Doership

naiva kiñcit karomīti yukto manyeta tattvavit, 

paśyañ śrnvan sprśañ jigrann aśnan gacchan svapan śvasan

“Ia tekun menjalani Yoga, berkarya Tanpa pamrih, hendaknya memahami kebenaran diri dan dalam keadaan apapun – selagi melihat, mendengar, menyentuh atau mencium sesuatu; bahkan saat makan, berjalan, tidur dan bernafas -selalu mengingat, ‘aku tidak berbuat sesuatu'”
Rasa Kepemilikan atau possessiveness, dan keterikatan muncul dari doership, rasa “melakukan.”

(Bhagavad Gita, 5.8)

DOERSHIP, BERARTI “AKU” MELAKUKAN – Kemudian, karena “aku” melakukan, maka muncullah keterikatan dengan hasil dari pekerjaan-“ku”. Muncul Rasa kepemilikan terhadap benda-benda, harta-kekayaan yang semuanya “ku”-peroleh karena kerja-keras”ku”, jerih payah”ku”

Ketika badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan, intelegensia, dan sebagainya berkomplot, bersama-sama mengaku sebagai doer, yang berbuat, pelaku – maka, bersama-sama pula mereka mengikat diri dengan dunia benda, dengan hasil dari pekerjaan mereka. 

Padahal, Materi sebagai hasil dari perbuatan-“ku” senantiasa berubah, senantiasa berpindah tangan. tidak langgeng, tidak abadi. Maka segala kenikmatan yang kita peroleh darinya tidak abadi pula. Apa yang masih ada di dalam genggaman kita saat ini, sesaat lagi akan berada digenggaman orang lain. inilah yang menyebabkan suka-duka. 

Untuk membebaskan diri dari dualitas suka-duka; saat ini senang, sesaat lagi gelisah; untuk meraih kebahagiaan sejati – kita mesti mencabut rasa doership dari akar-akarnya. Aku bukan pelaku. Sebab itu, apapun hasil dari laku yang “terjadi” lewat badan ini, bukan pula milikku. 

Aku adalah Jiwa, Percikan Jiwa Agung. Alam Benda adalah penjabaran dari kekuasaan-Nya. semuanya milik Dia, Dia dan hanya Dia. 

Dikutip dari Buku Bhagavad Gita Karya Bapak Anand Krishna halaman 220

Satya, Kebenaran: Jaga Kesadaran Walau Sedang Marah, Jengkel, Ngambek, Tersinggung!

Pengendalian diri

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku yoga sutra patanjali marah jaga kesadaran

DALAM KEADAAN CAPEK, KESAL, MARAH, JENGKEL, NGAMBEK, TERSINGGUNG, SAKIT HATI, seseorang bisa kehilangan akal-budinya. Tapi lagi-lagi, janganlah mencari pembenaran atas hilangnya akal-budi, “Aku kan lagi capek, ya pasti kesal dong diganggu pengemis pagi-pagi.” Alasan yang tidak saja tidak kuat, tapi juga membuktikan kelemahan diri kita. Masa rasa capek bisa bisa menghanyutkan, menghilangkan akal budi kita.

Mungkin juga, dia merasa sudah berada dalam wilayah aman. Barangkali ia berpikir, Sekarang aku sudah bekerja secara jujur hartaku sudah berlimpah lagi, sekarang aku sudah aman. Dalam keadaan, yang oleh para Sufi atau Sophy disebut takabur, seseorang bisa kehilangan akal-sehatnya. Ia lupa bahwa keberhasilannya bukanlah sekadar hasil jerih payah atau kecakapan dirinya dalam menjalankan usaha, tapi juga karena berkah. Karena lupa peran berkah, ia menjadi sombong, angkuh. Matanya berkabut, pandangannya tidak jernih lagi.

Silakan simak kisah dan penjelasan tentang Kebenaran di bawah ini:

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha…

Lihat pos aslinya 1.311 kata lagi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai