Sifat Seorang Panembah: Memahami Keinginan

Anapeksah śucir daksa udāsīno gata-vyathah

Sarvārambha-parityāgī yo mad-bhaktah sa me priyah

Bhagavad Gīta, 12.16

“Ia yang tidak menginginkan sesuatu, berhati Suci tanpa kemunafikan; cerdas, cermat – penuh kebijaksanaan, bebas dari keberpihakan dan kegelisahan – seorang panembah yang berkarya tanpa ke’-aku’-an seperti itulah yang sangat Ku-sayangi.”

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Keinginan muncul dari pikiran yang serba terbatas. Keinginan adalah buah persepsi manusia berdasarkan keadaan sesaat. Dalam keadaan tertentu kita menginginkan sesuatu. Namun, Tak lama kemudian keadaan berubah – dan Kendati kita telah memiliki, telah memperoleh apa yang diinginkan, tetap saja kita tidak puas, tidak bahagia.

Ketika masih Muda, “pacaran” dan “pacar” Ada dua Hal yang seolah-olah menjadi segala-galanya. Demi apa yang kita anggap “cinta”, kita rela mengorbankan segala-galanya. Keduanya berada di urutan teratas daftar prioritas kita. Keinginan kita.

Ketika pacar sudah menjadi pendamping, timbullah rasa kecewa. Ternyata, cinta tempo doeloe sudah berubah, entah menjadi apa. Pacar yang Sama, tetapi sudah berubah peran Sebagai “pendamping” tidak lagi membahagiakan seperti tempo doeloe. Malah menyebabkan kegelisahan dan kekecewaan.

Seorang panembah menyadari hal ini – maka, Ia berupaya untuk melampaui keinginan-keinginan seperti itu.

Bukan Sekadar membersihkan badannya setiap hari. Seorang panembah juga menjaga kebersihan hati. Inilah pertanda seorang panembah yang bijak. Inilah kebijakan yang membuat seorang panembah senantiasa manunggal dalam kesadaran Ilahi.

Ia tidak terpengaruh oleh keadaan-keadaan di luar diri, yang senantiasa berubah. Ia tidak pilih Kasih, bebas dari dualitas favorit dan tidak-favorit. Ia melewati semua pengalaman tanpa terikat dengan satu pun.

Seseorang mengindolakan Gandhi – saat itu ia baru mengenal Gandhi sebagai pelopor ahimsā – perjuangan tanpa kekerasan. Namun, ketika ia menyelami kehidupan Gandhi dan mulai mengenal sisi lain dari sosok Gandhi, khususnya yang terkait dengan spiritualitas ala Gandhi, maka ia “kecewa” – kok begini yah!

Dari idola, Gandhi Sekarang menjadi objek kritikannya. Termasuk sisi ahimsā Gandhi yang sebelumnya diagung-agungkannya memudar. Dari santo, Gandhi menjadi setan baginya.

Banyak orang yang sebelumnya mengidolakan seorang artis sekaliber Michael Jackson pun terpengaruh oleh publisitas miring oleh media. Dan MJ pun berubah menjadi momok bagi mereka. Favoritism kita ditentukan oleh publisitas, oleh penilaian di luar, dan oleh persepsi kita terhadap apa yang disajikan itu. Kita tidak menggunakan fakultas kesadaran saat menentukan favorit dan tidak favorit, hanyalah pikiran kita yang berjalan. Kemudian pikiran itu pula mengecewakan kita. Yang Demikian itu bukanlah sifat seorang panembah.

Yang terakhir dalam ayat ini adalah tentang Ke-“aku”-an terkait dengan doership – aku telah berbuat ini, aku telah berbuat itu. Aku telah melakukan ini, aku telah melakukan itu.

Seorang panembah Sadar bila badan dan indra yang melakukan sesuatu hanyalah alat. Alat badan tidak akan pernah Bergerak jika tidak digerakkan oleh otak. Otak adalah komandan badan. Sebab itu ketika otak mengalami gangguan, Apalagi stroke, badan sulit digerakkan, atau sulit diatur gerakannya.

Otak sendiri bukanlah segala-galanya. Ia digerakkan oleh mind. Dan mind yang memberi kesan “aku” pun, sebenarnya hanyalah salah satu gelombang di dalam lautan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.

Reasoning seperti ini, analisis seperti ini, pembedahan seperti ini, mesti dilakukan Purna-waktu oleh seorang panembah. Ia mesti Selalu mengingat-ingatkan dirinya, bila Sang Jiwa Agung yang sesungguhnya Maha Menggerakkan, Maha Berbuat. Aku kecil ini, aku-“ku”, dan aku-“mu” hanyalah ikan-ikan kecil, gelombang-gelombang di dalam lautan Sang Aku Agung.

Kesadaran seperti ini mengantar kita pada Penyerahan diri dimana kita Sadar sesadar-sadarnya bila Hyang Maha Ada hanyalah Dia. Dialah Segala-galanya. Dialah semua. Seorang panembah berkesadaran seperti itulah yang disayangi Krsna. Seorang panembah seperti itulah yang bertindak sesuai dengan kodratnya.

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bontang, 18/12/2017 – MA

Ditulis ulang dari Buku Bhagavad Gīta oleh AK Hal 589-590

Iklan

Tentang Ni Made Adnyani

Aku suka Menulis, aktifitas Mengajar dan Yoga
Pos ini dipublikasikan di My Life Note. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s