Indonesiaku

Dalam DNA manusia Indonesia masih terwaris budaya asal tersebut, sehingga Islamnya warga Indonesia adalah Islam model Indonesia, Kristen/Katholik cara Indonesia, Buddha/Hindu ala Indonesia……… ada tradisi “mudik”, “nyekar”, “sungkem”, “mutih”, “mengheningkan cipta”, “slametan”, “nyewu”(seribu hari), “haul” (kol-kolan), “padusan”, “grebek”, “ngabuburit”, salat yang sering bolong dan sebagainya…..

Sejarah panjang perjalanan bangsa justru mengugkapkan bahwa “agama asli” bersikap sangat ramah, inklusif, dan toleran terhadap agama-agama pendatang. Lalu mengapa yang menjadi “tolok ukur” justru agama-agama pendatang, dan bukan pada keyakinan tradisional yang memang jarang mendefinisikan atau membuat pembakuan keyakinan? Dalam lintas sejarah terungkap bahwa agama-agama pendatang selalu disambut dengan ramah, bukan dianggap sebagai musuh dan ancaman, sebaliknya dihargai, diadaptasi dan diterima untuk menghiasai mozaik keyakinan asli yang menyangga dan mendasarinya. Sejarah membuktikan justru ekstrimisme yang membahayakan persatuan nasional sering tumbuh subur dalam agama-agama resmi, bukan kepercayaan tradisional.
http://hukum.kompasiana.com/2012/09/07/isu-agama-di-indonesia-menurut-penghayat-kepercayaan-terhadap-tuhan-yang-mahaesa/

Inner beauty

Inner beauty adalah kecantikkan yang lahir dari buddhi, kecantikan yang lahir dari inner peace. Aku tdk sedang menilai diri sendiri tapi aku sedang merasakan. Sedang mengalami. Ketika ada rasa damai, rasa plong, rasa nyaman, calm, aku merasa aku percaya diri, aku merasa diselimuti oleh cinta, aku merasa setiap org ceria, aku merasa tak seorgpun membenci, marah atau apapun padaku. Aku hanya melihat cinta mereka, senyumku lebar dan halus penuh makna.
Aku sedang ingin berbagi, berbagi keceriaan, berbagi kebahagiaan, bahwa setiap orang sangat mungkin memperoleh kebahagiaan. Kebahagiaan bukan monopoli seseorang.
Ketika kita bahagia dan ceria, kita sendiri sedang memancarkan energi positif

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai