Renungan Diri: Mati dengan Membawa Banyak Keinginan Akan Lahir Lagi Tanpa Kesadaran

Untuk bereinkarnasi di dunia ini, mind “turun” bersama air hujan, petir atau rembulan. Mereka yang mati secara alami dan harus mengalami jatuh-bangun berulang kali, biasanya jatuh bersarna air hujan. Inilah kelahiran yang paling sering, paling umum.

Mereka yang mati karena kecelakaan, dan perang, terbunuh, atau karena dihukum mati, turun bersama petir. Mereka tidak rela mati, karena itu ingin cepat-cepat turun. Dalam kehidupan berikutnya, mereka mcenjadi sangat restless. Ingin cepat-cepat jadi kaya, terkenal, memiliki kedudukan, dan dapat menghalalkan segala cara untuk itu. Ada rasa takut dalam diri yang tidak mereka sadari: “Jangan-jangan tali hidupku terputus di tengah jalan lagi.” Mereka pun dibutuhkan dunia. Perkembangan teknologi dan kemajuan yang terjadi dalam lima puluh tahun terakhir disebabkan oleh sekian banyak manusia yang mati semasa Perang Dunia Pertama dan Kedua. Makin banyak orang terbunuh dalam perang, semakin berkembang teknologi kita, termasuk teknologi destruktif yang dapat menghancurkan dunia ini.

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku rahasia-alam-500x500

Cover Buku Alam Rahasia

Alkisah, karena tidak memahami hal itu, Shukra terjebak dalam lapisan Svarga. Dan dia menikmatinya. Ia membutuhkan “waktu dunia” bertahun-tahun untuk menyadari ketidaksadarannya. Ternyata Svarga dengan segala isi serta kenikmatannya hanyalah proyeksi dari pikirannya. Obsesi-obsesinya selama sekian banyak inkarnasi rnewujudkan Svarga sesuai dengan keinginannya. Svarga dan Narka memperoleh tenaga dan bisa bertahan dalam wuju mereka masing-masing, karena energi kita sendiri.

Kepercayaan bahwa setiap perbuatan baik menghasilkan pahala + keinginan untuk menikmatinya = Svarga.

Rasa bersalah atas tindakan kurang baik + kepercayaan bahwa anda harus dihukum untuk itu = Narka.

Svarga dan Narka muncul dari kepercayaan manusia pada sistem Reward and Punishment— Ganjaran dan Hukuman.

Selama anda “tidak sadar” dan masih membutuhkan motivasi untuk bertindak tepat, sistem ini memang diperlukan. Bila anda “sudah sadar”, dewasa dan bertanggung jawab, tidak lagi membutuhkan motivasi untuk bertindak tepat. Anda akan selalu bertindak tepat walau tidak diancam hukuman atau diberi iming-iming ganjaran.

Lihat pos aslinya 860 kata lagi

Renungan Diri: Berpegang pada Yama, Disiplin Pengendalian Diri dan Niyama, Pedoman Hidup Berkesadaran

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

|| 2 ||

yamāṁśca niyamāṁścaiva yadā rakṣennu paṇditaḥ

teṣāṁ saṁrakṣitenaiva buddhirasya na cālyate

One must always adhere to Yama or the Disciplinary Codes,

and Niyama, the Rightful Course of Actions in order to check one’s buddhi or purified mind

(the Intelligent Body or Domain of our being).

Following are the Yama, the Disciplinary Codes.

By doing so, the Paṇḍit, the Wise, the Truly Learned Knowledgable

keep it – keep his buddhi – ever unwavered.

Seseorang harus senantiasa berpegang pada Yama, Disiplin atau Pengendalian Diri.

dan Niyama, Pedoman Perilaku untuk Hidup Berkesadaran

untuk senantiasa menjaga buddhi atau mind yang telah dimurnikan

(Badan, Wujud, atau Fakultas Inteligensia dalam diri kita).

Berikut adalah Yama, Pedoman Disiplin atau Pengendalian Diri.

 

Dengan demikian, seorang Pandit, seorang Bijak, Ia yang Berpengetahuan Sejati

senantiasa menjaga buddhi-nya, supaya tak tergoyahkan.

Vrati Sasana ayat 2 dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra

Lihat pos aslinya 702 kata lagi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai