Taksu seorang Guru

sebagai tenaga pendidik, sekiranya saya merasa bersemangat untuk menulis tentang guru yang memiliki Taksu, seorang guru yang ideal. setidaknya demikian bagi saya. seorang guru yang kata-katanya di dengar, dihormati, berwibawa, dan disayang oleh anak-anaknya. yang ketika ia hadir, mampu membuat suasana menjadi berbeda, yang dihormati bukan karena takut. yang memahami siswanya, yang mampu mensupport  siswanya. seorang guru yang bersedia belajar, menjadi pembelajar. begitu banyak syarat menjadi guru yang disebut profesional. namun saya ingin menulis tentang guru yang memiliki taksu

Kata taksu bagi sebagian masyarakat bali sudah sangat familiar. sangat dikenal. taksu adalah sebuah konsep yang penting dalam tradisi budaya bali yang tidak mudah dipahami apalagi di definisikan. Taksu adalah sebuah kekuatan atau energi atau kekuatan spiritual yang bersifat niskala, tidak nyata dan bukan bersifat materil. 

dalam bahasa jawa kuno (kawi), kata yang paling dekat dengan taksu adalah caksu,  caksuh, chaksur yang berarti mata, kemampuan untuk memahami, dan persepsi. kata diwyacaksuh dan dibyacaksua berarti memiliki kekuatan persepsi (Zoetmulder, 1982)

masyarakat bali memahami taksu dalam 2 arti abstrak dan konkret.  dalam arti abstrak : taksu berarti kekuatan spiritual yang mampu memberikan sumber inspirasi, daya kreatifitas dan kemampuan intelektualitas yang tidak habis2nya. dalam arti konkret taksu adalah sebuah tempat pemujaan untuk memohon energi/kekuatan spiritual. 

ada 3 hal yang menjadi pilar dari taksu yaitu body, mind, soul yang dapat disejajarkan dengan sabda bayu idep. 

sebagai seorang guru yang memiliki taksu, apakah seorang guru telah memiliki tubuh yang sehat, semangat yang tinggi. penampilan yang baik. rapi dan bersih

apakah seorang guru juga telah memiliki sabda yang baik. ucapan yang baik, memahami aturan2, memiliki etika yang baik, moral. 

lalu apakah guru sudah memiliki jiwa pendidik, jiwa pembelajar, mampu menghidupkan “api suci” di dalam dirinya, untuk menjadi suluh atau penerang bagi setiap siswanya. 

totalitaslah yang diperlukan. menjadi pelaku pendidikan yang mampu masuk ke dalam peran yang dibawakannya. 

saya sebagai pendidik percaya bahwa taksu itu datang dan dapat di capai dengan kerja keras, disiplin tinggi, dan kejujuran. 

mempertahankan satyam (kejujuran, kesungguhan), shivam (kesucian dan kemurnian), sundaram (keindahan) adalah taksu bagi seorang guru. 

sikap meremehkan, menggampangkan, boleh2 saja dan sikap “yang penting berjalan” adalah penghambat pertumbuhan taksu di dalam diri. 

tekun, jujur, bersemangat adalah bahan bakar untuk menyalakan “api” taksu di dalam diri

tulisan ini di buat sebagai bahan instropeksi diri. 

#reminder

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s