Catatan Senin yang Indah

liburan sudah berakhir dan tiba saatnya untuk masuk sekolah lagii… wajah bersemangat itu terlihat pada siswa siswi dan juga para Guru. seperti kebiasaan setiap tahunnya, sekolah kami selalu mengadakan acara Halal Bi Halal, bersalam salaman antara siswa dan Guru, siswa dan siswa maupun Guru dan Guru. ini adalah moment pembentukan karakter. moment yang hebat. karena saat inilah kita harus menjadi nol kembali, memaafkan dan melupakan semua kejadian dalam bentuk gesekan dan sesuatu yang tidak Nyaman. karena itu, ini adalah momentum untuk merefleksikan diri bagaimana menjadi lebih baik kedepannya…

setelah acara halal bi halal itu, hari ini kami belum dapat melakukan proses belajar mengajar dengan baik karena ada rencana pembangunan ulang gedung sekolah, dan tentu saja ruang Guru yang menjadi target lahan untuk dibanguni bangunan baru harus dirobohkan. konsekuensi dari perobohan gedung itu adalah, ruang guru dipindahkan. proses pemindahan ini menguras banyak tenaga dan pikiran. seluruh siswa dilibatkan dalam “moving” ini

aku terkesan dengan anak anakku XE, aku bangga pada kalian, aku jatuh cinta pada semangat dan empati anak anak padaku. aku tidak berlebihan, ini terjadi, sejak hari sabtu, 25 agustus 2012 kemaren mereka sudah membantuku untuk pindahan. mereka bekerja tanpa Pamrih.

teruntuk anandaku di XE, anandaku XF 2011/2012, anandaku di OSIS, aku berterimakasih yang setulusnya padamu. terimakasih atas segala pengorbanan waktu dan tenagamu. ibu tidak dapat memberikan apapun kecuali doa dan restu semoga proses pembelajaran kalian berjalan mulus sampai tingkat yang kamu inginkan.

hal yang paling penting bagimu anakku adalah bekerja tanpa mengeluh, dalam kondisi ini, kita tidak bisa mempertanyakan keadilan, dimana keadilan? keadilan tidak ada, sebab ketika kalian bolak balik angkat barang, sebagian besar teman temanmu telah pulang, jikapun ada, mereka hanya menonton apa yang engkau kerjakan. itulah sebagian besar sifat manusia. mereka lupa menggunakan rasa, empati, ringan tangan dan ringan hati. jika mereka menggunakan rasa dan empatinya, mereka tidak akan berdiam diri melihat teman temannya sibuk.

sebagai seorang pendidik, ibu tidak pernah menyuruh ananda tanpa ibu terlibat untuk memberi contoh, ibu berupaya untuk terlibat langsung untuk membantu yang meskipun ibu sendiri sudah menyelesaikan bagian ibu pada sabtu lalu.

ohh…

Kali ini, aku setuju dengan beberapa pendapat pakar pendidikan, bahwa pendidikan telah gagal. pendidikan telah membawa anak anak cerdas dan memiliki intelektual yang tinggi tapi kosong dalam Buddhi, kosong dalam rasa, empati dan tanggung jawab.inilah kondisinya, kini inilah tanggung jawabku sebagai pendidik, aku tidak ingin hanya mengajar, aku ingin mendidik. sejujurnya, aku berlinang air mata menulis ini, bukan karena hal hal atau perbuatan orang lain terhadapku, sebab aku merasa orang lain tidak pernah menyakitiku… tetapi karena kegagalan mengajarku. aku tidak melihat cinta di hati mereka yang dengan sangat ringan meninggalkan sekolah tanpa beban sementara proses moving sedang berjalan.

ohh…

untunglah ananda yang masih memiliki cinta yang besar masih siap membantu dengan hati yang gembira. terimakasih telah menyemangatiku nak…

inilah perenunganku…

jangan menunggu orang lain untuk berubah, berubahlah dari diri sendiri

upayakan untuk tidak melihat kekurangan orang lain, lihatlah kebaikannya saja.

salam peace, Love and Harmony

warm Regard…

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Catatan Senin yang Indah

  1. sanbudinatha berkata:

    Jadi teringat sebuah kisah…
    Alkisah seorang murid menulis surat kepada gurunya yang ada di pulau seberang. Sang murid menyampaikan di dalam surat bahwa dia telah berhasil mengatasi goncangan angin dari 8 penjuru. 8 angin yang dimaksud adalah 8 kondisi yang sering terjadi dalam kehidupan, yaitu pujian dan cercaan, popularitas dan nama buruk, keamanan dan bahaya, berkah dan musibah.

    Setelah membaca surat dari sang murid, Guru mengambil secari kertas dan pena untuk membuat surat balasan. Tidak butuh waktu lama bagi Sang Guru untuk menulis satu kata dalam surat balasan itu, yakni “Kentut (Pembohong)”. Kemudian surat itu dikirimkan kembali kepada muridnya.

    Membaca surat balasan dari sang Guru, si murid pun tidak terima. Dia merasa bahwa perlu datang ke padepokan sang Guru untuk menjelaskan dan memberikan argumen bahwa dia tidak berbohong. Dengan semangat membara sang Murid mengayuh perahu menyeberangi sungai untuk menuju padepokan sang Guru. Sesampainya di depan pintu gerbang padepokan, wajah si Murid memerah, kemudian dia berbalik arah dan berjalan menuju sampan sambil tertunduk lesu. Si Murid kembali pulang ke rumah meninggalkan padepokan.

    Apa yang terjadi??ketika sampai di depan pintu gerbang, sang Murid membaca pesan yang ditempel di pintu gerbang. “Katanya sudah tidak tergoyahkan oleh 8 angin. Tapi baru membaca tulisan ‘Kentut’ saja kau sudah terguncang dan terpental hingga sampai kemari”….

    Si murid baru memahami sebatas teori saja, namun sang Guru menginginkan dia untuk mempraktekkannya secara langsung. Banyak dari kita yang hanya pandai berteori namun miskin dalam hal praktek. Kita sudah tau teorinya harus bersabar..tapi dicubit sedikit saja kita langsung bereaksi dan melupakan teori itu..kadang ketika dihadapkan langsung pada kenyataan kita lupa untuk mempraktekkan teori yang sudah kita ketahui itu..Akibatnya ya kita terpental ke sana kemari..tabrak sana tabrak sini…

    Semoga bermanfaat………….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s