brahma-bhūyāya kalpate

Bhagavad Gita, 14.26

Orang yang melakukan pelayanan kepada-Ku melalui bhakti-yoga yang tidak tergoyahkan, dia akan berhasil mengatasi sifat – sifat alam itu dan akhirnya menjadi layak untuk sampai pada Sang Maha Pencipta

 

33 sarvasya cāhaḿ hṛdi sanniviṣṭo

mattaḥ smṛtir jñānam apohanaḿ ca

vedaiś ca sarvair aham eva vedyo

vedānta-kṛd veda-vid eva cāham

Bhagavad Gita, 15.15

Aku berada di dalam hati seluruh makhluk hidup. Dari Akulah datangnya ingatan, ilmu pengetahuan dan juga kelupaan. Dari seluruh kitab suci Veda dan kitab – kitab suci lainnya, Akulah yang patut diketahui, karena sesungguhnya Akulah penyusun kitab suci Vedanta, dan yang mengetahui seluruh ajaran kitab suci Veda.

 

34 tri-vidhaḿ narakasyedaḿ

dvāraḿ nāśanam ātmanaḥ

kāmaḥ krodhas tathā lobhas

tasmād etat trayaḿ tyajet

Bhagavad Gita, 16.21

Hawa nafsu, amarah dan lobha, ini semua adalah tiga jenis pintu gerbang masuk ke neraka, yang menyebabkan sang roh semakin mengalami kejatuhan. Oleh karena itu, tinggalkanlah segera ketiga jenis sifat – sifat tidak terpuji itu.

 

35 anudvega-karaḿ vākyaḿ

satyaḿ priya-hitaḿ ca yat

svādhyāyābhyasanaḿ caiva

vāń-mayaḿ tapa ucyate

Bhagavad Gita, 17.15

Kata – kata yang tidak menyebabkan perasaan orang lain terganggu, jujur, menyenangkan, dan mengandung kebaikan, serta kata – kata yang dipergunakan untuk belajar serta mempraktikkan pembacaan kitab suci Veda, semua itu dikatakan sebagai pertapaan kata – kata.

 

36 bhaktyā mām abhijānāti

yāvān yaśh chāsmi tattvataḥ

tato māṁ tattvato jñātvā

viśhate tad-anantaram

Bhagavad Gita, 18.55

Melalui pencapaian cinta kasih bhakti yang sangat tinggi itu, sejauh mana kebenaran-Ku, bagaimana kebenaran-Ku, ia dapat memahami Aku dalam kebenaran-Ku yang sesungguhnya. Setelah itu, setelah memahami kebenaran-Ku itu secara sempurna, maka segera dia masuk ke dalam Diri-Ku (dan tinggal lelap di dalam kebahagiaan spiritual bersama-Ku)

 

37 īśvaraḥ sarva-bhūtānāḿ

hṛd-deśe ’rjuna tiṣṭhati

bhrāmayan sarva-bhūtāni

yantrārūḍhāni māyayā

Bhagavad Gita, 18.61

Wahai Arjuna, Tuhan Yang Maha Esa bersemayam di hati setiap mahkluk hidup. Melalui kekuatan Maya-Nya, memasuki mesin badan jasmani Tuhan menyebabkan semua mahkluk hidup dapat bergerak.

 

38 sarva-dharmān parityajya

mām ekaḿ śaraṇaḿ vraja

ahaḿ tvāḿ sarva-pāpebhyo

mokṣayiṣyāmi mā śucaḥ

Bhagavad Gita, 18.66

Tinggalkanlah segala tugas kewajibanmu, tetapi datanglah dan serahkanlah dirimu sepenuhnya hanya kepada-Ku. Maka Aku akan membebaskan dirimu dari segala dosa dan Aku akan memberikan pembebasan dari kesengsaraan duniawi kepadamu. (terhadap pernyataan-Ku ini) janganlah engkau ragu

 

39 ya idaḿ paramaḿ guhyaḿ

mad-bhakteṣv abhidhāsyati

bhaktiḿ mayi parāḿ kṛtvā

mām evaiṣyaty asaḿśayaḥ

Bhagavad Gita, 18.68

Dengan melaksanakan cinta kasih bhakti sepenuhnya kepada-Ku, dia yang menyampaikan ajaran – ajaran-Ku yang sangat utama dan penuh rahasia ini diantara orang – orang yang menyembah-Ku, maka tanpa diragukan lagi, orang itu akan sampai kepada-Ku

 

40 yatra yogeśvaraḥ kṛṣṇo

yatra pārtho dhanur-dharaḥ

tatra śrīr vijayo bhūtir

dhruvā nītir matir mama

Bhagavad Gita, 18.78

Inilah pendapat hamba : dimanapun ada Sri Krishna, penguasa ajaran Yoga, dan dimanapun ada Arjuna, sang pemanah utama, maka disana pasti ada  kemakmuran, kejayaan, kesejahteraan, dan moralitas yang tinggi.

 

GURU

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)
Selamat hari Guru, untuk semua guru di negeri ini. Semoga jalan cinta kasih dan Bhakti yang dilakukan menerangi kegelapan bhatin umat manusia.
Memperhatikan fenomena yang Ada di negeri ini tentang hubungan guru dan murid, Ada sebuah garis jelas yang menjadi gejala menurunnya penghormatan terhadap pendidik yang disebut guru. Hingga dimunculkannya sebuah “gerakan ayo hormati Guru” sebuah aksi untuk mengajak setiap orang kembali menghormati Guru. Menurut Saya, Hal ini terjadi karena pergeseran pemahaman mengenai makna guru. Ini sangat mendasar. Siapa kah guru? Apa pentingnya bagi kita?
Guru dapat diterjemahkan sebagai “seseorang” yang dapat membantu orang lain untuk mempelajari sesuatu. Guru adalah ia yang di gugu (dipercaya) dan di tiru.
Dalam Hindu, guru Ada 4 Jenis yaitu

1. Guru rupaka (orang tua yang melahirkan dan membesarkan kita)

2. Guru Pengajian (orang yang mengajar dan mendidik kita, Baik di sekolah formal, ataupun nonformal)

3. Guru Wisesa (penyelenggara pemerintahan)

4. Guru Swadhyaya (Tuhan Semesta alam. Dalam kategori ini, alam semesta juga adalah guru swadhyaya)
Merujuk kepada 4 jenis Guru tersebut, Maka hampir setiap orang adalah guru. Jadi guru bukan semata-mata ia yang mengajar di sekolah, sebagaimana kita pahami selama ini. Orang tua, acharya (pendidik/pengajar), pemerintah, alam, buku, dan Tuhan adalah Guru. Oleh Karenanya, peringatan hari Guru sesungguhnya adalah peringatan semua orang. Perayaan kemerdekaan, kebebasan kita Dari kebodohan, kegelapan bhatin.
Dalam Hindu, penghormatan terhadap guru dilakukan setiap hari Kamis. Hari kamis di sebut sebagai hari guru, yang dalam bahasa jawa kuno disebut sebagai Wrhaspati. Kata Wrhaspati ini berasal Dari nama Brhaspati, Guru para Dewa dalam kisah-kisah dan sejarah purana. Setiap hari kamis secara Khusus kita akan mengucapkan doa-doa pemujaan Tuhan sebagai Guru. Sebuah mantra tentang Guru yang paling populer sebagai berikut :
Om Gurur Brahma, Gurur Wisnu, Gurur Dewo maheswara,

Gurur shaksaat parambrahman

Tasmai Shree gurave namaha
Terjemahan bebas :

Brahma adalah Guru, Wisnu adalah guru, shiva adalah Guru, guru adalah yang tertinggi. Sujud sembah kepada Guru…
Filsafat ini mengajarkan kepada kita bahwa, kita mesti menghormati guru, kita tidak dapat menempatkan “seorang” Guru lebih rendah daripada Tuhan itu sendiri. Karenanya orang Tua adalah Tuhan yang berwujud. Guru di sekolah adalah Tuhan yang berwujud, pelaku pemerintah yang Bijak adalah representasi dari Tuhan.

Jika kita melihat setiap Guru sebagai Tuhan. Bagaimana mungkin kita tidak menghormatinya? Bagaimana mungkin kita memusuhi guru kita? Bagaimana mungkin kita memiliki musuh? Mengutip pada apa yang pernah di tulis oleh Bapak Gede Prama bahwa musuh adalah Guru yang menyamar. Sulit membayangkan bagaimana seseorang bisa menjadi “besar” tanpa musuh.
Dalam konsep shivaisme di Indonesia, shiva adalah guru. Dalam banyak stawa pemujaan, disebut – sebut sebagai bhatara Hyang Guru.
Guru Ibarat Lilin, yang bersedia meleleh demi menerangi kegelapan. Seseorang yang egonya mulai mencair, melumer.

Guru selalu menganggap siswanya sebagai sahabat. Persahabatan guru dan murid ini dapat di lihat dari persahabatan Krishna dan Arjuna. Krishna menganggap Arjuna sebagai sahabat nya. Tetapi Arjuna sendiri, menempatkan Krishna sebagai Guru.

Guru tak bisa menganggap dirinya sebagai Guru. Tetapi bagi murid, murid tak dapat menempatkan gurunya lebih rendah daripada Tuhan. Hubungan guru dan murid adalah hubungan Kasih, compassion. Guru menerangi bhatin sang murid atas nama kasih, bukan karena kepentingan-kepentingan pribadi seperti misalnya karena uang, karena jabatan dan sebab-sebab lain untuk alasan kepentingan pribadi.

Hubungan semacam itu tidak abadi, contoh dari hubungan seperti itu adalah hubungan Drona dan Arjuna. Hubungan guru murid yang di bangun, berdasarkan pada pondasi kepentingan pribadi Drona Acharya. Drona mengajar demi uang, demi balas dendam terhadap Raja Drupada. Hubungan seperti ini pasti akan hancur dan tak dikenang Jaman.

Hubungan guru dan murid sejati tidak bisa putus. Sehingga tak Ada istilah mantan Guru. Jika sudah lulus sekolah, kebanyakan dari para murid tidak lagi menghormati gurunya, pura-pura tidak kenal, tidak menyapa dan menjauhkan pandangan. Karakter seperti inilah yang dominan dalam diri murid-murid jaman sekarang. Mereka kehilangan jati diri, mereka lupa bahwa mereka menjadi besar Karena pertolongan dan doa para Guru. Sungguh miris. Semoga kita bukan generasi seperti itu.
Sebagai penutupan, Sebuah lagu sederhana untuk kita renungkan :
Bangun Tidur ku terus mandi

Tidak lupa menggosok gigi

Habis mandi ku tolong ibu

Membersihkan tempat tidurku.
Makna :

Bangunlah dari tidur panjangmu, dari kemalasanmu. Bangunkanlah Kesadaranmu, lalu mandilah, bersihkan kotoran bhatinmu, sampah emosimu. Mandikan bhatinmu, mandi dengan cara pemujaan, sembahyang, doa, tirtayatra, tapa, japa, yoga dan sadhana lainnya.
Setelah membersihkan kotoran bhatinmu, jagalah perkataanmu, jagalah bicaramu. Mulutmu harimaumu.
Setelah membersihkan badan, janganlah lupa membantu, melayani “ibu”, Bunda perthiwi. Ibu alam semesta. Melayani alam semesta, melayani umat manusia. Melayani sesama akan melipatgandakan kebahagiaanmu sendiri.
Dalam melayani, terus lah berupaya membersihkan kotoran bhatinmu, yang bersarang di dalam badan. Badan adalah tempat tidur bagi Atman.
Demikian. Salam hormat dan sembah sujud pada Guru.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)
#Guru

#Peringatanhariguru2016

#compassion

#biglove

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai