Pengendalian Lidah dalam Makan dan bicara

Pintu utama menuju yoga “persatuan dengan Tuhan” adalah pengendalian lidah; pengendalian ini meliputi bidang cita rasa dan ucapan. Bhagavad Gita telah menyatakan bahwa tanpa pengendalian lidah, sangat sulit untuk mengikuti jalan pengabdian dan masuk dalam mahligai yoga menuju Tuhan.

Tulisan berikut ini dikutip dari buku Intisari Bhagavad Gita oleh Bhagavan Sri Satya Sai Baba.

Setiap alat indra yang dimiliki manusia mempunyai satu kegunaan khusus, tetapi lidah diberi kemampuan ganda yaitu kemampuan bicara dan kemampuan cita rasa. Bhagavad gita menyatakan bahwa engkau harus sangat berhati – hati menggunakan lidah. Untuk dapat mengendalikan lidah, seorang Bhakta perlu melakukan latihan – latihan khusus seperti misalnya bersikap hening tanpa bicara (Mona Bratha), mengatur makanan dan berpuasa penuh.

seorang “pencari”, pejalan spiritual, kita mesti memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan, makanan mempengaruhi bagaimana karakter kita. Usahakanlah agar kita selalu makan makanan satwik. makanan satwik membantu menenangkan pikiran, melembutkan kata – kata. Dikatakan bahwa, kita tidak bisa mencapai kasih Tuhan dengan memuaskan lidah kita. Mencapai kasih Tuhan dan memuaskan lidah dengan makan makanan yang enak – enak adalah dua hal yang bertentangan.

Tentang fungsi lidah yang kedua adalah kemampuan berbicara. Kita mesti menggunakan kata – kata dengan bijaksana. Tentang kekuatan sebuah kata – kata, berikut adalah sebuah cerita tentang keampuhan kata – kata.

Ada seorang pejabat di dinas pendidikan yang mengunjungi sebuah sekolah dan melihat suatu kelas pada saat seorang guru sedang mengajarkan Weda kepada sekelompok murid. Guru rohani ini mengajar terus menerus selama beberapa jam dan berbicara tiada putusnya. Setelah lama mendengarkan, pejabat itu merasa pusing. Akhirnya ia berkata kepada pak guru, “Pak Guru, mereka masih anak – anak. Tidak ada gunanya menyiksa mereka selama berjam – jam dengan ceramah yang begitu panjang. Bagi mereka pelajaran ini tidak ada artinya sama sekali. Ajaran kitab suci dan makna weda yang mendalam itu tidak mungkin dimengerti anak – anak kecil ini. Guru itu menjawab bahwa justru anak – anak usia seperti ini mudah diberi pengertian tentang jalan yang benar. Ia beranggapan bahwa dengan diajarkannya kebenaran yang mulia ini sejak dini, keraguan dalam hati anak – anak tersebut dapat dilenyapkan, dan mereka dapat dituntun pada jalan yang benar. Pejabat itu berkata, “saya tidak percaya semua itu. Bagaimana mungkin pikiran dapat diubah oleh kata – kata saja? Saya tidak percaya hal itu bisa terjadi.

Dengan berbagai cara, beberapa penjelasan, serta argumentasi, guru itu berusaha meyakinkannya, namun pejabat itu tidak mau mendengar dan tidak mau mengerti kata – kata guru itu. Pikirannya tertutup. Terlalu banyak pendidikan kadang – kadang mengakibatkan sakit jiwa; timbul keragu –  raguan, lalu otak yang bicara; dalam sekejap segala kebajikannya lenyap, dan akal tidak jalan. Setelah guru itu menyadari bahwa segala jerih payahnya memberi penjelasan kepada pejabat itu sia – sia belaka, ia memutuskan akan membuktikan pandangannya dengan pelajaran yang praktis sehingga pejabat itu mengerti. Ia menyuruh murid yang termuda berdiri dan berkata, “Nak, tolong seret pejabat ini ke luar ruangan. Lakukan segera!”

Begitu pejabat itu mendengar kata – kata pak Guru, ia naik pitam. Ia lalu berteriak, “Kau ini siapa? Saya ini pejabat, kau suruh anak kecil mengusir aku? Betul – betul kurang ajar kau ini ya! Pak guru berkata kepada pejabat itu, baik pak, saya tidak memukul, tidak menghantam, dan bahkan menyentuhpun tidak. Saya tidak berbuat apa – apa terhadap bapak. Tetapi bapak sudah begitu marahnya hanya mendengar kata – kata. Apakah yang menyebabkan bapak marah? Karena kata – kata saya itu bukan? Demikianlah cara pak guru menunjukkan kepadanya bahwa kata – kata sangat kuasa. Kata – kata mempunyai kemampuan yang ampuh untuk mencelakakan ataupun untuk menimbulkan yang baik, sesuai dengan cara kita menggunakannya.

AHIMSA

Tulisan berikut ini saya kutip dari Buku Dvipantara Yoga Sastra Karya Bapak Anand Krishna.

khusus pada bagian Yama dari penerapan Yoga secara Holistik, yaitu Pada penerapan Panca Yama Brata.

Ahimsa yang umumnya diterjemahkan sebagai “non kekerasan” mungkin adalah salah satu Yama Paling universal. Yang juga paling sering disalahartikan.

Ahimsa bukanlah sekedar urusan menjadi vegetarian dan mengubah diet. Ahimsa adalah program komplit untuk mempraktekkan non kekerasan atau tidak mencelakakan dalam segala hal. Termasuk tidak memikirkan pikiran – pikiran penuh kekerasan, atau setidaknya tidak melayani pikiran – pikiran tersebut, sehingga reda dengan sendirinya.

Ahimsa juga berarti menjaga emosi dan ucapan kita. Tindak kekerasan apapun selalu bermula dari dan dengan sebuah pikiran kekerasan, sebuah emosi kekerasan. Dari itu muncullah kata – kata keras atau kasar, termasuk kata – kata penuh kebencian, gosip dan lain sebagainya. Sebuah tindak kekerasan biasanya muncul setelahnya, setelah ucapan keras dan kasar.

Oleh karenanya, bagi seseorang yang ingin mempraktekkan disiplin ahimsa ini adalah penting untuk membenahi dulu lapisan mental dan emosional.

Apa yang kita lakukan ketika sebuah pikiran atau emosi kekerasan muncul? Kita bisa mencoba untuk melupakan dengan menyapunya ke bawah “karpet kesadaran”. Ini bisa menjadi first-aid, tindakan pertolongan pertama, tapi bukan solusi kesembuhan. Pikiran – pikiran dan emosi – emosi yang disapu ke bawah “karpet Kesadaran” masih ada disana dan siap muncul kembali kapan saja.

Lebih baik melihat menjadi saksi dan bahkan mengakui adanya pikiran – pikiran dan emosi – emosi tersebut. Ini sesungguhnya adalah situasi yang tricky, pelik yang harus dipahami betul untuk mengatasinya.

Perhatikan pikiran – pikiran dan emosi – emosi kekerasan di dalam dirimu tanpa melayani mereka. Demikian nasihat Guru saya suatu kali.

Butuh waktu bagi saya untuk memahami dengan tepat apa maksud sang Master. Tetapi begitu saya memahaminya, langkah berikutnya menjadi sangat mudah.

Memperhatikan sebuah pikiran dan atau emosi tanpa melayani mereka adalah memperhatikan tanpa berkomentar apapun. Banyak yang menyebutnya sebagai “tidak menghakimi”. Saya mencoba menghindari istilah tersebut karena “tidak menghakimi” sering, bahkan sangat sering disalah artikan sebagai “tidak memilah”. Pengertian semacam itu jelas keliru, tidak tepat.

Untuk menjadi seorang saksi, seseorang masih harus menggunakan buddhi, seseorang harus cukup inteligent untuk memahami, memutuskan dan memilih menjadi seorang saksi, dan tidak terikat dengan pertunjukkan tersebut.

Jadi perhatikan tanpa berkomentar. Sebagaimana saat kita menonton sebuah pertunjukan atau film. Kita sering bertemu dengan orang – orang yang sangat ribut dan terus saja mengomentari setiap adegan, sehingga sangat mengganggu penonton lain. Orang – orang seperti itu haruslah ditolerir, apalagi jika mereka merupakan anggota masyarakat yang dianggap terpandang.

Ketika menonton sebuah pertunjukkan, seorang bijak akan berusaha memahami apa makna dari pertunjukkan tersebut. Karenanya mereka menjadi atentif dan penuh perhatian. Mereka tidak berkomentar. Mereka tidak ribut. Sesungguhnya dengan menjadi atentif, penuh perhatian dengan menjadi seorang saksi, kita tidak bisa menjadi ribut.

Begitu kita menjadi fasih, kita menjadi ahli dalam memperhatikan pikiran – pikiran dan emosi – emosi kita; begitu kita menjadi lebih atentif pada semua pikiran dan emosi tersebut – kita menyadari bahwa sebagain besar pikiran, emosi dan terutama yang penuh kekerasan dan mencelakakan, sesungguhnya tidak berguna. Sebelum mencelakaan orang lain, pikiran – pikiran dan perasaan – perasan atau emosi – emosi tersebut sesungguhnya terlebih dahulu mencelakakan diri kita.

Langkah berikutnya yaitu, melepaskan atau terlepasnya pikiran – pikiran dan perasaan tersebut secara otomatis dengan sendirinya. Bahkan, nyaris tanpa upaya apapun, kita tidak perlu memaksa diri untuk menyingkirkan pikiran – pikiran dan perasaan – perasaan tersebut.

Saya mengikuti nasehat master saya dan terbukti sangat benar dan mudah – sahaja, tanpa upaya keras. Ketika kita mulai melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, ketika fakultas pemilahan dalam diri kita, buddhi kita sudah cukup berkembang – tindakan kita terkoreksi dengan sendirinya.

Sebuah peringatan disini…

Untuk langsung mempraktekkan Tanpa Kekerasan atau ahimsa pada tataran ucapan dan tindakan, bisa jadi sangat melelahkan. Terlebih lagi kita seringkali hanya menyadari kekerasan yang kita lakukan setelah terlanjur mengucapkan kata – kata penuh kebencian dan melakukan kekerasan. Kita hanya menyadari kesalahan kita, setelah kerusakan terjadi dan menjadi sangat sulit untuk mengembalikan keadaan seperti semula, bahkan untuk memperbaiki kerusakan tersebut bukan tidak mungkin, tetapi sulit, sangat sulit.

Kerusakan yang telah terjadi pada tataran ucapan dan tindakan hanya dapat diatasi  – tidak benar – benar kembali ke keadaan semula, karena kerusakan telah terjadi – dengan penyesalan tulus dan permohonan maaf kepada mereka yang telah kita celakai.

Setelah melakukan itupun, kita hanya dapat, paling banter, mencoba membatasi kerusakannya. Jadi sangatlah pemting bahwa kita tidak sampai melakukan kekerasan lewat ucapan dan tindakan. Hentikan pada tahap mental/emosional.

Faktor lain yang tidak kalah penting dari ahimsa, seperti sering diingatkan oleh mahatma Gandhi, adalah ahimsa tidak sama dengan kepengecutan. Jangan biarkan seorangpun menyamarkan kepengecutan dirinya sebagai ahimsa. Jangan membodohi diri kita dengan menyembunyikan kepengecutan kita di bawah mantel ahimsa

Ahimsa adalah karakteristik dari para pemberani dan kuat – ya, para pemberani dan kuat. Ada orang – orang yang berani, bahkan nekat, tetapi tidak cukup kuat. Mereka kalah. Adapula orang – orang kuat berotot, tetapi pengecut – merekapun gagal

Untuk bisa sukses, untuk menjadi pemenang dalam permainan ahimsa, untuk menjadi teladan ahimsa, seseorang haruslah berani sekaligus kuat, mampu menyerang balik, mampu membalas tetapi memilih untuk merespon segala tindak kekerasan dengancara – cara non kekerasan.

Ahimsa bukanlah tidak bertindak. Ahimsa tidak sama dengan tidak menanggapi. Ahimsa adalah menanggapi dengan bijak, bukan membalas secara reaktif dan tendensius, tetapi menghadapi segala tantangan dan situasi

Janganlah ahimsa disalahartikan sebagai menahan diri dari menggunakan pembasmi hama atau membiarkan virus dan bakteri berpesta dalam tubuh anda. Ini adalah pemahaman yang sangat rendah tentang ahimsa, pemahaman doktrinatis, dogmatis, harfiah, yang bisa jadi malah kontraproduktif.

Dengan menahan diri untuk menggunakan pembasmi hama dan membiarkan nyamuk penyebar demam  berdarah menyebabkan kekacauan – kita bisa menyebut diri sebagai pembela ahimsa bagi para nyamuk dan serangga, tetapi bagaimana dengan tubuh kita sendiri? Bagaimana dengan kesehatan keluarga kita? Bagaimana dengan tetangga – tetangga kita?

Dengan kata lain, ketika pembasmi hama adalah satu – satunya pilihan bijak yang tersedia, maka menahan diri untuk tidak menggunakannya, malah justru adalah tindakan himsa atau kekerasan, bukan tindakan ahimsa atau tanpa kekerasan

Ahimsa bukan sekedar kata, tetapi adalah gaya hidup. Ahimsa adalah gaya hidup tanpa kekerasan. Oleh karenanya, kita harus cukup bijak untuk memahami nilai – nilai intinya, bukan makna harfiahnya semata.

 

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai