Yogasala Pertama Di Bontang

Satnam, Puji Tuhan, kehidupan kami kini semakin bahagia karena dipenuhi berkah dan rasa syukur. Aku memang menggeluti yoga sejak tahun 2004 dan mulai hidup sebagai praktisi Yoga. Kesukaanku pada Yoga mengantarkanku para kesempatan2 untuk berbagi dan melayani orang lain yang juga memiliki keinginan yang sama untuk mempelajari dan mempraktekkan Yoga.
Selama di kampus, aku sudah menjadi instruktur Yoga pada unit kegiatan Mahasiswa (UKM) Yoga, kemudian aku terus berbagi pengetahuan tentang yoga sampai tahun 2011. Kemudian pada nov 2011 aku memindahkan fokus pengajaranku dari anak2 sekolah menjadi ibu2 seperti beberapa teman Guru dan juga Perawat Rumah sakit maupun Ibu rumah tangga. Awalnya aku mengajar dari rumah ke rumah. Tapi kini tidak lagi demikian. Setelah aku menempati rumah baruku dengan ukuran ruang yang cukup untuk mengajar beberapa member Yoga, aku memutuskan mengajar di rumah saja dan menyiapkan alat2 penunjang seperti Matras. Member Yoga dari kategori ibu2 hanya berjumlah 4 orang. Meski demikian aku tidak berhenti mengajar untuk anak2 sekolah. Di sekolah dimana aku mengajar dan bekerja, aku memiliki wadah khusus yaitu ekstrakurikuler Yoga. Aku memang menginginkan kelas yoga dg peserta yang sedikit, sehingga lebih fokus dan manfaatnya dapat di terima dg baik.
Sebelumnya aku tidak pernah memberi nama untuk tempat yang kupakai untuk mengajar Yoga, tapi kemudian, kehadiran Guruji Indra Udayana ke Bontang dalam rangka menjadi Narasumber dalam workshop “Bermuda dan Bercahaya” yang di laksanakan oleh PERADAH Kota Bontang, memberi inspirasi untuk memberi nama tempat itu menjadi Yogasala dan sekaligus meresmikan Yogasala pertama di Bontang pada Sabtu, 9 Februari 2013.
Dengan demikian, rumahku ku dedikasikan untuk menjadi tempat berbagi pengetahuan.

Rumahku, Ashramku

Setiap orang menginginkan menjadi ratu dan raja di rumahnya. Maksudnya, dalam pengertian sang pengatur Rumah tangga. Tanggung jawab setiap bagian dr anggota keluarga di rumah itu, mesti memahami dan melaksanakan kewajibannya masih2 dan saling menghargai satu sama lain. Contoh saya perihal makanan yg harus di sajikan di meja makan setiap harinya.
Aku sebagai istri maupun ibu bagi anakku, aku memiliki prinsip yang kuat agar anak dan suamiku tdk suka jajan diluar. Namun demikian tidak berarti aku mengusahakan agar anak dan suamiku selalu berselera makan di rumah dg masakan yg disiapkan di rumah. Pengaturannya adalah makanan yang disiapkan di rumah adalah makanan vegetarian. Sangat tdk disarankan masak daging. Seingat aku, sejak awal menikah, aku memang tdk pernah memasak daging merah. Biasanya hanya ayam atau ikan. Itupun dlm waktu yang sangat jarang. Aku memang menyiapkan daftar menu di buku dan aku pajang di dapur, sehingga bude yg membantuku sudah mengetahui pada hari ini atau esok akan masak apa. Awalnya ayam di makan hanya sekali seminggu, yaitu pada hari Rabu. Minggu berikutnya menu di ganti lagi, ikan hanya dimakan pada hari sabtu, minggu berikutnya, tanpa ayam dan ikan. Sepanjang minggu kita akan makan dengan makanan vegetarian. Selain itu, memang masakan dimasak dg cara sederhana, tdk terlalu banyak bumbu dan juga tdk pedas.
Semua itu aku lakukan utk menjaga perilaku dan kebiasaan agar tdk memiliki kebiasaan yang buruk. Sebab, segala pikiran2 kita datang dari apa yang kita makan, lalu pikiran2 kita akan menentukan kata2 kita dan kata2 akan menentukan perilaku. Perilaku kita akan menjadi kebiasaan2 dan kebiasaan2 kita akan menjadi sifat. Lalu sifat kita akan menentukan masa depan kita.
Mengapa rumahku adalah ashram bagiku. Karena prinsip2 hidup di dalam ashram (padepokan) mulai di terapkan secara perlahan2. Hal ini adalah sesuatu keniscayaan akan menghasilkan sesuatu yg baik pula.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai