Mewakafkan Nyawa: Pengabdian Terakhir Sang Raja Kera, Kisah pada Relief Borobudur

avatar triwidodoKisah Spiritual Tak Lekang Zaman

borobudur pengorbanan raja kera

Gambar Relief Raja Kera menjadi jembatan penyelamat rakyatnya sumber www borobudur tv

Mewakafkan Nyawa

“Perjuangan ini bukan untuk mereka yang menghitung laba rugi. Perjuangan ini adalah untuk mereka yang berani mewakafkan nyawa mereka bagi bangsa. Bila pengorbanan itu kau artikan sebagai kerugian, maka perjuangan ini bukanlah untukmu.” (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Seekor pemimpin kelompok kera mengguncang hati manusia dengan tindakannya yang penuh kasih mengambil resiko berbahaya demi menyelamatkan kelompoknya.

 

Kisah Sang Raja Kera

Adalah sebuah pohon mangga raksasa yang sangat rimbun daunnya. Dari kejauhan pohon tersebut seperti bukit hijau nampaknya. Dekat tebing sebuah gunung, pohon tersebut berada, dan sebuah sungai melintas di bawah salah satu dahannya. Pohon tersebut mempunyai ribuan buah mangga yang rasanya luar biasa enaknya. Baunya harum dan tahan tidak membusuk dalam waktu yang lama. Mangga yang penuh khasiat, sehingga membuat sehat siapa pun yang memakannya. Ratusan kera hidup…

Lihat pos aslinya 1.110 kata lagi

Mengupayakan Keturunan, Seberapa Pentingkah? Belajar Dari Mahabharata Dan Ramayana

avatar triwidodoKisah Spiritual Tak Lekang Zaman

pandu membunuh rusa yang ternyata jelmaan Brahmana

Ilustrasi Pandu memanah rusa (ternyata jelmaan brahmana) yang mengutuk Pandu akan mati bila berhubungan suami-istri sumber: www indiatvnews com

Upaya Memperoleh Putra dalam Ramayana dan Srimad Bhagavatam

Raja Dasaratha dan Permaisuri Kausalya ingin mempunyai putra, karena lama belum berhasil Dasaratha kawin lagi dengan Sumitra. Dan karena belum mempunyai putra juga, maka Dasaratha kawin lagi dengan Keikayi. Kemudian karena belum mempunyai putra juga, mereka mengadakan Yaga, Upacara Ritual Pengorbanan sehingga ketiga istri Dasaratha mempunyai putra-putra. Bahagiakah Dasaratha? Tidak juga kebahagiaan hanya sementara  dan akhirnya tibalah konsekuensi, Rama harus pergi diasingkan dan Dasaratha meninggal dalam kesedihan.

“Puluhan ribu tahun yang lalu, dalam Masa Emas atau Sat Yuga, bertapa adalah jalan yang paling tepat. Kemudian pada Masa Perak atau Treta Yuga, Datanglah Rama untuk menunjukkan jalur pengorbanan. Kurang lebih lima ribu tahun yang lalu, Krishna menganjurkan pelayanan penuh kasih sebagai jalan yang paling tepat untuk Masa Tembaga atau Dwapara Yuga. Sekarang, untuk Masa…

Lihat pos aslinya 1.029 kata lagi

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai