Jangan Menyakiti Orang Lain, Jangan Pula Sampai disakiti oleh orang lain

Dikatakan bahwa orang yang beruntung adalah yang tahu bagaimana berbicara tanpa menyakiti hati orang lain. Ada suatu cerita :

Seorang ibu rumah tangga mengikuti suatu pertemuan. Ia berkonsentrasi dan mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang sedang dijelaskan. Ketika itu pendeta sedang menjelaskan tentang Ramayana dan ia mengatakan bahwa, bagi seorang istri, suami adalah satu satunya tujuan hidup. Selanjutnya ia berkata, “sudah menjadi kewajiban seorang istri memuaskan suaminya dan membuatnya bahagia. Selalulah memperlakukan suamimu sebagai Dewa.” Setelah mendengar ceramah ini, ibu rumah tangga itu pulang. Ia sangat terkesan oleh ceramah ini dan bertekad untuk melaksanakan apa yang telah dipelajarinya. Begitu suaminya pulang ia mengambil air dan membasuh kakinya sebelum sang suami sempat membuka sepatu. Ia beranggapan bahwa dengan cara begitu ia melakukan pelayanan yang penuh bakti kepada suaminya. Sang suami merasa bingung dan sangat heran. Ia masuk kerumah, duduk dan siap untuk membuka sepatu dan mengeringkan kakinya, tetapi sebelum ia berbuat demikian, sang istri berbegas menghampiri suaminya dan membuka sepatunya.

Setelah kejadian ini, sang suami pergi ke ruang kerja di rumahnya dan menelepon dokter. Ia tidak tahu kalau istrinya baru saja menghadiri ceramah pendeta. Dokter datang dan memberikan pil tidur. Kata dokter, kelihatannya ia terserang histeria, namun setelah beristirahat satu dua hari, mungkin ia akan sembuh kembali. sang suami makan dan menyuruh istrinya beristirahat, kemudian ia pergi ke kantor.

Sang istri kembali pergi mendengarkan ceramah berikutnya. Pada hari itu pendeta menjelaskan pertalian antara suami istri. Ia berkata, “Siapakah suami? Siapakah Istri? Tidak ada yang kekal. Semua ini hanya bersifat sementara dan tidak tetap. Sebenarnya tidak ada apa – apa. “ kemudian pendeta itu menambahkan, “Hanya Tuhan yang benar. Ialah satu satunya kenyataan sejati.” Sang istri pulang dan duduk di kamar pemujaannya.

Hari itu sang suami pulang setengah jam lebih awal dari kantornya karena mengira kalau – kalau istrinya sakit dan barangkali ia dapat membantu. Ia mengetuk pintu dan memberitahu istrinya bahwa ia datang seraya minta agar dibukakan pintu. Dari tempat sembahyang istrinya menjawab, “Tidak ada ibu, Tidak ada ayah, tidak ada rumah, tidak ada apa – apa, suamipun tidak ada.” Ia sangat terkejut melihat kelakuan istrinya. Tetapi akhirnya ia dibukakan pintu juga. Setelah masuk ke dalam rumah ia segera menelpon dokter jiwa. dokter datang dan memeriksa wanita itu secara teliti, lalu memberikan hasil pemeriksaan. Ia menyatakan bahwa setelah mendengar semua ceramah kitab suci ini ia memperlihatkan tingkah laku yang ganjil, namun jika ia bisa ditahan di rumah ia akan cepat sembuh. Segala usaha dilakukan agar sang istri tidak lagi menghadiri ceramah. Semua orang diberitahu. Sopir dan semua pembantu di rumah diberitahu agar tidak mengizinkan ia pergi.

Setelah pencegahan itu dilakukan terhadap dirinya atas perintah dokter, ia tidak menghadiri ceramah selama dua hari dan ia mulai bertingkah laku seperti biasa. Jadi ketidakterikatan yang timbul dalam dirinya bersifat sementara dan tidak mendalam. Hal itu tidak berlangsung lama. Kini sang suami merasa bahagia. Pekerjaan sehari hari berjalan kembali seperti biasa. Setelah sebulan, wanita ini pergi lagi ke tempat ceramah. Pada hari itu, pendeta menjelaskan tentang ajaran Bhagavad Gita, pendeta mengatakan bahwa bila seseorang menggunakan kata – kata, ia harus mengucapkan kebenaran dan tidak mengatakannya dalam cara yang menimbulkan kecurigaan. Wanita itu mendengar hal ini lalu pulang. Suaminya memberitahu bahwa hari itu ada resepsi pernikahan dan minta agar ia siap pergi bersamanya. Segera sang istri menyiapkan diri lalu pergi bersama suaminya.

Upacara pernikahan sedang berlangsung, ada suatu tradisi ditempat itu yaitu kalung yang akan dipakai oleh mempelai wanita disodorkan kepada setiap sesepuh  agar disentuh dan diberkati. Ayah mempelai wanita menghampiri nyonya itu, mengenalinya dan bertanya, “bagaimana kabar ibumu? Apakah semuanya baik?” pertanyaan ini hanya untuk sopan santun saja, basa basi dengan dia sambil menyodorkan kalung itu dan minta agar disentuh serta diberkati. Wanita itu menjawab. “ ibu saya sehat, tetapi seminggu yang lalu ibu mertua saya meninggal mendadak dan jenasahnya diperabukan.” Tamu yang duduk disebelahnya berkata kepadanya, “mengapa engkau mengatakan hal yang tidak baik pada waktu menyentuh dan memberkati kalung ini yang maksudnya agar mempelai wanita hidup lama dan bahagia bersama keluarganya di masa mendatang?” ibu rumah tangga itu menjawab, “apakah saya harus berbohong hanya untuk kalung ini? Tidak. Saya tidak akan pernah berkata bohong. Memang kenyataannya ibu mertuaku meninggal minggu yang lalu.” Seorang wanita muda yang duduk disebelahnya berkata “BU, ibu semestinya tahu tempat dan waktu, dan menyadari keadaan dan suasana  sebelum mengatakan sesuatu.”

Bila engkau mendengarkan suatu pelajaran spiritual pada suatu hari tertentu, engkau akan melaksanakannya dengan keyakinan dan kemauan yang kuat, tetapi hanya untuk hari itu. Cara ini bukan cara yang benar untuk mengikuti pelajaran spiritual. Engkau harus menggunakan akal budimu untuk bisa mengerti suasana tempatmu berada, sebelum engkau menggunakan kata – kata dalam suatu keadaan tertentu.

Lidah jangan sampai dikotori oleh hal yang tidak benar, badan jangan sampai dicemari oleh kekerasan. Pikiran jangan sampai dinodai oleh perasaan buruk.

Pengendalian Lidah dalam Makan dan bicara

Pintu utama menuju yoga “persatuan dengan Tuhan” adalah pengendalian lidah; pengendalian ini meliputi bidang cita rasa dan ucapan. Bhagavad Gita telah menyatakan bahwa tanpa pengendalian lidah, sangat sulit untuk mengikuti jalan pengabdian dan masuk dalam mahligai yoga menuju Tuhan.

Tulisan berikut ini dikutip dari buku Intisari Bhagavad Gita oleh Bhagavan Sri Satya Sai Baba.

Setiap alat indra yang dimiliki manusia mempunyai satu kegunaan khusus, tetapi lidah diberi kemampuan ganda yaitu kemampuan bicara dan kemampuan cita rasa. Bhagavad gita menyatakan bahwa engkau harus sangat berhati – hati menggunakan lidah. Untuk dapat mengendalikan lidah, seorang Bhakta perlu melakukan latihan – latihan khusus seperti misalnya bersikap hening tanpa bicara (Mona Bratha), mengatur makanan dan berpuasa penuh.

seorang “pencari”, pejalan spiritual, kita mesti memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan, makanan mempengaruhi bagaimana karakter kita. Usahakanlah agar kita selalu makan makanan satwik. makanan satwik membantu menenangkan pikiran, melembutkan kata – kata. Dikatakan bahwa, kita tidak bisa mencapai kasih Tuhan dengan memuaskan lidah kita. Mencapai kasih Tuhan dan memuaskan lidah dengan makan makanan yang enak – enak adalah dua hal yang bertentangan.

Tentang fungsi lidah yang kedua adalah kemampuan berbicara. Kita mesti menggunakan kata – kata dengan bijaksana. Tentang kekuatan sebuah kata – kata, berikut adalah sebuah cerita tentang keampuhan kata – kata.

Ada seorang pejabat di dinas pendidikan yang mengunjungi sebuah sekolah dan melihat suatu kelas pada saat seorang guru sedang mengajarkan Weda kepada sekelompok murid. Guru rohani ini mengajar terus menerus selama beberapa jam dan berbicara tiada putusnya. Setelah lama mendengarkan, pejabat itu merasa pusing. Akhirnya ia berkata kepada pak guru, “Pak Guru, mereka masih anak – anak. Tidak ada gunanya menyiksa mereka selama berjam – jam dengan ceramah yang begitu panjang. Bagi mereka pelajaran ini tidak ada artinya sama sekali. Ajaran kitab suci dan makna weda yang mendalam itu tidak mungkin dimengerti anak – anak kecil ini. Guru itu menjawab bahwa justru anak – anak usia seperti ini mudah diberi pengertian tentang jalan yang benar. Ia beranggapan bahwa dengan diajarkannya kebenaran yang mulia ini sejak dini, keraguan dalam hati anak – anak tersebut dapat dilenyapkan, dan mereka dapat dituntun pada jalan yang benar. Pejabat itu berkata, “saya tidak percaya semua itu. Bagaimana mungkin pikiran dapat diubah oleh kata – kata saja? Saya tidak percaya hal itu bisa terjadi.

Dengan berbagai cara, beberapa penjelasan, serta argumentasi, guru itu berusaha meyakinkannya, namun pejabat itu tidak mau mendengar dan tidak mau mengerti kata – kata guru itu. Pikirannya tertutup. Terlalu banyak pendidikan kadang – kadang mengakibatkan sakit jiwa; timbul keragu –  raguan, lalu otak yang bicara; dalam sekejap segala kebajikannya lenyap, dan akal tidak jalan. Setelah guru itu menyadari bahwa segala jerih payahnya memberi penjelasan kepada pejabat itu sia – sia belaka, ia memutuskan akan membuktikan pandangannya dengan pelajaran yang praktis sehingga pejabat itu mengerti. Ia menyuruh murid yang termuda berdiri dan berkata, “Nak, tolong seret pejabat ini ke luar ruangan. Lakukan segera!”

Begitu pejabat itu mendengar kata – kata pak Guru, ia naik pitam. Ia lalu berteriak, “Kau ini siapa? Saya ini pejabat, kau suruh anak kecil mengusir aku? Betul – betul kurang ajar kau ini ya! Pak guru berkata kepada pejabat itu, baik pak, saya tidak memukul, tidak menghantam, dan bahkan menyentuhpun tidak. Saya tidak berbuat apa – apa terhadap bapak. Tetapi bapak sudah begitu marahnya hanya mendengar kata – kata. Apakah yang menyebabkan bapak marah? Karena kata – kata saya itu bukan? Demikianlah cara pak guru menunjukkan kepadanya bahwa kata – kata sangat kuasa. Kata – kata mempunyai kemampuan yang ampuh untuk mencelakakan ataupun untuk menimbulkan yang baik, sesuai dengan cara kita menggunakannya.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai