Renungan Gibran: Cinta Keluarga ada Pamrih , Cinta Tuhan hubungan Dagang, Praktekkan Kasih Cintai Tetangga!

Mengukur kasih, sulit nih yaa

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku kahlil gibran

Cover Buku ABC Kahlil Gibran

“Cinta anda terhadap keluarga masih ada pamrihnya, sehingga belum bisa disebut ‘kasih’. Dengan anggota keluarga, cinta dan kewajiban bercampur-aduk. Lalu, cinta terhadap mereka yang jauh dari anda bisa disebabkan oleh rasa ‘rindu’. Karena jauh, anda mengingat mereka. Kalau bertemu, bisa-bisa berantem. Itupun belum ‘kasih’.

“Kemudian hubungan anda dengan Tuhan disebut cinta pun belum tepat, karena warna ‘takut’ yang begitu kental. Kebanyakan orang tidak mencintai Tuhan. Mereka takut akan ‘hukuman-Nya’. Takut akan api neraka atau berharap bisa masuk sorga. Hubungan seperti itu tak lebih daripada hubungan dagang. Anda belum mencintai Tuhan!

“ Itu sebabnya Gibran menganjurkan, ‘Cobalah dengan tetanggamu.’ Anda tidak serumah dengan dia, tetapi juga tidak jauh dengan dia. Dekat, tapi jauh. Jauh, tapi dekat. Dan, mencintai seorang tetangga sungguh sulit! Kahlil Gibran justru menjadikan ‘cinta dan simpati terhadap tetangga’ sebagai tolok ukur sederhana mengenai ‘kasih’ anda.

“Ia tidak bicara tentang ‘bantuan’. Ia tidak bicara…

Lihat pos aslinya 231 kata lagi

Napak Tilas Jejak Langkah Sang Buddha Bag. 8 Bodhgaya Tempat Pencerahan Sang Buddha

Just rileks

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

1 dekat latar belakang pohon Bodhi

Foto berlatar belakang Pohon Bodhi tempat Sang Buddha mengalami pencerahan di Bodhgaya

Bodhgaya, tempat Pencerahan Sang Buddha

“Orang mengira bahwa Ia mendapat pencerahannya di bawah pohon Boddhi. ‘Yang dimaksudkannya adalah Sang Buddha.’ Tentu saja tidak demikian. Baik pohon ini atau pohon-pohon yang lainnya tak ada hubungannya dengan pencerahan. Pencerahan tidak didapatkan begitu saja karena duduk di bawah pohon. Sebenarnya hari itu ia capek dan bosan dengan semua yang telah dilakukannya. Semua latihan, disiplin dan meditasi tak membawanya ke mana pun. Dan ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya.”

“Bagaimana dia bisa tahu versi cerita Siddhartha yang tak populer itu? Setelah saya pikir kembali, itu tidaklah penting…….

“Di hari yang kemudian dirayakan sebagai hari pencerahan, Siddhartha menyadari bahwa semua latihannya, disiplin dan meditasinya tak membawanya ke mana pun. Jadi, ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Ia duduk di bawah sebuah pohon, bersandar pada rantingnya yang besar dan menutup matanya. Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun…

Lihat pos aslinya 851 kata lagi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai