Our Life 

Our Life
Ketika Jadi “Single Parent” plus Bekerja di Luar Rumah

Romantika dan keseruannya menyulut semangat baru.

Hari ini, sabtu 11 juni 2016, Ketika Sekolah kami masih melakukan ujian semester, sebagai seorang Guru, saya harus mengawas Ulangan Semester ini. Sebagai orang tua yang sedang “mengasuh” anak seorang diri. tiada keluarga, tiada asisten, Taman Penitipan anak sedang tutup. maka yang paling realistis dilakukan adalah membawa anak-anak saya ikut bekerja bersama saya. 

sebelum hal ini terjadi, kecemasan sudah menyelimuti saya. wow… ini dia stres, ini real of life. 
setelah dijalani, ternyata seru. 

aku tak sendiri. ada banyak ibu yang seperti saya. Demikianlah kekuatan dari semangat hidup. 

 

#wanitatangguhbekerjaparalel

#parenting

#teacher

Hidup ini Indah

jika menanam, kita pasti memetiknya

Menanam terong dalam pot, sudah panen 2 kali. masih ada lagi di pohon. jika lapar, dan akan makan siang, petik terongnya, goreng dan buat sambel. makan dengan lahapnya. 

tidak perlu pandai memasak, tidak perlu banyak bumbu, toh tuntutan perut adalah makanan, bukan rasa. rasa hanya tuntutan lidah
so… ga ada alasan untuk tidak bisa memasak. apalagi tidak makan. 
Keribetan hidup ini karena kita tidak menerima kehidupan ini dengan mudah. kita sendiri yang mempersulitnya dengan tuntutan-tuntutan. tuntutan makan enak, tuntutan makan mewah dan berbagai tuntutan lainnya. 
saya tidak menolak makanan bumbu banyak, juga tidak menolak makanan mewah. tetapi jika kita bisa kenyang hanya dengan makanan sederhana. kenapa hRus ribet. 

kebiasaan seperti ini. membuat dapur saya mendapat julukan sebagai “Dapur Ashram”. 
saudara saya yang mengunjungi rumah kami dan bermalam di rumah akan mengatakan bahwa makanan kami adalah makanan “ala” ashram. hehehehe… 
saya sungguh menikmati kehidupan seperti ini. saya tidak “fokus” di dapur saja. saya makan seadanya, sisa waktu saya gunakan untuk membaca buku, menulis. dan aktivitas lainnya. 
Pertama-tama, kami mencintai cara hidup kami sendiri. dengan mencintai diri sendiri dan berbahagia dengan diri sendiri serta bersahabat dengan berbagai keadaan. kemudian kami belajar berbagi kebahagiaan. belajar menerima orang lain. 
kita akan memberi, sesuai dengan apa yang kita miliki. 
kita akan menerima apa yang memang layak bagi kita
semoga semua mahkluk berbahagia
On Sarve sukhinah

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai