Bebaskan Diri dari Berbagai Rasa yang Membebani

yasmān nodvijate loko lokān nodvijate ca yah

harsāmarsa-bhayodvegair mukto yah sa ca me priyah

Bhagavad Gīta, 12.15

“Ia yang tidak menggelisahkan, mengganggu sesama makhluk: dan juga tidak merasa terganggu, tergelisahkan oleh siapa pun; bebas dari rasa kesenangan semu (yang diperoleh dari kenikmatan indra), rasa iri, khawatir, dan rasa takut – adalah sangat Ku-sayangi.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Jangankan manusia, ketika hewan di Rumah potong hewan atau di pasar merasa gelisah karena kehadiran kita, Karena kebiasaan kita mengkonsumsi mereka demi kenikmatan sesaat, maka kita bukanlah kesayangan-Nya.

Kita boleh menggunakan gelar dalam bahasa apa pun yang dapat diartikan sebagai “kesayangan-Nya” – tetapi tidak – kita tidak pernah menjadi kesayangan-Nya, selama masih menyebabkan kegelisahan dan penderitaan bagi sesama makhluk.

Sesungguhnya, menjadi kesayangan-Nya, berarti menjadi kesayangan “diri” kita sendiri. Seorang pemakan “bangkai hewan” yang biasa disebut “daging” sungguh tidak menyayangi “badan”nya. Ia sedang merusak badannya dengan mengonsumsi “daging”. Belum lagi dampak terhadap pikiran dan perasaannya; intelegensia dan kemampuan untuk memilah antara yang mulia dan yang sekadar menyenangkan.

Paham ahimsā atau tanpa kekerasan bukanlah “sekedar tidak membunuh”, tetapi “tidak menyakiti ” – tidak merugikan – bahkan tidak “menggelisahkan” sesama makhluk.

Paham ahimsā ini mesti di pakai secara betul dan komprehensif. Misalnya, menyangkut “diri” kita sendiri – ahimsā berarti, tidak menyakiti diri, tidak meracuni badan, tidak mengacaukan pikiran sendiri, tidak menimbulkan perasaan-perasaan yang membuat diri menjadi gelisah, khawatir, was-was, takut, iri, tersinggung, dan merasa Selalu disakiti oleh “orang lain”.

“Orang lain” itu tidak Ada. Yang “lain” itu pun hanyalah manifestasi dari Sang Pribadi Tunggal, Sang Jiwa Agung, sebagaimana “Diri Kita Sendiri”.

Jika kita “merasa” disakiti oleh orang lain, maka persoalannya mesti dipersempit dan dilihat dari perspektif yang benar. Adalah “perasaan” kita sendiri yang menggelisahkan diri kita. Berhenti mengurusi orang lain, urusi diri kita dulu. Urusi “perasaan” diri dulu. Keadaan di luar mesti dihadapi. Seperti halnya pekarangan Rumah yang berdebu mesti di sapu, dibersihkan – tetapi untuk itu mesti Ada sapu di tangan kita. Kita tidak bisa membersihkan pekarangan dengan pedang dan senapan. Mari membersihkan pekarangan Rumah Jiwa yang kotor dengan hati ringan, dengan penuh keceriaan. Kita tidak bisa membersihkannya dengan rasa berat, terbebani dan tidak enak.

Para pejagal di luar adalah orang-orang bodoh yang tidak Sadar bila “profesi” mereka, pada akhirnya akan merugikan mereka sendiri. Para pejagal Ada dimana-mana, Bukan di Rumah potong hewan saja. Mereka Ada di tengah pasar dunia, sibuk menjagal dengan berbagai cara. Mereka dapat ditemukan dalam setiap profesi. Mereka berjas, berdasi, berpakaian rapi. Kadang sulit mengenal mereka.

Mereka bodoh adanya, dan orang bodoh itu seperti langkah kita sendiri yang kadang salah, kaki kita yang kadang secara tidak sengaja menginjak najis, kotoran. Lalu apa yang kita lakukan? Bersihkan kaki. Tidak perlu membenci kaki, tidak perlu mencaci kotoran. Tindakan yang tepat hanya satu – membersihkan kaki yang kotor.

Tentunya, kotoran pun mesti dibiarkan larut bersama air bersih yang kita gunakan. Tidak perlu eman-eman, atau mengasihani “kotoran”. Kotoran bukanlah sesuatu yang “berguna” bagi kita.

Kotoran, barangkali “berguna” bagi “cacing” – itu makanan mereka. Ya, kotoran yang kita buang dan biarkan larut itu menjadi Makan siang atau Makan malam bagi cacing-cacing di selokan, tikus dan hewan lainnya. Tidak perlu membenci kotoran, tetapi juga tidak perlu di pelihara. Biarlah Sang Jiwa Agung di dalam cacing-cacing dan tikus-tikus itu menikmatinya. Ingat, kita semua adalah percikan-Nya. Tikus dan cacing pun hidup Karena kehadiran-Nya di dalam diri mereka.

Bebas dari berbagai rasa yang membebani… seperti rasa iri, kekhawatiran, dan kesenangan semu yang diperoleh dari kenikmatan indra dan kenyamanan materi. Dan lagi-lagi Krsna mengingatkan bila seorang panembah bebas dari rasa takut.

Rasa takut adalah “sebab utama” kelahiran kita di dunia ini. Selama hampir 10 bulan dalam rahim ibu, di mana 2-3 bulan terakhir Jiwa sudah sepenuhnya mengidentifikasikan dirinya dengan rahim yang mengandungnya – kita mengalami rasa takut. Takut sepi, sendiri – maka “terjadilah” kelahiran. Tidak semua, tetapi banyak kasus keguguran terjadi ketika Jiwa “tidak merasa takut” dan kemudian “kelahiran” menjadi tidak penting lagi.

Persis seperti itu, Jika selagi masih hidup kita terbebaskan dari rasa takut – maka bebaslah kita dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 17/12/2017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 587-589

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s